Tampilkan postingan dengan label khatamun nabiyyin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khatamun nabiyyin. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 September 2017

KAJIAN ILMIAH MAKNA KHATAMMAN NABIYYIN

Lafadz خاتم dalam al Quran di sebutkan sebanyak 8 kali.
Lafadz-lafadz dalam al Quran penggunaannya adalah pilihan Allah. Ketika kita ingin mengetahui makna dari suatu lafadz maka kita wajib mengkaji dan membandingkan dengan ayat-ayat yang lain.

1. Q.S.2:7

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٧﴾

"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat."
(Q.S.2:7)

2. Q.S.6:46

قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ ٱللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَٰرَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم مَّنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ يَأْتِيكُم بِهِ ۗ ٱنظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ ٱلْءَايَٰتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ ﴿٤٦﴾

"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)."
(Q.S.6:46)

3. Q.S.45:23

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿٢٣﴾

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"
(Q.S.45:23)

4. Q.S.36:65

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ﴿٦٥﴾

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan."
(Q.S.36:65)

5. Q.S.42:24

أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ۖ فَإِن يَشَإِ ٱللَّهُ يَخْتِمْ عَلَىٰ قَلْبِكَ ۗ وَيَمْحُ ٱللَّهُ ٱلْبَٰطِلَ وَيُحِقُّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿٢٤﴾

"Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah". Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Quran). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati."
(Q.S.42:24)

6. Q.S.33:40

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(Q.S.33:40)

7. Q.S.83:26

خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ ﴿٢٦﴾

"laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba."
(Q.S.83:26)

8. Q.S.83:25

يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ ﴿٢٥﴾

"Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya),"
(Q.S.83:25)

Yang dipermasalahkan adalah yang ke enam yaitu ayat 40 Al Ahzab
خاتم

Dalam kaidah bahasa pengambilan makna dan perubahannya pasti diambil dari akar kata yaitu fiil madli atau masdar.
Kaum Ahmadi menulis bahwa lafadz خاتم adalah masdar, padahal kalau kita kaji dan kita cari bahwa wazan-wazan masdar untuk tsulasi mujarrad tidak ada yang berbentuk wazan faa'alun / فاعَل

Berikut daftar wazan-wazan masdar untuk tsulasi:

كَنَصْرٍ وعِلْمٍ، وشُغْلٍ، ورَحْمَةٍ، ونِشْدَةٍ وقُدْوَةٍ، ودَعْوَى، وذِكْرَى، وبُشْرَى، ولَيّانٍ وحِرْمانٍ، وغُفْرانٍ، وخَفَقانٍ، وطَلَبٍ، وخَنِقٍ، وصِغَرٍ، وهُدىً، وغَلَبَةٍ، وسَرِقَةٍ، وذَهابٍ، وإِيابٍ، وسُعالٍ، وزَهادَةٍ، ودِرايَةِ، وبُغايَةٍ، وكَراهِيَةٍ، ودُخولٍ، وقَبولٍ، وصهوبةٍ، وصَهيلٍ، وسُؤْدَدٍ، وجَبَروتٍ، وصَيْرُورَةٍ، وشَبيبَةٍ، وتَهْلُكَةٍ، ومَدْخَلٍ، ومَرْجِعٍ، ومَسْعاةٍ، ومَحْمَدٍ، ومَحْمِدَةٍ، "يُقالُ فيهِما أَيضاً مَحْمَدٌ ومَحْمَدَةٌ.

Di ambil dari kitab جامع الدروس

Kita lihat makna fiil madli dari خاتم dalam kamus, maka kita akan temukan: Mencap, menyetempel, menyegel, menutup, menamatkan, menyempurnakan dan menyelesaikan.

