Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 September 2017

ASAL USUL NAMA DAERAH DI JAKARTA

Nama-nama daerah di Jakarta ternyata ada kepanjangannya :

1. Kelapa gading  👉 kenalan lama gagal bersanding 😃
2. Kebayoran  👉 Kebayang kamu seorang 😜
3. Kalibata  👉 kali-kali aja bisa cinta 😍
4. Tanah Abang  👉 Takkan pernah aku bilang sayang 😱
5. Bintaro  👉 Biar nakal tapi romantis 💑
6. Pejaten  👉 perasaan jadian ternyata cuma temen 😜
7. Ragunan  👉 Ragu dalam penantian 😳
8. Slipi  👉 selingkuhan pilihan 🙊
9. Mampang  👉 Mau marah tapi sayang 😘
10.  Jagakarsa  👉 jangan galau kalau terasa sayang 👫
11. Gambir  👉 Gagal move on njiir 😱😜
12. Duren sawit  👉 Duda keren sarang duit 👍
13. Pancoran  👉 pacaran terus kapan lamaran 😀
14. Kuningan  👉 ku tunggu kau di tikungan🙋
15. Cilandak 👉 Cinta lama datang mendadak 😀          
16. Ciledug😘cintaku lebih dag dig dug😀😀

Sejarah Nama Nama daerah Jakarta

Jakarta merupakan Ibu Kota yang punya banyak Cerita , Legenda , Dan masih banyak Menyimpan Rahasia. Salah satu nya tentang sejarah nama daerah-daerah berikut ini :

1. Glodok
Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.

2. Kwitang
Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwitang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang.

3. Senayan
Dulu daerah Senayan adalah milik seseorang yang bernama Wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik wangsanayan. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.

4. Menteng
Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda maka daerah itu disebut Menteng.

5. Karet Tengsin.
Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin.

6. Kebayoran
Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu bayur”. Kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatannya serta tahan terhadap rayap.

7. Lebak Bulus
Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah dan dulu di kali Grogol dan kali Pesanggrahan- dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus.

8. Kebagusan
Nama kebagusan, daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden Megawati, berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu, ia akhirnya memilih bunuh diri. Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus.

9. Ragunan
Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang disandang tuan tanah pertama kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

10. Pasar Rumput
Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di lokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit Menteng. Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk Menteng memelihara kuda.

11. Paal Meriam
Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia, mengambil daerah itu untuk meletakkan meriam yang sudah siap ditembakkan. Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan).

12. Cawang
Dulu, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.

13. Pondok Gede
Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan Onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada di lokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya “Pondok Gede”.

14. Condet Batu Ampar dan Balekambang
Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan di atas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Ciliwung. Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran Tenggara, dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu. Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu disebut Balekambang.

15. Buncit
dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yang terkenal.

16. Bangka
dulunya di sana banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yang dibuang di kali krukut.

17. Cilandak
konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa.

18. Tegal Parang
di sana banyak ditemukan alang-alang tinggi (tegalan) yang dipotong dengan parang (golok).

19. Blok A/M/S
dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yang ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yang tersisa tinggal 3 blok doang.

20. Kampung Ambon.
Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon.

Kamis, 14 September 2017

TEORI ASAL MUASAL NAMA GAJAH MADA

Gajah Mada mendadak ramai diperbincangkan khalayak luas. Pemicunya adalah penafsiran lain dari sejarah patih Majapahit yang legendaris itu. Jadi heboh di media sosial, mencuat pendapat bahwa Gajah Mada adalah Gaj Ahmada yang beragam Islam.

Di luar isu tersebut, sebelumnya secara umum di kalangan masyarakat Indonesia, Gajah Mada dikenal sebagai patih terbesar Kerajaan Majapahit, kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang terbesar pada abad ke-14 hingga ke-15. Kontroversi tentang sosok Mahapatih Majapahit Gajah Mada seolah tidak pernah mereda. Baru-baru ini sebagian pihak memperdebatkan identitas Gajah Mada, apakah Gajah Mada itu Muslim atau bukan.

