Tampilkan postingan dengan label nyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

SUDISMAN : SEKJEN PKI MENGAKUI KEJAHATAN G 30 S/ PKI

Di depan Mahmilub, Sudisman tegas menyatakan dia dan beberapa pimpinan PKI terlibat G30S. Atas kesalahan itu, dia minta maaf. Mahmilub memberi vonis hukuman mati. Tahun 1968, dia dieksekusi.

Sebelumnya, tanggal 6 Oktober 1965, di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, Nyoto mengatakan PKI mendukung pembersihan di dalam Angkatan Darat (Gerakan 30 September). 

Dua fakta penting ini tidak pernah diungkap simposium-simposius 65. Mereka gemar salahkan Pa Harto dan TNI. Padahal, manuver politik PKI memicu gelombang kemarahan rakyat. Alhasil, jatuh korban di pihak anggota dan simpatisan PKI berikut underbow-underbouwnya.

Presiden Sukarno adalah pihak yang pertama kali menyebut ke 7 jenderal korban G30S/PKI sebagai "Pahlawan Revolusi". Artinya, mematahkan fitnah PKI mengenai isu "Dewan Jenderal" yang katanya mau kudeta.

Selain terlibat G30S, Sudisman memimpin Politbiro CC PKI. Menggantikan DN Aidit yang dieksekusi November 1965. Sudisman bersama Rewang, Oloan Hutapea cs merilis dokumen Kritik-Otokritik Politbiro CC PKI. Mereka kembali menekankan dasar-dasar perjuangan PKI, yang disebut "Tripanji PKI". Butir keduanya berbunyi: "Perjuangan Bersenjata". Karena itu, "PKI Gaya Baru" ini membangun basis militer MMC (Merbabu-Merapi Complex).

Perlawanan PKI Bawah Tanah Sudisman ditumpas Operasi Trisula. Tanggal 6 Desember 1966, Sudisman ditangkap di daerah Tomang, Jakarta.

Dalam rangka memproduksi narasi versi sendiri, mereka menarget Jenderal Suharto dan TNI sebagai pembantai rakyat. Prosedurnya adalah ilusi dan teori konspiratif. Seru, seram, tegang, berbelit. Tapi ngga ada satu pun bukti valid dan solid yang sanggup menopang argumen mereka.

Mereka memaksakan ilusi sebagai fakta. Mereka bilang mustahil Pa Harto tidak tau rencana aksi 30 September. Kolonel A Latief menyatakan dia melaporkan rencana penculikan 7 jenderal kepada Jenderal Suharto di RSPAD.

Itu kan klaim Latief. Herannya, tanpa bak-bik-buk, apalagi verifikasi in depth, mereka telan keterangan itu sebagai kebenaran. Emang dasarnya benci saja kepada Pa Harto.

Logikanya, mestinya, info macam itu masuk domain intelijen. Subandrio adalah Kepala BPI (Badan Pusat Intelijen). Afiliasi Subandrio adalah "kiri" slash komunis. Dia pernah jadi Duta Besar di Moskow.

Pa Harto adalah perwira ketiga di bawah Jenderal Nasution dan Jenderal Ahmad Yani. Bila kedua atasan Pa Harto saja ngga tau sedang ditarget, gimana caranya Pa Harto mesti jadi tau.

Kelompok Simposium 65 menganulir temuan Dinas Penelitian Team Pemeriksa Pusat (Teperpu). Padahal, tim ini bekerja selama 10 tahun, antara 1966-1976.

Salah satu hasil temuan Teperpu adalah peran Syam Kamaruzaman dibantu duet Pono dan Bono. Orang dekat Sudisman bernama Tan Swie Ling menuding Syam Kamaruzaman adalah agen CIA. Once again, orang-orang Simposium langsung percaya. Buktinya apa toh? Asumsi, ngayal, reka-reka konspirasi lagi kah?

Syam Kamaruzaman mengepalai Biro khusus PKI. Tugasnya menginfiltrasi militer. Dia sekelompok dengan generasi muda PKI pimpinan DN Aidit melikuidasi generasi tua PKI semacam Alimin, Tang Ling Djie dan sebagainya.

Dari seluruh fakta sejarah, tidak ada satu pun bukti atau bahkan indikator Pa Harto terlibat G30S/PKI apalagi jadi dalang. Namanya tidak masuk dalam daftar 45 anggota Dewan Revolusi yang mendemisioner Kabinet Dwikora, thus berarti makar terhadap pemerintahan yang sah saat itu.

Kalau sudah begini, sejarah diputar-putar dan dipelintir-pelintir, ngga ada cara lain selain dukung TNI Nonton Bareng film Penghianatan G30S/PKI. Setuju dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Rabu, 20 September 2017

ILMUWAN CEKO BONGKAR KONSPIRASI DI BALIK KUDETA PKI 1965

Buku 447 halaman Kudeta 1 Oktober 1965 yang ditulis ilmuwan Ceko, Victor Miroslav Vic, mengungkap detail teori konspirasi di balik kudeta berdarah PKI 40 tahun lalu. Terutama tentang peran Ketua Partai Komunis China Mao Zedong.