Ini adalah akar kata atau kata dasarnya. Untuk kata pindahan atau manqul dari akar kata kita jumpai:  cap, stempel, tutup, segel, perangko :
• Lak = ختام
• Di lak = مختوم
• Cincin= خاتَم = khaatamun

Dan seperti yang kita lihat semua bahwa setiap kata yang manqul/ dipindah dari ختم di sana pasti ada hubungan dengan arti menutup/ menamatkan/ melak/ menyegel/ menyempurnakan/ menyelesaikan.

• Untuk 'cincin' adakah ia berhubungan?
• Untuk cincin /خاتم / khatamun adakah ia berhubungan?
Seperti dalam hadist berikut :

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الرُّومِ قِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَنْ يَقْرَءُوا كِتَابَكَ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَخْتُومًا فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ وَنَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَكَأَنَّمَا أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي يَدِهِ

"Telah menceritakan kepada kami [Adam bin Abu Iyas] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qatadah] dari [Anas bin Malik] radliallahu 'anhu dia berkata; "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hendak menulis surat ke raja Romawi, maka diberitahukan kepada beliau; 'Sesungguhnya mereka tidak akan mau membaca surat anda karena tidak ada stempel.' Setelah itu beliau membuat cincin (stempel) yang terbuat dari perak dan mengukirnya dengan tulisan 'Muhammad Rasulullah' seakan-akan saya melihat putihnya (cahaya) dari tangan beliau."
Bukhari no 5426

Jawabannya:
Sangat berhubungan. Karena maksudnya bahwa surat yang telah ditulis dicop/ disempurnakan/ ditutup/ disahkan dengan cincin perak tsb.

Dengan kata lain cincin tersebut adalah penyempurna terakhir dari surat tersebut. Tetapi ada hubungan dengan akar kata atau dasar kata yaitu ختم

Pertanyaan selanjunya:
Bolehkah lafadz خاتم / khaatamun ini diberi makna yang paling afdal?. Atau yang paling indah sebagaimana sifat cincin?

Jawabannya adalah sangat bagus dan sesuai. Beberapa tafsirpun mengemukakan seperti itu. Tapi jangan lupa sampai meninggalkan maksud kata dasar atau akar kata. Yaitu penutup/ penyempurna/ penyegel/ lak. Sehingga menjadi makna indah yang syumul/ menyeluruh dari lafadz خاتم / khaatamun yang tidak dapat diterjemahkan ke bahasa lain hanya dengan satu kata saja.

خاتم النبيين

Penutup/ penyegel/ pengesah/ penyempurna dari para nabi-nabi yang paling indah sifat-sifatnya, yang paling afdal dari antara mereka. Hanya dengan satu kata saja meliputi semua. Itulah keindahan dan keajaiban bahasa al Quran. Hanya satu kata yang keluar dari lisan dan pengakuan kita.
Subhaanallah..

صدق الله العظيم وصدق رسوله النبي الكريم ونحن على ذالك من الشاهدين والشاكرين..

Maha benar Allah dan benarlah apa yang disampaikan rasulnya.. dan kita menjadi saksi dan bersyukur atasnya..

Inti dari tulisan di atas semua kata yang berhubungan dengan ختم dalam Al Quran adalah berhubungan dengan makna penutup.. dan jangan sampai hanya mengambil makna dari satu sudut saja sehingga hilang maksud yang sebenarnya.

Arti Khatamun Nabiyyin

Berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw. dinyatakan dengan kata “khatam” yang bisa dibaca “khatim” seperti tertulis dalam Mushaf menurut riwayat Warsy dari Nafi’al- Madani. Antara keduanya ada perbedaan. Kata khatam berarti segel atau bagian terakhir atau penutup digabung dengan kesempurnaan wahyu kenabian dan pelestarian penganugerahan nikmat Ilahi (5:3); maka dari itu Nabi Muhammad saw. adalah yang paling mulia di antara semua nabi. Jadi kata khatam mengandung arti ganda yakni “yang paling mulia” dan “bagian terakhir” atau “penutup”. Sedang kata khatim artinya bagian terakhir atau penutup; maka dari itu Nabi Muhammad saw. adalah penutup para Nabi, yang dipertegas oleh Nabi Suci “la nabiyya ba’di” artinya “tak ada Nabi sesudahku” .
(Hr. Bukhari).