Majapahit dan Gajah Mada begitu dikenal luas. Majapahit adalah kerajaan besar yang menyatukan Nusantara, sementara Gajah Mada adalah patih kerajaan Majapahit dengan sumpahnya yang terkenal, sumpah Palapa, sumpah yang dimaksudkan untuk menyatukan Nusantara pula.

Peran Gajah Mada ditonjolkan Muhamad Yamin melalu buku Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara yang terbit pertama kali pada 1945 dan telah dicetak ulang belasan kali. Buku itu mengisahkan kisah kepahlawanan Gajah Mada sebagai patih Kerajaan Majapahit. Dalam buku tersebut, Yamin menampilkan foto sekeping terakota yang mewujud wajah lelaki berpipi tembem dan berbibir tebal. Di bawah foto sosok itu, Yamin menuliskan, "Gajah Mada... Rupanya penuh dengan kegiatan yang maha tangkas dan air mukanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh."

Hasan Djafar, arkeolog dan ahli sejarah kuno dari Universitas Indonesia, menyebutkan kepingan terakota itu ada di Museum Trowulan dan sejatinya merupakan bagian dari celengan kuno. Kepingan itu, dalam keterangannya yang ditulis kembali, Selasa 20 Juni 2017, tidak ada kaitannya dengan Gajah Mada.
Di bawah ini adalah beberapa fakta perihal Gajah Mada berdasarkan buku Agus Aris Munandar berjudul Gajah Mada: Biografi Politik (2010).

1. Mitos kelahiran Gajah Mada

Kisah kelahiran Gajah Mada penuh dengan mitos untuk melegitimasi kedudukannya sebagai orang besar. Kitab Usana Jawa menyebutkan Gajah Mada lahir begitu saja dari buah kelapa.

Di lain pihak, Babad Gajah Mada mengatakan Gajah Mada merupakan anak dari Dewa Brahma—salah satu dari tiga dewa utama kaum Hindu—dengan istri seorang pendeta muda bernama Mpu Sura Dharma Yogi. Setelah dewasa, Gajah Mada diambil oleh Mahapatih Majapahit untuk mengabdi kepada raja.

Kisah-kisah yang berbau supranatural ini jamak tercatat dalam babad-babad tanah Jawa dengan tujuan kelahiran Gajah Mada sudah direstui kekuatan adi kodrati. Dengan kata lain, proses kelahirannya sudah menandakan Gajah Mada ditakdirkan menjadi orang yang terkenal atau disegani.

2. Gajah Mada bukan nama asli

Babad Arung Bondan menyatakan Gajah Mada adalah anak seorang patih Majapahit. Agus Aris Munandar menduga Gajah Mada merupakan anak Gajah Pagon, pengawal setia Raden Wijaya, raja pertama Majapahit yang membuka Hutan Tarik sebagai cikal bakal kerajaan.

Kitab Pararaton menyebut kedua orang itu berwatak sama, yakni pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya, dan berperilaku seperti hewan gajah yang dapat mengadang semua penghalang.

Kata "gajah" mengacu pada hewan yang dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai vahana (hewan tunggangan) Dewa Indra. Gajah milik Indra dinamai Airavata. Sementara “mada” dalam bahasa Jawa Kuno berarti ‘mabuk’.

Maka, bisa dibayangkan jika seekor gajah tengah mabuk, ia akan berjalan seenaknya, beringas, dan menerabas segala rintangan. Sepertinya itu nama yang cocok dan sudah dipikirkan betul-betul sebelum diberikan kepada Gajah Mada.

3. Gajah Mada dan Pasukan Bhayangkara

Seperti kebiasaan masyarakat Hindu, seorang anak akan dilepas untuk berguru kira-kira 12 tahun lamanya. Setelah itu, ia akan mengabdikan dirinya untuk raja dan masyarakat.
Gajah Mada yang sudah dibekali ilmu kewiraan bertugas dalam satuan khusus pengawal raja. Pasukan ini dinamai Bhayangkara, dari bahasa Sansekerta yang berarti “hebat dan menakutkan”.

