Tampilkan postingan dengan label mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mualaf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Desember 2017

89 TAHUN SUMPAH PEMUDA: SEJARAH ADA DI TANGAN KITA...!

Oleh: Hadi Nur Ramadhan
(Founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun)

Di saat anak-anak muda  yang berusia 15, 20 dan 25 tahun sekarang sedang "galau, boring and baper", di usia yang sama seorang remaja putri bernama S.K. Trimurti usia 18 tahun aktif dipergerakan nasional bersama Bung Karno.

Di saat remaja sekarang sedang asyiknya main "spiner dan game online", di usia yang sama Hamka 15 tahun sudah menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam.

Ketika remaja lain sering "dugem" di diskotik, nongkrong di cafe, karaoke, dan jalan-jalan di Mal. Di usia yang sama. Misalnya Semaun, ia berusia 18 tahun menjadi  Ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Di usia 24 tahun Sugondo Djojopuspito memimpin Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Di saat pemuda sekarang berusia 21 dan 25 tahunan sedang bingung mencari kerjaan karena baru selesai kuliah, di usia yang sama Siti Hajinah, salah seorang pengurus besar Aisyiah (Sayap Perempuan Muhammadiyah), saat itu masih 22 tahun berpidato di Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah satu peristiwa yang menarik karena sekalipun belum ada negaranya, belum ada pemerintahannya, para pemuda Nusantara sudah membuat konsep negara kesatuan Indonesia, jauh sebelum bangsa ini merdeka. Tapi ada yang menarik, usia mereka. Usia pemuda pejuang saat itu rata-rata 20 tahunan atau tidak lebih dari 30 tahun. Dibandingkan dengan generasi muda sekarang, bisa dikatakan pemuda Indonesia di masa pergerakan tingkat kedewasaan dan kematanganya 20 tahun lebih cepat. Seperti aktor-aktor sejarah di bawah ini:

🇮🇩 H.O.S.Tjokroaminoto. usianya 30 tahun ketika itu memimpin perjuangan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912.

🇮🇩 Kiai Haji Mas Mansur pada usia 12 tahun sudah menunaikan haji serta menimba ilmu dan perjuangan di kota suci. Di usia 26 tahun dia sudah menjadi muballigh dan propagandis dakwah Muhammadiyah.

🇮🇩 KH. Ahmad Dahlan usia 15 tahun berangkat ke Mekkah menuntut ilmu tahun 1883. Di usia 29 tahun beliau mendirikan gerakan Muhammadiyah.

🇮🇩 Hamka masuk menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam pada  usia 15 tahun.

🇮🇩 M.  Natsir masuk Jong Islamieten Bond pada usia 15 tahun. Pada usia 23 tahun ia mendirikan sekolah Pendikan Islam (Pendis) di Bandung yang terkenal itu. Sekolah Integral berbasis Tauhid ini mewajibkan para pelajar sekolahnya dengan bahasa Arab dan Belanda. Bahkan cabangnya sempat didirikan di daerah Bogor dan Jakarta.

🇮🇩 Sobirin memimpin Majalah PEMBELA ISLAM tahun 1930an ketika itu usianya 21 tahun. Majalah ini merupakan corong Aksi Bela Islam saat itu.

🇮🇩 Jenderal Soedirman berusia 30 tahun, ketika diangkat menjadi Panglima Besar.

🇮🇩 Mohamad Roem dari Jong Islamieten Bond lahir pada 16 Mei 1908, berarti ketika ia mengikuti Kongres itu usianya baru 20 tahun.

🇮🇩 A.R. Baswedan memimpin pergerakan tanah air melalui Partai Arab Indonesia (PAI), ketika itu usianya 26 tahun. Dan menimba ilmu kepada ulama yang berwibawa asal Sudan Syaikh Ahmad Sorkaty (pendiri Al Irsyad) pada usia 15 tahun.

🇮🇩 Bung Hatta lahir tahun 1902 dan menjadi Ketua Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) di Negeri Belanda tahun 1926. ketika usianya baru 24 tahun.

🇮🇩 Soekiman Wirjosandjojo usia 24 tahun menggerakkan semangat Nasionalisme kepada para pelajar-pelajar Indonesia di Belanda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia.