Mao Minta Habisi dengan Sekali Pukul

Pesawat kepresidenan Jetstar yang membawa Presiden Soekarno dan 80 anggota rombongan, termasuk Ketua CC (Committee Central) PKI Dipo Nusantara (D.N.) Aidit, meninggalkan tanah air menuju Aljazair guna menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) II. Pesawat transit di Kairo, Mesir, 26 Juni 1965.

Mendadak ada kabar bahwa Presiden Aljazair Ben Bella dikudeta. KAA pun ditunda hingga 5 November 1965. Bung Karno kemudian memutuskan pulang ke tanah air. Sedangkan rombongan kecil yang dipimpin Aidit melawat ke Peking (Beijing), China. Salah satu di antara mereka adalah Nyono.

Setibanya di tanah air, penyakit ginjal Bung Karno kambuh lagi. Tim dokter China yang merawat Bung Karno sejak 1960 mendiagnosis bahwa kali ini penyakitnya makin gawat. Bahkan, tim dokter China itu memperkirakan, sewaktu-waktu jika penyakit Bung Karno kambuh lagi nyawanya tak tertolong. Keadaan ini makin mematangkan rencana PKI mengambil alih kekuasaan dari tangan Bung Karno. Yakni, dengan menyingkirkan rival utamanya lebih dahulu: para jenderal TNI AD.

Gawatnya kesehatan Bung Karno itu terlihat dari perintah pemanggilan mendadak Aidit dan Nyono oleh sang pemimpin besar revolusi itu lewat Menlu Soebandrio. Keduanya diminta segera pulang ke tanah air. Lewat kawat, Aidit menjawab akan pulang pada 3 Agustus 1965.

Pada 4 Agustus 1965, kesehatan Bung Karno terus memburuk. Dia tiba-tiba muntah-muntah sebanyak 11 kali, ditambah hilang kesadaran empat kali. Dokter kepresidenan, Dr Mahar Mardjono, pun mendadak dipanggil ke kamar Bung Karno di Istana Negara. Saat itu sudah ada tim dokter China.

Belakangan, diduga keras ternyata diagnosis dokter China tadi berkaitan erat dengan rencana PKI mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Rencana ini muncul setelah Aidit bertemu Mao Tze Tung (Mao Zedong) di China. Sebab, posisi Bung Karno sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi Angkatan Bersenjata sangat menentukan arah politik Indonesia.

Mao Zedong

Kalau sampai Bung Karno mangkat, sudah bisa ditebak akan terjadi perebutan kekuasaan antara PKI dan TNI-AD. Saling mendahului dan saling jegal antara kekuatan saat itu sangat mewarnai politik Indonesia 1965. “Ternyata diagnosis tim dokter China terbukti keliru. Sebab, Bung Karno baru meninggal tujuh tahun kemudian,” ungkap Ketua LIPI Taufik Abdulah dalam bedah buku di Yayasan Obor yang menerbitkan buku karya Miroslav kemarin.

Dugaan lain yang menguatkan bahwa PKI akan mengambil alih kekuasaan di Indonesia terekam dalam pembicaraan Ketua Partai Komunis China Mao Tze Tung dan Ketua CC PKI DP Aidit yang menemuinya Zhongnanghai, sebuah perkampungan dalam dinding-dinding kota terlarang di China.

Kamu harus mengambil tindakan cepat,” kata Mao kepada Aidit.
Saya khawatir AD akan menjadi penghalang,” keluh Aidit ragu-ragu.
Baiklah, lakukan apa yang saya nasihatkan kepadamu; habisi semua jenderal dan perwira reaksioner itu dalam sekali pukul. Angkatan Darat akan menjadi seekor naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu,” ungkap Mao berapi-api.
Itu berarti membunuh beratus-ratus perwira,” tanya Aidit lagi.
Di Shensi Utara, saya membunuh lebih dari 20 ribu orang kader dalam sekali pukul saja,” tukas Mao.

Setelah menemui Mao, Aidit disertai dua dokter China, Dr Wang Hsing Te dan Dr Tan Min Hsuen (salah satu di antaranya diyakini Miroslav sebagai perwira intelijen China) terbang ke Jakarta guna mendeteksi kesehatan Bung Karno. Pada 7 Agustus 1965, mereka menghadap Bung Karno di Istana Merdeka.

Soekarno dan D.N. Aidit

Esoknya, 8 Agustus 1965, Aidit kembali menemui Bung Karno di Istana Bogor untuk berbicara empat mata. Menurut Miroslav, saat bertemu secara pribadi dengan Bung Karno itulah, Aidit melaporkan hasil pembicaraannya dengan Mao Tze Tung. Misalnya, advis untuk menyingkirkan jenderal AD yang tidak loyal kepada presiden (baca dewan jenderal sebutan PKI bagi jenderal AD).

