Tampilkan postingan dengan label adilkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adilkah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 September 2017

POKOKNYA ISLAM HARUS KALAH

oleh: Emha Ainun Najib

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas.

Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas (asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam) harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru “wajar” namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”

Lho kok Arab bukan etnis? Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradaban yang fasiq dan penuh dhonn (prasangka buruk) kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

“Al-Islamu mahjubun bil-muslimin”, Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.

[Di luaran sana Islam minoritas di mayoritas non muslim dikerdilkan, diserang, dan tidak dianggap tapi kalau non muslim hidup di mayoritas muslim tidak pernah ada pengusiran, tidak diserang kayak kejadian di Myanmar, tetep damai jadi kalian yang jadi minoritas di mayoritas Islam sadarlah. Inilah salah satu bukti toleransi kami sebagai muslim ke minoritas, sayangnya hanya sedikit minoritas yang faham hal ini.

Jumat, 18 Agustus 2017

POLITIK GADUH PENGALIHAN FOKUS TERHADAP TAIPAN

Coba simak, Politik Gaduh ini memang sengaja dibuat. Gunanya apa? pengalihan fokus kita terhadap sepak terjang Taipan kapitalis yang kini tengah merampok negeri kita. Makar tetap berlanjut tanpa kita tahu harus berbuat apa ... karena mereka sangat mudah melemparkan tuduhan makar atas siapa saja yang berusaha menghentikan kegaduhan ini semua ... !!!

Kalau CINA KORUP dan menindas pribumi itu biasa. Kalau pribumi menentang korupsi dan penindasan Cina itu SARA !

Rezim Cina penindas menggunakan cara-cara kolonial Belanda untuk meredam perlawanan Rakyat Pribumi, Belanda menjuluki rakyat pribumi yang melawan Penjajahan sebagai ekstrimis dan pengacau. Kalau Rezim Cina menuduh rakyat pribumi Yang Menentang Disebutnya RASIS / SARA,

Siapa Sebenarnya Yang Rasis?

• Kolonial Belanda mengadu domba rakyat Pribumi dengan memecah-belah, menyuap sebagian pribumi. Rezim Cina juga sama. Bahkan dibantu opini media, Perlakuan rasis/ sara di hampir semua perusahan Cina adalah biasa. Pribumi yang menentangnya dicap SARA/ RASIS. Adilkah ini?

• 99% bandar narkoba perusak generasi muda Pribumi adalah orang CINA. Yang ditangkap dan dihukum berat pengedar teri dan pengguna yang 99% Rakyat Pribumi. Adilkah?

• Koruptor BLBI merugikan 700 triliun 99% adalah bankir CINA dan tidak disentuh hukum 99.99% korban korupsi BLBI rakyat Pribumi.
Rasiskah ?

• 99.99% pelaku transfer pricing yang merugikan negara puluhan triliun rupiah/ tahun adalah orang cina. Korbannya 100% rakyat indonesia. Rasiskah ?

• 99% bandar judi online, togel, dan sebagainya adalah orang cina. Pemain judi yang menjadi korban judi online dan togel 99% adalah pribumi. Rasiskah ?

• Pemilik karaoke, diskotek, bar, cafe, prostitusi di kawasan Kota perusak moral adalah cina. > 60% konsumennya adalah pribumi Rasiskah ?

• 90% pelaku suap ke pejabat-pejabat RI adalah cina. 99% koruptor yang ditangkap adalah pribumi. Rakyat menggugat diskiriminasi KPK. Rasiskah ?

• 99% perusak hutan dan lingkungan Indonesia adalah Cina. Korbannya adalah rakyat dan negara Indonesia. Rakyat memprotesnya. Rasiskah ?

• 90% pemilik HPH dan perkebunan swasta besar penguasa 9 juta hektar tanah Indonesia adalah Cina. Rakyat protes gigit jari. Rasiskah ?

• 90% perusak negara ini dari dulu hingga hari ini adalah orang cina seperti Ahok dan sejenisnya. Pribumi bangkit melawan cina. Rasiskah ?

• 90% pemilik Media Televisi penghancur karakter bangsa adalah orang Cina. Rakyat pribumi menggugatnya. Rasiskah ?

• Penyebar budaya suap/ korupsi di Indonesia adalah orang cina Suap/ korupsi adalah budaya cina ribuan tahun Pribumi jadi korbannya. Sara ?

Wahai penguasa yang masih waras otaknya Wahai penguasa piaraan penjilat cina Inilah suara pribumi tertindas untuk orang-orang CINA, Ahok dan sejenisnya ! Negeri ini milik pribumi Merdeka dengan Bertaruhkan darah nyawa Dan air mata ! pribumi Tak rela dirampok cina korup arogan penindas rasis Lawan !

Mari Kita Uji, Pribumi Atau Etnis Cina Yang Lebih Rasis

1. Apakah ada pribumi yang marah atau menuduh kwik kian gie sebagai koruptor dan rasis? Tidak ada !
2. Apakah ada pribumi yang tidak mengagumi Rudi Hartono atau Liem Swie King ? Tidak ada !
3. Adakah pribumi yang memaki maki Alvin Lie atau Sofyan Tan ? Tidak ada !
4. Apakah ada pribumi yang membenci Felix Siauw ? Tidak ada !
5. Coba lihat Salim Grup, Sinar Mas Grup, apalagi Gemala Grup. Salim, Eka Tijpta, Yusuf Wanandi sangat rasis pada pribumi Apakah ada pribumi menuduh Teddy Permadi Rahamat rasis ? Tidak ada !
6. Pemilik Salim, Gemala, Sinarmas Grup sejak berdiri sampai hari ini TIDAK memperlakukan sama pribumi dan non pribumi, Ini Yang Sebetulnya Sangat rasis !
Beda dengan ASTRA Grup, tidak ada pribumi apalagi Islam jadi General Manager, Kadiv, VIP terlebih direksi di Sinarmas, Salim, Gemala Grup dan Lain-lain.

Kesimpulannya, pribumi sebagai mayoritas menerima sepenuhnya orang cina menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Tapi mayoritas cina sebaliknya !

Salahkah Bila Pribumi melawan penindasan ?

Bung Hatta Pernah Bilang : Lebih Baik Indonesia Tenggelam Ke Dasar Lautan Dari Pada Jadi Embel-embel Bangsa Lain !!!
-------------
Silahkan dishare sebanyak-banyaknya, agar banyak yang tau dan sadar, negeri ini sudah dipecundangi di kuasai oleh mafia keturunan China bersekongkol dengan penghiyanat pejabat (bumi putera)/ pribumi.

Artikel ini dishare juga di channel telegram :
• http://telegram.dog/amar_maruf_nahi_munkar
• http://telegram.dog/selamatkan_indonesia