🇮🇩 Ir. Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 dan mendirikan Partai Nasional Indonesia tahun 1927, berarti saat itu ia berusia 26 tahun, dan jauh sebelumnya Bung Karno sudah aktif dalam pergerakan nasional melalui _*Algemeene Studie Club,*_Bandung.

🇮🇩 A Gaffar Ismail diusianya sekitar 18 tahun memimpin pergerakan tanah air melalui PERMI di Sumatera Barat.

🇮🇩 Tan Malaka lahir tahun 1897 dan aktif di Sarekat Islam Semarang tahun 1921, berarti saat itu usianya 24 tahun.

🇮🇩 Mohammad Yamin yang menjadi salah satu pelopor Kongres Pemuda II berusia 25 tahun.

🇮🇩 Dan masih banyak ratusan bahkan ribuan pemuda saat itu, seperti Ahmad Dahlan, Kasman Singodimedjo, Imam Zarkasyi, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawiranegara, Isa Anshary, Wahid Hasyim, Firdaus AN, Munawar Chalil, Sukarni, Adam Malik, Bung Tomo dan para pemuda lain yang telah menjadi Aktor Sejarah bangsa ini. Bagaimana dengan kita.....?

*Penutup*
Saya jadi teringat sosok  Dr. Kuntowijoyo _Allahuyarham,_ Budayawan dan Sejarawan yang saya pernah kunjungi di rumahnya saat berdiskusi tentang *"kedewasaan"* di tahun 2000an. Menurut Kunto faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi dewasa, antara lain:

1. Pengaruh orang tua dan lingkungan.

2. Kepada anak muda perlu dijejali sejarah riwayat orang-orang besar. Karena tidak ada orang besar, jika selama hidupnya tidak pernah membaca orang-orang besar. Langkah ini bisa dengan membaca dan bersilaturahmi kepada para tokoh. Membaca sejarah adalah untuk memperkuat diri dan pribadi. Seperti kata *Imam Syafi'i rahimahullah*: _"Orang yang mengenal dirinya tidak akan terganggu oleh komentar orang lain"_

3. Tanamkan ke anak muda kita tekad cita-cita setinggi mungkin. Seperti kata Prof. Buya Hamka: _*Pemuda yang tidak punya cita-cita laksana hidup seperti "Zombie". Dia hidup tetapi tidak hidup".*_

4. Orang akan cepat dewasa, ketika ia banyak bergaul dengan orang-orang yang berfikir dewasa. Langkah ini yang pernah ditempuh oleh generasi *Jong Islamieten Bond* ketika berkunjung ke Haji Agus Salim dan Tuan Ahmad Hassan.
Seperti kata Dr. Kuntowijoyo: _*"Generasi muda hari ini adalah generasi Muslim yang lahir tanpa Masjid"*_

Jadi bukan alasan lagi untuk pemuda saat ini menjadi *"alai"*  alias malas dan lalai, terlepas lingkungan yang melalaikan atau membuaikan. Tapi masa depan tetap ada di masing-masing kita, usia muda bukan halangan untuk menjadi matang dan dewasa. Ada pepatah bijaksana kuno menyampaikan: _*"Semua orang pasti akan tua. Tapi tidak semua orang menjadi dewasa".*_

_*"Pemimpin  mudavyang cakap dan terampil tidak akan lahir, jika para orang-orang tua tidak menyiapkannya"*_ (Mohammad Natsir)

_*Those who cannot remember the past are condemned to repeat it, Mereka yang lupa pada masa lalu, akan terhina karena mengurangi kesalahan*_ (Pepatah Bijak)

Selamat berjuang wahai anak-anak muda. Mari saatnya bangun dari lelap tidurmu *Sejarah ada ditangan kita.......!*

*Penulis adalah* anggota Pusat Kajian & Majelis Fatwa Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII),  Staff Pendidik Pesantren Persatuan Islam 112 Bogor,  Founder Tamaddun,  Pensyarah STAIPI Jakarta, Peneliti Institut Risalah Peradaban, Pemilik Toko Serba Ada Muslim Qonitat dan kini berusia 28 tahun (2 Mei 1989).