Lafadz خاتم. Kenapa karena akar masalah ada di lafadz خاتم dan توفى serta اسمه أحمد

Pertanyaan
Sebenarnya sighat apakah lafadz خاتم ini? Dan bagaiman kedudukan-kedudukan yang ada menurut ulama?.

Jawaban:
1. Lafadz خاتم adalah isim alat.  (Alat untuk cop surat/ cincin). Kedudukan mudlaf dan mudlaf ileh.
2. Adalah fiil madli ikut wazan فاعل . Sehingga kalimat خاتم النبيين  (menutup dia pada para nabi).
Kedudukan menjadi fiil Madli +fail dan maful.
3. Lafadz خاتم adalah isim fail ikut wazan فاعِل .

Huruf ta dibaca kasrah menjadi kalimat خاتِم النبيين . Dan ini adalah bacaan yang mutawatir dalam qiraat sab'ah.

قوله : « وخاتم » قرأ عاصمٌ بفتح التاء ، والباقون بكسرِها .

artinya: lafadz خاتم imam ashim membaca fathah huruf ta' sedang yang lain dengan kasrahnya huruf ta'. Keadaan yang kedua dan ketiga menunjukkan makna menutup/ penutup
Sehingga adalah sangat benar kalau keadaan yang pertama membuang makna dasar. Dengan kata lain keadaan yang pertama adalah bermakna penutup.

Pertanyaan : 
Kalau خاتم النبيين diberi makna penutup para nabi, adakah ia tidak bertentangan dengan perkataan Sayidina Aisyah, قُولُوا : خَاتَمُ النَّبِيِّينَ ، وَلاَ تَقُولُوا : لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.?

Jawaban: 
Pembahasan pertama
Bahwa atsar tersebut masadir (rujukan asal) ada di

قال الإمام بن أبي شيبة في المصنف ص102/2 من القسم الأول باب من كره أن يقول لا نبي بعد النبي صلى الله عليه وسلم.
حسين بن محمد قال حدثنا جرير بن حازم عن محمد يعني ابن سيرين عن عائشة قالت: "قولوا خاتم النبيين ولا تقولوا لا نبي بعده"،

Atau marajik di (addurrul mantsur). Statusnya adalah munqati' atau terputus. Seperti komen Imam Bukhari dan Abu Hatim dll

وقال العلامة صلاح الدين أبو سعيد خليل بن كيكلدي بن عبد الله العلائي الدمشقي ت(761هـ) وقال البخاري: "لم يسمع ابن سيرين من عائشة رضي الله عنها شيئا"  ونقل عنه الحافظ ابن حجر
[20] التقريب لابن حجر ج2 ص229.
قال الإمام ابن أبي حاتم: سمعت أبي يقول: "ابن سيرين لم يسمع من عائشة شيئا"

Pembahasan kedua:
Bahwa hadist yang menyatakan tidak ada nabi setelahku

"لا نبي بعدي"

Derajat hadist mencapai mutawatir.. Dapatkah dibandingkan.?.
Pasti tidak dapat kita wajib ambil yang pasti/ shahih. Apalagi dalam masalah akidah.

Pembahasan ketiga:
Dalam kitab-kitab syarah hadist yang berkaitan atsar dari sy Aisyah dan mughirah serta hadist لا نبي بعدى.

Maksud dari ucapan sy Aisyah :

قولوا خاتم النبيين ولا تقولوا لا نبي بعده

Katakanlah nabi Muhammad adalah penutup para nabi, dan jangan katakan tidak ada nabi setelahnya karena nabi Isa wafat setelah nabi Muhammad dan beliau (nabi Isa) diangkat menjadi nabi sebelum nabi Muhammad. Dengan kata lain setelah nabi Muhammad tidak ada pengangkatan nabi lagi.