Istilah itu termaktub dalam dua kata Jawa kuno, yakni bhaya yang berarti ‘bahaya, atau berbahaya, menakutkan,’ sementara angkara dari kata ahangkara yang berarti ‘aku’ atau ‘kami’. Maka istilah bhayangkara dapat diartikan sebagai ‘kami [yang] menakutkan’.

Dalam pasukan Bhayangkara inilah pengabdian dan prestasi Gajah Mada dibangun untuk menjaga Kerajaan Majapahit. Pararaton menyebut Gajah Mada mengiringi Raja Jayanegara mengungsi ke Desa Badander saat terjadi pemberontakan oleh Kuti. Menariknya, saat Jayanegara dibunuh oleh tabib Tanca, Gajah Mada diisukan mengatur pembunuhan itu. Konon, ia tak suka pada kelakuan Raja Jayanegara yang sudah melanggar perundang-undangan kerajaan lantaran menggauli istri orang. Perbuatan tersebut adalah hal yang nista karena dalam kitab Kutaramanawardharmasastra disebutkan hukuman bagi orang yang mengganggu perempuan yang telah bersuami cukup berat.

Pendekatan dalam meng-identifikasi seseorang sangat banyak caranya, salah satunya adalah melalui penafsiran makna dari nama sang tokoh. Seorang bernama Sunarto sangat mungkin berasal dari etnis jawa, dan yang bernama Umar, besar kemungkinan beragama Islam.

Pendekatan nama “Gajah Mada”

Apabila kita artikan, makna kata “Mada” dalam bahasa jawa berarti mabuk. Jadi secara literal, arti dari Gajah Mada adalah Gajah Mabuk. Penamaan seseorang sebagai Gajah Mabuk tentu sangat janggal dan aneh.

Maja adalah nama sebuah pohon, disebut juga wilwa, sebuah pohon yang berhubungan dengan Siwa Puja. Pada malam Siwaratri dibuat berbagai bentuk upakara dari daun maja, dan pemujaan kepada Siwa juga bersaranakan daun maja. Kakawin Siwaratrikalpa menyuratkan :
semining majarja sulasih nanekaraning angarcane sira (pucuk daun maja yang indah serta bunga selasih sebagai sarana menyembah Dewa Siwa).

Mada sebenarnya berarti mabuk, namun mengapa sang patih memakai nama Gajah Mada? Adakah nama ini sebuah kiasan, bahwa sang patih akan menggunakan semua kekuatannya untuk menyatukan Nusantara?

Mpu Prapanca di dalam kakawin Nagarakretagama ada menyuratkan sebagai berikut: "wetan lor kuwu sang gajahmada patih ring tiktawilwadika; mantri wira wicaksaneng naya matangwan satya bhaktyaprabhu; wagmi wak padu sarjjawopasama dihotsaha tan lalana; raja dyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawarttin jagat". (Di sebelah timur laut adalah ramah patih Majapahit bernama Gajah Mada; beliau adalah ksatria yang pemberani, bijaksana, setia dan bhakti kepada negara; beliau pasih berbicara, teguh dan tangkas, tenang dan tegas, pandai lagi jujur; beliau adalah tangan kanan sang Maharaja sebagai penggerak roda pemerintahan). Demikian Mpu Prapanca melukiskan posisi rumah sang mahapatih ditengah kota Majapahit sekaligus dengan karakter dan keluhuran budinya.

Pada bagian lain Mpu Prapanca yang memang bermaksud menguraikan kebesaran kerajaan Majapahit juga menyuratkan secara khusus kepergian sang mahapatih. Prapanca menulis sebagai berikut : "Pada tahun Saka 1253 (1331 M) Gajah Mada mulai memikul tanggung jawab sebagai mahapatih; dan pada tahun Saka 1286 (1364 M) beliau mangkat, yang menyebabkan Sang Raja gundah, terharu bahkan putus asa; sungguh kebesaran jiwa Sang Gajah Mada, beliau cinta kepada sesama tanpa pandang bulu; beliau sungguh sadar hidup ini tidak abadi oleh karena itu beliau setiap hari melakukan amal kebajikan."