89 TAHUN SUMPAH PEMUDA: SEJARAH ADA DI TANGAN KITA...!

Oleh: Hadi Nur Ramadhan
(Founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun)

Di saat anak-anak muda  yang berusia 15, 20 dan 25 tahun sekarang sedang "galau, boring and baper", di usia yang sama seorang remaja putri bernama S.K. Trimurti usia 18 tahun aktif dipergerakan nasional bersama Bung Karno.

Di saat remaja sekarang sedang asyiknya main "spiner dan game online", di usia yang sama Hamka 15 tahun sudah menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam.

Ketika remaja lain sering "dugem" di diskotik, nongkrong di cafe, karaoke, dan jalan-jalan di Mal. Di usia yang sama. Misalnya Semaun, ia berusia 18 tahun menjadi  Ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Di usia 24 tahun Sugondo Djojopuspito memimpin Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Di saat pemuda sekarang berusia 21 dan 25 tahunan sedang bingung mencari kerjaan karena baru selesai kuliah, di usia yang sama Siti Hajinah, salah seorang pengurus besar Aisyiah (Sayap Perempuan Muhammadiyah), saat itu masih 22 tahun berpidato di Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah satu peristiwa yang menarik karena sekalipun belum ada negaranya, belum ada pemerintahannya, para pemuda Nusantara sudah membuat konsep negara kesatuan Indonesia, jauh sebelum bangsa ini merdeka. Tapi ada yang menarik, usia mereka. Usia pemuda pejuang saat itu rata-rata 20 tahunan atau tidak lebih dari 30 tahun. Dibandingkan dengan generasi muda sekarang, bisa dikatakan pemuda Indonesia di masa pergerakan tingkat kedewasaan dan kematanganya 20 tahun lebih cepat. Seperti aktor-aktor sejarah di bawah ini:

🇮🇩 H.O.S.Tjokroaminoto. usianya 30 tahun ketika itu memimpin perjuangan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912.

🇮🇩 Kiai Haji Mas Mansur pada usia 12 tahun sudah menunaikan haji serta menimba ilmu dan perjuangan di kota suci. Di usia 26 tahun dia sudah menjadi muballigh dan propagandis dakwah Muhammadiyah.

🇮🇩 KH. Ahmad Dahlan usia 15 tahun berangkat ke Mekkah menuntut ilmu tahun 1883. Di usia 29 tahun beliau mendirikan gerakan Muhammadiyah.

🇮🇩 Hamka masuk menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam pada  usia 15 tahun.

🇮🇩 M.  Natsir masuk Jong Islamieten Bond pada usia 15 tahun. Pada usia 23 tahun ia mendirikan sekolah Pendikan Islam (Pendis) di Bandung yang terkenal itu. Sekolah Integral berbasis Tauhid ini mewajibkan para pelajar sekolahnya dengan bahasa Arab dan Belanda. Bahkan cabangnya sempat didirikan di daerah Bogor dan Jakarta.

🇮🇩 Sobirin memimpin Majalah PEMBELA ISLAM tahun 1930an ketika itu usianya 21 tahun. Majalah ini merupakan corong Aksi Bela Islam saat itu.

🇮🇩 Jenderal Soedirman berusia 30 tahun, ketika diangkat menjadi Panglima Besar.

🇮🇩 Mohamad Roem dari Jong Islamieten Bond lahir pada 16 Mei 1908, berarti ketika ia mengikuti Kongres itu usianya baru 20 tahun.

🇮🇩 A.R. Baswedan memimpin pergerakan tanah air melalui Partai Arab Indonesia (PAI), ketika itu usianya 26 tahun. Dan menimba ilmu kepada ulama yang berwibawa asal Sudan Syaikh Ahmad Sorkaty (pendiri Al Irsyad) pada usia 15 tahun.

🇮🇩 Bung Hatta lahir tahun 1902 dan menjadi Ketua Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) di Negeri Belanda tahun 1926. ketika usianya baru 24 tahun.

🇮🇩 Soekiman Wirjosandjojo usia 24 tahun menggerakkan semangat Nasionalisme kepada para pelajar-pelajar Indonesia di Belanda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia.

🇮🇩 Ir. Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 dan mendirikan Partai Nasional Indonesia tahun 1927, berarti saat itu ia berusia 26 tahun, dan jauh sebelumnya Bung Karno sudah aktif dalam pergerakan nasional melalui _*Algemeene Studie Club,*_Bandung.