Sehingga Kalau ada orang mengaku nabi setelah nabi Muhammad maka dia adalah pendusta sesuai hadist:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ، وَحَتَّى يَعْبُدُوا اْلأَوْثَانَ، وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِيْ ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ، لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ.

"Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kelompok dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan hingga mereka menyembah berhala, dan sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku"
(HR muslim)

Celah lafadz خاتم النبيين inilah yang biasa digunakan oleh para pengaku nabi atau dalam bahasa hadist adalah pendusta seperti : Mushaddiq, Pak Jari, Aliran Bahaiyah (sudah mengklaim cabangnya ada di 290 negara lebih banyak dari Ahmadiyah), Aliran Babiyah dll.
والله أعلم

Selasa, 22 Agustus 2017

SIAPA KHATAMUN NABIYYIN?

Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir

Perkara bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, adalah perkara yang sudah pasti dan diyakini oleh semua umat Islam. Setelah risalah beliau tidak akan ada lagi nabi yang diutus Tuhan. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan masalah ini, misalnya ayat 41 dan 42 surah Al Furqan, ayat 19 surah Al An’am, ayat 28 surah Saba’, dan seterusnya. Begitu pula riwayat-riwayat yang tak terhitung jumlahnya menjelaskan akidah umat Islam yang satu ini, baik dari kalangan Ahlu Sunah maupun Syiah.

Ada sebuah dialog antara seorang Muslim dengan orang Baha’i. Silahkan anda menyimaknya:

Muslim: “Sebagaimana yang kalian nyatakan, kalian menerima kebenaran Islam dan Al Qur’an. Hanya saja kalian meyakini bahwa setelah Islam ada ajaran lain yang menghapus ajaran Islam. Aku ingin bertanya kepada kalian, bukankah banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama terakhir dan global hingga akhir jaman?”

Baha’i: “Misalnya ayat apakah itu?”

Muslim: “Di ayat ke-40 surah Al Ahzab Allah swt berfirman:
Bukanlah Muhammad itu ayah seseorang dari kalian, namun ia adalah utusan Allah dan nabi terakhir. Dan sesungguhnya Allah maha tahu akan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 40)

Kata “khatamun nabiyyin” di ayat itu menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang diutus Allah swt. Karana kata “khatm” itu berarti akhir dan yang mengakhiri. Jadi tidak ada nabi lain setelah Rasulullah saw yang membawa ajaran baru.”

Bahai: “Khatam berarti cincin yang menjadi hiasan jari. Oleh karena itu yang dimaksud ayat tersebut adalah Rasulullah saw merupakan penghias nabi-nabi.”

Muslim: “Semua ahli tafsir mengakui bahwa arti “khatam” di ayat itu adalah “pengakhir” atau “yang terakhir”, bukan cincin. Karena menurut ahli bahasa, kata khatam tidak pernah diungkapkan untuk mensifati manusia. Kata “khatam” yang berarti cincin itu pun pada mulanya berarti “pengakhir”, bukan cincin itu sendiri. Karena cincin sering digunakan sebagai stempel untuk mengakhiri surat, maka cincin disebut “khatam”.

Coba lihat pendapat para ahli bahasa tentang arti “khatam”:
1. Fairuzabadi dalam kitab Qamus Al Lughah berkata: “Khatm berarti mengecap dengan stempel. Juga berarti mengakhiri sesuatu, atau sesuatu telah sampai pada akhirnya.”
2. Jauhari dalam kitab bahasanya Shihah berkata: “Khatm berarti sampai di akhir.”
3. Ibnu Manzur dalam kitabnya Lisanul Arab berkata: “Katamul Qaum berarti orang terakhir pada suatu kaum. Sedang Khatamun Nabiyyin adalah nabi yang terakhir.”

