Tampilkan postingan dengan label kekejaman pki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekejaman pki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

DETIK DETK WAFATNYA ADE IRMA SURYANI NASUTION

6 OKTOBER 1965 suasana di paviliun anak Di RSPAD Gatot Soebroto sore itu ramai.... Namun suasana sangat hening, terlihat banyak tentara berjaga, baik di luar paviliun maupun di dalam.

Beberapa jam yang lalu, operasi ke 4 kalinya dilakukan pada Ade Irma Suryani Nasution.... Ya operasi itu harus dilakukan berulang beberapa kali ! Untuk membersihkan sisa peluru yang masih tertinggal di dalam badan bocah kecil itu. Semua operasi dilakukan oleh Brigjen Dokter Arie Sadhewo.

Jujur sang dokter tentara sangat heran dengan kekuatan badan dari anak Pak Nasution ini. Sebab biasanya orang dewasa saja terkena pecahan peluru senjata kaliber besar macam AK47 akan sulit bisa bertahan. Namun ini sudah 5 hari setelah tertembak, anak kecil ini sangat kuat bertahan.

Jendral Nasution dan Ibu, beberapa kali menunggu di samping sang buah hati. Berharap kesembuhan sang putri, begitu pula, sang kakak mereka menahan tangis.

Operasi baru saja selesai jam 17.00, Ade Irma Suryani terlihat masih memejamkan mata mungkin karena masih lemas.

Ketika tim dokter sudah memperbolehkan menjenguk. anak sulung Pak Nasution, segera masuk ke kamar sang adik Hendriyanti sang kakak menangis, menatap wajah lemah adik kecilnya yang masih menutup mata.

nafas sang adik lembut turun naik, terlihat dari tubuhnya yang kecil. Tiba-tiba...
Kakak Jangan Menangis, Adik Sehat"
Hendriyanti hanya menahan tangis sembari melihat adiknya yang tiba-tiba bangun.

Mata Ade Irma menoleh ke mama mereka... Ibu Nasution yang juga berada di ruangan itu.
" Kenapa Ayah Mau Dibunuh Mama?"
Tanya gadis kecil itu pada sang mama.. Ibu Nasution Terhenyak, anak sekecil itu malah memikirkan ayahnya... belum sempat Bu Nasution menjawab… sang putri kembali menutup mata.

Sembari menahan tangis, Ibu Nasution membisikan kalimat ke telinga Ade Irma Suryani...
"Mama Ikhlas Ade Pergi"
Sembari mengucurkan air mata, sang ibu melihat penderitaan sang anak yang menahan sakit.

Pukul 20.00 Ade Irma Suryani Nasution Wafat, Di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

- Dipetik Dari : Kisah Hendriyanti Sahara Jane Nasution

Rabu, 20 September 2017

SAKSI MATA KEKEJAMAN PKI

SBY: Pemerintah Harus Punya Sikap yang Jelas Terkait PKI
SBY Minta Jokowi Tegas Hadapi Isu PKI
SBY: Kudeta PKI Bukan Fiksi!

Menhan Ryamizard Sebut Jateng Daerah Paling Banyak PKI
Seorang saksi mata kekejaman PKI bernama Kiai Haji Khoirun (93 tahun)mengungkapkan kekejaman Komunis terhadap Umat Islam di masanya.

Ayah kandung Khoirun adalah satu dari korban pembunuhan massal yang dilakukan PKI pada 1948. PKI dengan cara licik menjebak dan mengelabui para tokoh masyarakat, kiai, dan pejabat untuk dieksekusi secara kejam.

Pengalaman terburuk dia alami saat berperang di wilayah Banyuwangi. Khoirun mendapati kenyataan mengerikan, 43 warga Nahdatul Ulama (NU) diracun, dibantai, dan dimutilasi secara bersamaan. Upaya Khoirun mencari dan mengejar PKI pembunuh rekan-rekannya harus dibayar mahal.

Dalam perjalanan mengejar para pembunuh, ia dan sembilan rekannya terjerat dalam jebakan yang dipasang anggota PKI. Tak ada pilihan lain, kecuali melawan dan terlibat aksi saling bunuh dengan anggota PKI. Namun, karena kalah jumlah orang, perlawanan Khoirun dan rekan-rekannya terhenti.

Mereka yang ditawan, disiksa dan dibakar dalam tungku berbahan kulit gabah yang terus-menerus menyala. Seusai dibakar, tubuh 10 pejuang anti-PKI ini diseret ke suatu tempat yang jauh, dengan siksaan tiada henti dari anggota PKI yang kebetulan melintas di jalan.

Dalam kondisi sangat lemah, seluruh kulit tubuh terkelupas, Khoirun dan rekan-rekannya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan oleh PKI. Tubuh-tubuh tak berdaya itu dilemparkan ke lubang sedalam 12 meter. (khazanah)