🇮🇩 A Gaffar Ismail diusianya sekitar 18 tahun memimpin pergerakan tanah air melalui PERMI di Sumatera Barat.

🇮🇩 Tan Malaka lahir tahun 1897 dan aktif di Sarekat Islam Semarang tahun 1921, berarti saat itu usianya 24 tahun.

🇮🇩 Mohammad Yamin yang menjadi salah satu pelopor Kongres Pemuda II berusia 25 tahun.

🇮🇩 Dan masih banyak ratusan bahkan ribuan pemuda saat itu, seperti Ahmad Dahlan, Kasman Singodimedjo, Imam Zarkasyi, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawiranegara, Isa Anshary, Wahid Hasyim, Firdaus AN, Munawar Chalil, Sukarni, Adam Malik, Bung Tomo dan para pemuda lain yang telah menjadi Aktor Sejarah bangsa ini. Bagaimana dengan kita.....?

*Penutup*
Saya jadi teringat sosok  Dr. Kuntowijoyo _Allahuyarham,_ Budayawan dan Sejarawan yang saya pernah kunjungi di rumahnya saat berdiskusi tentang *"kedewasaan"* di tahun 2000an. Menurut Kunto faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi dewasa, antara lain:

1. Pengaruh orang tua dan lingkungan.

2. Kepada anak muda perlu dijejali sejarah riwayat orang-orang besar. Karena tidak ada orang besar, jika selama hidupnya tidak pernah membaca orang-orang besar. Langkah ini bisa dengan membaca dan bersilaturahmi kepada para tokoh. Membaca sejarah adalah untuk memperkuat diri dan pribadi. Seperti kata *Imam Syafi'i rahimahullah*: _"Orang yang mengenal dirinya tidak akan terganggu oleh komentar orang lain"_

3. Tanamkan ke anak muda kita tekad cita-cita setinggi mungkin. Seperti kata Prof. Buya Hamka: _*Pemuda yang tidak punya cita-cita laksana hidup seperti "Zombie". Dia hidup tetapi tidak hidup".*_

4. Orang akan cepat dewasa, ketika ia banyak bergaul dengan orang-orang yang berfikir dewasa. Langkah ini yang pernah ditempuh oleh generasi *Jong Islamieten Bond* ketika berkunjung ke Haji Agus Salim dan Tuan Ahmad Hassan.
Seperti kata Dr. Kuntowijoyo: _*"Generasi muda hari ini adalah generasi Muslim yang lahir tanpa Masjid"*_

Jadi bukan alasan lagi untuk pemuda saat ini menjadi *"alai"*  alias malas dan lalai, terlepas lingkungan yang melalaikan atau membuaikan. Tapi masa depan tetap ada di masing-masing kita, usia muda bukan halangan untuk menjadi matang dan dewasa. Ada pepatah bijaksana kuno menyampaikan: _*"Semua orang pasti akan tua. Tapi tidak semua orang menjadi dewasa".*_

_*"Pemimpin  mudavyang cakap dan terampil tidak akan lahir, jika para orang-orang tua tidak menyiapkannya"*_ (Mohammad Natsir)

_*Those who cannot remember the past are condemned to repeat it, Mereka yang lupa pada masa lalu, akan terhina karena mengurangi kesalahan*_ (Pepatah Bijak)

Selamat berjuang wahai anak-anak muda. Mari saatnya bangun dari lelap tidurmu *Sejarah ada ditangan kita.......!*

*Penulis adalah* anggota Pusat Kajian & Majelis Fatwa Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII),  Staff Pendidik Pesantren Persatuan Islam 112 Bogor,  Founder Tamaddun,  Pensyarah STAIPI Jakarta, Peneliti Institut Risalah Peradaban, Pemilik Toko Serba Ada Muslim Qonitat dan kini berusia 28 tahun (2 Mei 1989).

Sabtu, 02 Desember 2017

RINA NOSE BERTOLAK BELAKANG DENGAN HANNA TAJIMA

Fenomena Rina Nose mengguncang jagat maya. Apalagi setelah sebuah tulisannya tentang Negara Jepang ditengarai sebagai awal Rina meninggalkan jilbab.

"Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama?"

Tulisan Rina Nose bertolak belakang dengan kisah relijius Hana Tajima. Wanita cantik berdarah Jepang ini malah mengatakan jika Islam mempengaruhi kehidupannya. “Semakin saya baca, semakin banyak saya setuju dengan Alquran dan saya bisa melihat mengapa Islam sungguh berpengaruh pada kehidupan teman-teman muslim saya”.

Hana Tajima adalah seorang mualaf. Sebelum sukses sebagai perancang mode, dia mengaku tak pernah bermimpi memeluk Islam. “ Itu benar bahwa saya tidak pernah memutuskan masuk Islam atau ingin menjadi seorang muslim,” kata Tajima, dikutip Dream dari independent.co.uk.

Dia tumbuh di Davon, kota kecil di tenggara Inggris. Keluarganya tak begitu religius. “ Saya tumbuh di pinggiran Davon, di mana ayah saya orang Jepang, etnik yang berbeda sama sekali dengan kondisi di desa,” tutur dia.

Masuk sekolah tingkat atas, Hana Tajima berkawan dengan orang dari berbagai latar belakang. Dia sempat terjerembab ke dalam pergaulan bebas. Teman-temannya penyuka hip-hop underground, menenggak minuman keras, dan kehidupan foya-foya lainnya.

Menginjak kuliah, dia berkawan dengan sejumlah muslim. Di sinilah dia merasa aneh. Mengapa teman-teman muslimnya itu tidak mau diajak ke klub. “ Saya pikir ini mengejutkan, bagaimana bisa Anda tidak ingin keluar pada masa seperti ini,” ujar Hana Tajima.

Sejak itulah dia mulai belajar filosofi. Dia mulai bingung dengan kehidupannya saat itu. Kala itu, Hana Tajima yang ayu memang menjadi remaja populer. Punya pacar, banyak teman, dan semua yang menyenangkan. “ Tapi saya masih merasa apakah harus seperti itu?” Perasaan aneh itu terus menerus datang. Siang dan malam. Sehingga dia mencoba banyak membaca buku-buku soal agama. Banyak mempelajari teman-teman dan latar belakangnya. “ Ada sesuatu yang menarik saya masuk Islam,” kata dia.

Sabtu, 25 November 2017

TEGUH DENGAN KEISLAMAN?

Muhammad Rasywan, seorang atlet judo asal Mesir yang telah menyabet banyak medali kejuaraan internasional. Tapi bukan itu sebab ketenarannya, justru pamornya mulai melejit sejak Olimpiade Los Angeles 1984, di mana kala itu ia telah sampai pada babak final melawan Judoka Jepang bernama Yasohiro Yamashita, namun dirinya sengaja mengalah dalam pertandingan final tersebut dikarenakan atlet Jepang yang menjadi lawannya telah terluka di salah satu kakinya. Jiwa sportifnya menolak untuk melawan serius seseorang yang telah cedera, hingga akhirnya ia pun rela hanya mendapatkan medali perak saja.

Saat Muhammad Rasywan ditanya dalam sebuah konferensi pers di Jepang; "Mengapa engkau menolak untuk menyerang lawanmu di kakinya yang terluka?" Ia hanya tersenyum dan berkata, "Agamaku melarangku untuk melukainya."

Rasywan mendapatkan sambutan yang besar di hati masyarakat Jepang, akibat sikap kesatrianya itu, banyak orang yang akhirnya tertarik masuk Islam. Dr. Najih Ibrahim menyebutkan ada seribu orang Jepang masuk Islam setelah itu, saya masih belum menemukan sumber valid tentang berapa jumlah orang Jepang yang masuk Islam karenanya, hanya saja yang pasti, Rasywan telah menikah dengan seorang perempuan Jepang —setelah perempuan tersebut bersyahadat masuk Islam— dan mereka telah dikaruniai 3 orang anak.

Muhammad Rasywan telah meraih penghargaan “Fairplay International Award”, di Mesir sendiri, ia mendapat medali tertinggi yang langsung dikalungkan oleh presiden Mesir kala itu. Itu adalah Muhammad Rasywan..