Pertama, PKI sadar benar tidak mudah menyingkirkan para jenderal AD tanpa payung kekuasaan Soekarno.
Kedua, membentuk Kabinet Gotong Royong dengan PKI sebagai pemegang kendali (dengan memasukkan para kadernya).
Ketiga, setelah semua misi itu sukses, diam-diam PKI menyiapkan strategi untuk menyingkirkan Bung Karno secara halus. Caranya, China menawari Bung Karno untuk istirahat panjang di sebuah vila dekat Danau Angsa, China, guna mengobati penyakitnya.

Itu sebenarnya cara licik Aidit dan Mao untuk menyingkirkan Bung Karno dari kekuasaannya setelah melapangkan jalan PKI mengambil alih kekuasaan,” ungkap Miroslav.

Cara itu pernah diterapkan Mao kepada Raja Kamboja Pangeran Norodom Sihanouk. Setelah China berhasil mengomuniskan Kamboja lewat Pol Pot. Giliran Jenderal Lon Nol mengudeta Sihanouk saat berkunjung ke Moskow. Saat Kremlin (baca Uni Sovyet) menolak memberikan suaka kepada Sihanouk, China dengan senang hati menawarkan tempat tinggal dan perawatan yang wah bagi Sihanouk. “Istrinya, Princess Monica, sangat menikmati pemberian China tadi,” tambah Miroslav.

Berdasar hasil rekonstruksi kejadian yang dibuat Miroslav, Bung Karno tampaknya sejalan dengan rencana Mao. Terbukti, lanjut Miroslav, Bung Karno memanggil Brigjen Subur, Komandan Resimen Tjakrabhirawa, dan Letkol Untung ke kamar tidurnya untuk bertanya pada mereka.

Apakah dia (Untung) cukup berani menangkap para jenderal yang tidak loyal kepada presiden dan menentang kebijakannya?” tanya Bung Karno.
Saya akan melakukan kalau diperintahkan,” jawab Untung saat itu.

Ketua LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Taufik Abdullah mengatakan, kevalidan sejarah seperti itu memang perlu diuji. Tapi, boleh jadi dugaan keras Miroslav tersebut ada benarnya.

Taufik membuat tamsil, ada sepasang pengantin masuk rumah. Saat keluar wajahnya terlihat lusuh. Orang bisa menduga, pasangan pengantin itu baru melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri. Tapi, tidak ada yang tahu persis. “Bisa juga wajah yang tampak loyo itu disebabkan mereka habis membersihkan rumah,” ujar Taufik.

Miroslav pantas menduga kuat bahwa pembicaraan Aidit dan Bung Karno di kamar tidurnya adalah soal isi pertemuan Aidit dengan Mao,” tambah Taufik.

Mao Tze Tung, lanjut Miroslav, semula ingin menggandeng Bung Karno untuk menancapkan kekuasaan PKI di Indonesia. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno dinilai bukan sosok pemimpin yang cocok. Dia dianggap terlalu sembrono dan pembawaannya meledak-ledak. Tapi, Mao tetap membutuhkan Bung Karno untuk mengantarkan PKI berkuasa di Indonesia.

Soal pembawaan yang meledak-ledak tersebut pernah dilaporkan Menlu China Marsekal Chen Yi saat menemui Bung Karno, 3 Desember 1964. Ketika itu, Bung Karno menuntut China agar membagi teknologi nuklirnya dengan Indonesia. Bung Karno juga mendesak uji nuklir dilakukan di wilayah Indonesia. Tujuannya, memberi dampak psikologis kepada kawan dan lawan Indonesia. Tapi, Chen Yi menolak karena itu terlalu berbahaya. Bung Karno kontan naik pitam. “Sambil menggebrak meja, Bung Karno berdiri menudingkan telunjuknya ke arah Chen Yi,” ungkap Miroslav.

Akibat keragu-raguan Mao Tze Tung tersebut, akhirnya China menunda pengiriman 100 ribu pucuk senjata untuk angkatan kelima (baca buruh dan tani) seperti dijanjikan sebelumnya. Sebagai gantinya, Mao hanya mengirimkan 30 ribu pucuk senjata lewat beberapa kapal guna menghadapi jenderal AD yang reaksioner. Tapi, itu tidak gratis. Sebagai imbalannya, Mao minta presiden melapangkan jalan PKI menguasai Indonesia. “Soal perjanjian rahasia itu terungkap dalam surat Aidit 10 November 1965 yang dikirim ke Bung Karno,” terang Miroslav.

Jaringan intelijen yang dibangun PKI terus mengintesifkan pembicaraan dengan penguasa komunis China guna mempersiapkan pengambialihan kekuasaan di Indonesia. Kontak Aidit-Mao maupun Soebandrio-Chen Yi makin intensif menjelang pengambilalihan yang ternyata gagal itu.

Akhirnya, sejarah pun mencatat: pada 30 September 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI-AD oleh pasukan Cakrabhirawa. Mereka lalu dibawa ke Lubang Buaya untuk dimakamkan.

Tapi, itu sekaligus pukulan balik bagi PKI. Pangkostrad Mayjen Soeharto berhasil mengorganisasikan berbagai kekuatan anti-PKI untuk memukul balik lawannya. Soeharto akhirnya menjadi penguasa Orba selama 30 tahun lebih.