Digambarkan pula bahwa sepeninggal Gajah Mada, Sang Raja tidak mencari penggantinya. Sang Raja menyatakan tanggung jawab atas keputusan itu. Hal ini menandakan bahwa betapa beratnya mencari pengganti Gajah Mada, untuk menjadi patih disebuah kerajaan besar seperti Majapahit. Maka nama Mada, sebuah nama besar tak tergantikan di sebuah negeri yang mengambil nama Maja.

Demikianlah Gajah Mada begitu tersohor diseluruh Nusantara.
Oleh karenanya sebagian pihak beranggapan nama “Gajah Mada” adalah kiasan, yang berarti seseorang yang pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah dan menerabas segala rintangan.

Namun pemaknaan “Gajah Mada” tidak hanya satu. Dalam versi yang lain, istilah Mada kemungkinan berasal dari kata “Mahamada atau Ahmada” , kata “Mahamada atau Ahmada”, merujuk kepada nama Nabi Muhammad, yaitu Ahmad dan Muhammad.

Sementara istilah “Gajah” merupakan penggambaran dari tahun kelahiran Nabi Muhammad, yaitu tahun Gajah. Dengan demikian arti dari nama “Gajah Mada” atau “Gajah Mahamada”, adalah personifikasi dari sosok Nabi Muhammad yang dilahirkan pada tahun Gajah.

Beberapa waktu terakhir, media sosial dihebohkan dengan nama dan sejarah Patih Kerajaan Majapahit Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada. Perbedaan pendapat juga mencuat terkait Kerajaan Majapahit yang merupakan kesultanan dan Patih Gajah Mada yang beragama Islam. Informasi itu didasarkan pada penelitian dan kajian yang kemudian dijadikan buku dengan judul Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi. Buku tersebut diterbitkan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta.

Buku yang dikeluarkan waktu itu dengan yang beredar saat ini dan viral di media sosial jelas berbeda. Buku yang diterbitkan oleh LKPP bukanlah Gaj Ahmada, tetapi sosok bernama Gajah Ahmada atau dikenal pula dengan nama Syekh Mada. Kesalahan penulisan nama itu, akibat ketidaktahuan editor dalam penulisan sastra Jawa dan Sansekerta. Buku itu diterbitkan pada 2010 sebanyak 1.000 eksemplar untuk untuk kalangan sendiri. Itu orang yang tidak tahu sastra Jawa dan Sansekerta. Pasti orang yang enggak tahu (bahasa) Jawa.
WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi
1. Kanzunqalam.com link https://kanzunqalam.com/2017/06/24/teori-asal-muasal-nama-gajah-mada-antara-gajah-mabuk-atau-gajah-mahamada/
2. Phdi.or.id link http://phdi.or.id/artikel/maja-dan-mada
3. M.Liputan6 link http://regional.liputan6.com/read/2997513/fakta-dan-mitos-tentang-gajah-mada-si-gajah-mabuk
4. Muhamad Yamin, Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara, 1945.
5.Agus Aris Munandar, Gajah Mada: Biografi Politik, 2010
6. stephen-knapp.com  link http://www.stephen-knapp.com/mohammed_is_he_really_predicted_in_bhavishya_purana.htm
7. Hendrajailani.blogspot link https://hendrajailani.blogspot.co.id/2015/07/betemu-patih-gajah-mada-di-gunung-ibul.html
8. M.Liputan6 link http://m.liputan6.com/news/read/2997214/penjelasan-muhammadiyah-soal-gajah-mada-dan-gaj-ahmada
9. Hangnohartono.blogspot link http://hangnohartono.blogspot.co.id/2010/02/kesultanan-majapahit.html
10. Dedenheryana.blogspot link http://dedenheryana.blogspot.co.id/2017/09/kesultanan-majapahit-realitas-sejarah.html?m=0