Lain dengan Muhammad Rasywan, lain pula dengan seorang artis dari belahan dunia lain yang kini lagi nge-hits menjadi obrolan warganet karena sikap noraknya dalam melepas jilbab. Fenomena lepas jilbab sebenarnya bukan kali ini yang pertama, cuman bedanya sang artis ini curhatannya agak potensial menyesatkan jika dibiarkan begitu saja. Apa pula ia membawa-bawa Jepang segala dalam tulisannya:

Ada pelajaran baru yang saya dapat dari penduduk Jepang selama dua hari saya disini. Mayoritas penduduk sini rupanya tidak memiliki kepercayaan terhadap suatu agama, bahkan Tuhan…”

Lalu di akhir kata si artis tersebut berujar:
Sulit menemukan tempat sampah di sini, tapi juga sulit menemukan sampah berceceran di setiap sudut nya… Satu hal lain yang menarik perhatian saya, ketika saya menemukan beberapa penduduk asli yang tiba-tiba ingin memeluk suatu kepercayaan. Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama?”

~

Coba bandingkan antara keduanya: Raswan dengan akhlak dan normanya dapat menarik orang Jepang untuk masuk Islam, tapi si artis itu justru “mencegah” dan mempertanyakan sikap beberapa orang Jepang yang ingin memeluk “suatu kepercayaan” (apakah yang dimaksud adalah Islam?)

Raswan ibarat ikan laut yang berenang di samudera tapi dirinya tak menjadi asin. Ia tak terpengaruh, tak terkontaminasi dan tetap teguh dengan Keislamannya. Ia tak minder berada di negara maju dan dengan pede menyampaikan ajaran Agamanya yang menjunjung tinggi norma sportifitas. Ia mewarnai, bukan diwarnai.

Sedangkan si artis, ia terlihat begitu gagap. Baru dua hari saja di negara maju dia langsung minder. Ia menilai bahwa kebersihan, kedisiplinan dan sampah yang tak berceceran adalah parameter utama dalam mengukur “Kehidupan yang baik” sekalipun tanpa agama. Mungkin dia piknik-nya kurang lama, atau main-nya yang kurang jauh.

Rasywan bukanlah agamawan, bukan pengkhotbah, bukan pula ulama Al-Azhar yang diutus ke Jepang untuk berdakwah di sana. Ia hanyalah atlet yang bangga dengan agamanya dan pede menyandang Islam-nya di mana saja. Ia berdakwah bukan dengan lisan, tapi dengan perbuatan.

Sedangkan si artis, boro-boro bangga dengan agamanya, bahkan simbol keagamaan berupa jilbab pun ia tanggalkan.

Maka, berangkat dari spirit At-Taubah: 71 yang mengatakan bahwa orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, itu saling menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; juga beranjak dari semangat Al-Ashr yang mengatakan bahwa semua manusia itu berada dalam kerugian yang nyata kecuali orang-orang yang saling menasehati supaya mentaati kebenaran… sudah sepatutnya jika kita angkat suara menanggapi pandangan sesat semacam ini, agar yang melenceng bisa kembali lurus, dan yang lurus bisa terus istiqomah.

Dan terkait jilbab, sebenarnya itu merupakan perkara aksioma. Yakin deh, dalam diri setiap muslimah sadar bahwa menutup aurat itu adalah sebuah keharusan, betapapun alasan yang mereka ungkapkan melalui lisan mereka untuk menutupinya. Maka lihatlah, bagaimanapun penampilan seorang muslimah sehari-hari, saat ia shalat maka ia akan mengenakan mukena dan menutup auratnya. Bagaimapun pakaian yang dikenakan seorang muslimah dalam aktifitasnya, saat ia naik Haji pasti ia akan menutup auratnya. Mengapa mereka melakukan itu? Karena mereka sadar itu adalah perintah Tuhan. Lantas, apakah Tuhan yang memerintahkan mereka menutup aurat saat Shalat itu berbeda dengan Tuhan yang memerintahkan mereka menutup aurat dalam aktifitas sehari-sehari? Ini tak perlu dijawab. Cukup jadi bahan perenungan saja.