4. Raghib dalam kitabnya Al Mufradat berkata: “Khatamun Nabiyyin yakni Rasulullah saw dengan kedatangannya telah menutup risalah kenabian dan mengakhirinya.”

Jadi, yang dimaksud dengan kata “khatam” dalam ayat tersebut adalah “terakhir”, bukan “hiasan” sebagaimana yang kalian yakini.”

Baha’i: “Kata “khatam” memang benar disebut unutk cincin yang mengakhiri suatu surat karena berlaku sebagai stempel yang biasa dipakai orang-orang saat itu. Maka benar artinya nabi Muhammad adalah nabi yang membenarkan nabi-nabi sebelumnya sebagaimana stempel membenarkan isi surat di atasnya.”

Muslim: “Dari segi bahasa dan percakapan dalam bahasa Arab, kata “khatam” tidak pernah digunakan sebagai pembenar sebagaimana yang kalian maksud. Kalau kalian katakan maksud “khatam” adalah “yang mengakhiri”, sebagaimana stempel itu mengakhiri sebuah surat, maka itu benar, dan artinya nabi adalah utusan Tuhan yang mengakhiri nabi-nabi.”

Baha’i: “Ayat yang kau baca menyebut Rasulullah saw sebagai “khatamun nabiyyin”, yakni akhir para nabi; ayat itu tidak mengatakan beliau adalah akhir para rasul. Jadi mungkin saja ada rasul yang datang setelah beliau meskipun tidak ada nabi lain yang datang setelahnya!”

Muslim: “Meskipun dalam Al Qur’an antara nabi dan rasul memiliki arti yang berbeda, misalnya Rasulullah saw menyebut nabi Ismail as sebagai nabi namun menyebut nabi Musa as sebagai rasul, namun masalah ini tidak bisa menjadi syubhat untuk syubhat untuk permasalahan “khatamun nabiyyin”, karena nabi yang dimaksud adalah nabi yang diutus dari sisi Tuhan dan diberi wahyu oleh-Nya, entah diperintahkan untuk menyampaikannya ataupun tidak, sedangkan rasul adalah nabi yang diberi wahyu lalu diperintahkan untuk menyampaikannya. Jadi semua rasul adalah nabi, dan tidak semua nabi adalah rasul. Dengan demikian ayat tersebut mencakup para rasul. Ketika difirmankan tidak akan ada nabi setelah Rasulullah saw, maka artinya rasul pun tidak akan diutus setelah itu; sebagaimana yang sudah dijelaskan, rasul adalah nabi.”

Baha’i: “Penjelasan tentang nabi dan rasul begini: setiap kali ada nabi, maka tidak ada rasul, dan setiap kali ada rasul, tidak ada seorang nabi. Jadi apa yang kukatakan benar.”

Muslim: “Pengertian seperti itu bertentangan dengan pendapat para ulama dan ayat serta riwayat. Buktinya ayat di atas menyebut nabi Muhammad saw sebagai rasul dan juga nabi. Ia berfirman: “Tetapi ia adalah utusan Allah (Rasulullah) dan nabi terakhir.” Banyak pula riwayat yang menjelaskan bahwa beliau juga “khatamul mursalim”, yakni akhir para rasul, akhir para utusan Tuhan. Jadi tidak benar apa yang kalian katakan.”

Baha’i: “Mungkin saja maksud “khatamun nabiyyin” adalah beliau merupakan pengakhir nabi-nabi tertentu saja. Bisa jadi yang dimaksud “para nabi” bukanlah semua nabi.”

Muslim: “Lucu sekali pernyataan itu. Karena orang yang kurang lebih bisa bahasa Arab ketika membaca “an nabiyyin”, yang mana kata itu adalah jamak dan memiliki alif dan lam di sebelumnya, akan memahami bahwa kata itu umum, yang artinya mencakup seluruh nabi.”

Sumber : buku Seratus Satu Perdebatan, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 408.