Semoga kita senantiasa mendapat hidayah dan pertolongan dari-Nya… Aamiin

====

Minggu, 15 Oktober 2017

DR. MAURICE BUCAILLE MEMELUK ISLAM SELEPAS BEDAH MUMI

Presiden Prancis menawarkan kerajaan Mesir bantuan untuk meneliti, mempelajari dan menganalisis mumia Firaun, Ramsess II yang sangat terkenal pada tahun 1976. Firaun yang dikatakan hidup di zaman Nabi Musa yang akhirnya mati tenggelam dalam Laut Merah ketika mengejar Musa dan para pengikut baginda yang melarikan diri daripada kekejamannya.

Mesir menyambut baik tawaran itu dan membenarkan mumia itu diterbangkan ke Paris. Malah ketika sampai di sana kedatangan mumia itu disambut dengan pesta dan keramaian.

Ini termasuklah apabila Presiden Mitterand dan para pemimpin Perancis yang lain tunduk hormat ketika mumi itu dibawa lalu di hadapan mereka. Mumi itu kemudiannya diletakkan di ruang khusus di Pusat Arkeologi Prancis.

Di situ ia bakal diperiksa sekaligus membongkar rahasianya oleh para pakar, doktor bedah dan autopsi Perancis yang dipimpin oleh doktor yang sangat terkenal, Prof. Dr. Maurice Bucaille.

Bucaille seorang pakar bedah kenamaan Perancis yang dilahirkan di Pont-L’Eveque pada 19 Julai 1920. Memulakan kerjaya di bidang perobatan dan pada tahun 1945 beliau diiktiraf sebagai pakar di bidang gastroentorologi.

Banyak kerabat diraja dan keluarga pemimpin dunia menggunakan khidmat Dr. Bucaille, termasuk Raja Faisal Arab Saudi dan pemimpin Mesir, Anwar Sadat.

Lalu kesempatan beliau untuk membedah dan menyiasat mumi Firaun, mengerah seluruh tenaga dan fikirannya untuk menguak misteri di sebalik penyebab kematian raja Mesir kuno itu.

Ternyata, hasilnya sangat mengejutkan. Dr. Bucaille menemukan sisa-sisa garam yang masih melekat pada jasad mumi tersebut sebagai bukti terbesar bahawa Firaun itu mati akibat tenggelam di dalam laut. Yaitu jasadnya segera dikeluarkan dari laut, ‘dirawat’ segera dan dijadikan mumi supaya jasad itu kekal dan awet.

Namun penemuan itu menimbulkan persoalan yang sangat besar kepada Dr. Bucaille. Bagaimana jasad tersebut masih dalam keadaan sangat baik berbanding jasad-jasad yang lazimnya tenggelam dan dikeluarkan daripada laut?

Lalu beliau menyiapkan sebuah laporan akhir yang diyakininya sebagai penemuan baru, iaitu proses menyelamatkan mayat Firaun dari laut dan kaedah pengawetannya. Laporan tersebut diterbitkan dengan tajuk; Mumia Firaun: Sebuah Penelitian Perubatan Moden (judul asalnya; Les Momies Des Pharaons Et La Midecine).

Akhirnya penerbitan laporan itu, Dr Bucaille dianugerah penghargaan tertinggi kerajaan iaitu Le Prix Diane Potier-Boes (Penghargaan Dalam Sejarah) oleh Academie Frantaise dan anugerah Prix General daripada Academie Nationale De Medicine, Perancis.

KISAH FIRAUN DI DALAM AL QURAN.

mumi Ramses

Namun seorang rakan sempat membisikkan kepada Dr. Bucaille bahawa penemuan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya umat Islam telah berbicara mengenai peristiwa Firaun yang mati lemas dan mayatnya dipelihara sehingga hari ini!”

Namun kata-kata itu ditentang keras oleh Dr. Bucaille karena beliau menganggap sangat mustahil. Baginya membongkar sesebuah misteri yang lama tidak mungkin dapat diketahui kecuali dengan perkembangan teknologi modern, peralatan dan alat canggih yang mutakhir dan tepat.

Dr. Bucaille menjadi serba salah dan bingung apabila diberitahu bahawa al-Quran yang diyakini dan dipercayai oleh umat Islam telahpun meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian mayatnya diselamatkan. Beliau semakin bertanya-tanya, bagaimana perkara seperti itu dapat diterima oleh akal kerana mumi itu baru sahaja ditemui sekitar tahun 1898. Sedangkan al-Quran telah ada di tangan umat Islam sejak ribuan tahun sebelumnya.

Sambil mata tidak lepas memandang mumi Firaun yang terbujur di hadapannya, Dr. Bucaille terus tertanya-tanya bagaimana al-Quran dapat membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari hancur sejak ribuan tahun lalu.

Apakah masuk akal di hadapanku ini adalah Firaun yang mencoba menangkap Musa (Nabi)? Apakah masuk akal Muhammad (Nabi) mengetahui hal sejarah ini? Pada hal kejadian Musa dikejar Firaun telah berlaku sebelum al-Quran diturunkan,” bicara hatinya sendirian.

Lalu beliau mendapatkan kitab Injil yang di dalamnya hanya membicarakan Firaun yang tenggelam di tengah laut saat mengejar Nabi Musa tetapi tidak diceritakan mengenai mayat Firaun.

Sementara dalam Kitab Perjanjian Lama (Injil Lama) pula yang diceritakan dalam kitab itu hanyalah: “Air (laut) pun kembali seperti sebuah lautan yang berombak dan beralun, menenggelamkan kereta-kereta (chariot) kuda, pasukan berkuda dan seluruh bala tentera Firaun tanpa ada seorang pun yang berjaya menyelamatkan diri. Tetapi anak-anak Israel dapat menyelamatkan diri atas daratan kering di tengah-tengah laut itu”. (Exodus 14:28 dan Psalm 136:15)

Dr. Bucaille sangat terkejut karena tidak ada disebut langsung mengenai apa yang terjadi seterusnya kepada mayat Firaun selepas tenggelam itu. Ini menjadikan beliau semakin kebingungan. Apabila mumi dikembalikan semula ke Mesir, Dr. Bucaille terus mendapatkan kepastian mengenai mumi itu.

Lalu beliau memutuskan untuk bertemu dengan para ilmuwan Islam mengenai sejarah Nabi Musa, kekejaman Firaun sehinggalah Bani Israel meninggalkan Mesir dan dikejar Firaun dengan seluruh bala tentera di belakang mereka.

Maka salah seorang mereka terus bangun dan membaca ayat al-Quran berhubung sejarah tersebut untuk Dr. Bucaille mendengarkannya sendiri:
Maka pada hari ini Kami selamatkan badan kamu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah kamu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)

Apabila mendengar ayat ini, hati Dr. Bucaille benar-benar tersentuh. Beliau akhirnya mengakui kebenaran ayat itu karena ia dapat diterima akal dan memberikan satu inspirasi serta dorongan kepada sains untuk maju lebih jauh lagi.

Lalu dengan hati yang begitu bergetaran dalam menahan keharuan, beliau pun bangun dan dengan suara yang lantang berkata: “Sesungguhnya aku masuk Islam dan beriman dengan al-Quran ini.”

Tidak sekadar beliau mengakui kebenaran dan memeluk Islam tetapi beliau kemudiannya pulang ke Perancis dengan menggali seluruh isi al-Quran. Akhirnya beliau berjaya menerbitkan buku yang sangat mengejutkan seluruh dunia dan sehingga kini telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa pada tahun 1976, iaitu The Bible, the Qur’an, and Science : The Holy Scriptures Examined in the Light of Modern Knowledge.

Melalui buku ini, Dr. Bucaille yang kemudiannya dikenali sebagai Dr. Yahya Maurice Bucaille berjaya membuktikan bahawa al-Quran adalah selaras dengan fakta-fakta sains sementara kitab Injil adalah sebaliknya.

Sains dan Islam umpama saudara kembar yang tidak boleh berpisah. Ini kerana dalam Injil terdapat pelbagai kesilapan dari aspek saintifik tetapi tiada sedikitpun kesilapan seperti itu ada dalam al-Quran. “Al-Quran yang di dalamnya diceritakan segala penjelasan mengenai fenomena alam semula jadi yang sangat bertepatan dengan sains moden,” katanya.

Beliau memberikan kesimpulan bahawa tidak syak lagi al-Quran benar-benar kalam Allah. Cerita kebenaran ini jika anda rasa Islam itu Agama Yang Benar..!!