Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Agustus 2017

GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA

Jangan ucapkan '0k'
ucapkan "In syaa  Allah"
اِنْ شَآ ءَ اللَّهُ
Jangan ucapkan "wow"
ucapkan "SubhaanAllah"
سُبْحَانَ اللهُ
Jangan ucapkan "hebat"
ucapkan "Maa syaa Allah"
مَاشَآءَاللّهُ.
Jangan ucapkan "saya baik2 saja"
ucapkan "Allhamdulillah"
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Jangan ucapkan "Terimakasih"
ucapkan "Jazaka(ki,kumu)llahu Khairan"
جَزَاك اللهُ خَيْرًا
Jangan ucapkan "Hati2 ya...sampai jumpa"
ucapkan "Fii Amanillah"
فِي أَمَانِ الله
Jangan ucapkan "Hello"
ucapkan "Assalamu alaikkum Warahmatullah"
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ 

Doa yg indah untuk
berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

"Allahumma a'inni 
'ala dzikrika wa syukrika
  wa husni  'ibadatika"
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَv

Mari kita sama-sama membetulkan*  :
★ *Aamiin*,
★ *In Syaa Allah , dan
★ *Menyingkat kata Assalamu'alaikum*.

★ Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :
- Amin    = Aman
- Aamin  = Meminta        
                   perlindungan
- Amiin   = Jujur
- *Aamiin = Ya Allah,*
  *kabulkanlah do'a kami*

★ Kita seharusnya tidak menulis :
*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah ..)

Tapi pastikan kita menulis :
*In Syaa Allah =  dengan izin Allah*
💦💦*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

Jangan ucapkan '0k'
ucapkan "In syaa  Allah"
اِنْ شَآ ءَ اللَّهُ
Jangan ucapkan "wow"
ucapkan "SubhaanAllah"
سُبْحَانَ اللهُ
Jangan ucapkan "hebat"
ucapkan "Maa syaa Allah"
مَاشَآءَاللّهُ.
Jangan ucapkan "saya baik2 saja"
ucapkan "Allhamdulillah"
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Jangan ucapkan "Terimakasih"
ucapkan "Jazaka(ki,kumu)llahu Khairan"
جَزَاك اللهُ خَيْرًا
Jangan ucapkan "Hati2 ya...sampai jumpa"
ucapkan "Fii Amanillah"
فِي أَمَانِ الله
Jangan ucapkan "Hello"
ucapkan "Assalamu alaikkum Warahmatullah"
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Doa yg indah untuk
berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

"Allahumma a'inni 
'ala dzikrika wa syukrika
  wa husni  'ibadatika"
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَv

Mari kita sama-sama membetulkan*  :
★ *Aamiin*,
★ *In Syaa Allah , dan
★ *Menyingkat kata Assalamu'alaikum*.

★ Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :
- Amin    = Aman
- Aamin  = Meminta        
                   perlindungan
- Amiin   = Jujur
- *Aamiin = Ya Allah,*
  *kabulkanlah do'a kami*

★ Kita seharusnya tidak menulis :
*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah ..)

Tapi pastikan kita menulis :
*In Syaa Allah =  dengan izin Allah*
💦💦💦💦💦

★ Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;

1. As = Orang bodoh ;
              keledai
2. Ass  = Pantat
3. Askum = Celakalah kamu
4. Assamu     = Racun
5. Samlekum = Matilah kamu
6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

- Salam pendek,
- Salam sedang dan
- Salam panjang telah
  dicontohkan oleh Nabi
  dan tidak merubah 
  makna aslinya :

1. *Salam pendek* : "Assalamualaikum".
- Dengan 10 kebaikan.

2. *Salam sedang* : "Assalamualaikum warahmatullah".
- Dengan 20 kebaikan.

3. *Salam panjang* : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh".
- Dengan kebaikan
  sempurna.

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

- Bila menurut anda ini
  ada manfaatnya,
  beritahu ke yang lain.

*Semoga kita termasuk hamba Allah yang memperoleh kebaikan dari membaca artikel Islami serta dapat mengamalkan-nya.*

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ

*Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.
(HR. Muslim 3509)

Jumat, 11 Agustus 2017

NU KO BERUBAH JADI FPI EH FPM???

Pesantren Mbah Kyai di Malang, Jawa Timur. bukan lagi Full Day . sudah Full Of Life.
- Selama masih hidup.
- Selama masih bujang sampai dapet jodoh.
- Selama masih nganggur sampai dapat kerja
- Selama Kyai masih hidup
- Selama ......
Tulisan tulus dari aktivis NU..

NU kok berubah jadi FPI Eh.. FPM??

Apakah FDS sudah segawat itu? Apakah Mendikbud Muhadjir Efendi sudah sekelas Snouck Hurgronje atau Van Der Plas? Sehingga perlu distigma sebagai “Pembunuh Madin”? Muhadjir yang saya kenal adalah seorang santri tulen, mustahil punya niat mematikan Madin.”

JUDUL di atas kepeleset karena diganggu cucu saya yang mengikuti FDS (Five Day School) tapi juga tetap belajar di Madin (Madrasah Diniyah). Jadi, bukan FPI yang dimaksud tapi FPM (Front Pembela Madin). Ini gara-gara saya baca viral di medsos, Ketua PWNU KH Hasan Mutawakkil bersama beberapa kiai Jawa Timur berencana akan melakukan demo besar-besaran di depan Istana Negara untuk menolak FDS dan Permendikbud No.23/2017. Mengapa? Sebab, demo kecil-kecilan yang dilakukan NU dan PKB di Pasuruan, Lumajang, Semarang dan Purwokerto Jawa Tengah tidak ngefek alias tidak digubris.

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar pun, dengan garangnya akan menarik dukungan terhadap Presiden Jokowi dalam Pelpris 2019, jika FDS tetap dipaksakan berlakunya. Bahkan NU Online, Rabu (9/8), mengutip pernyataan wakil ketua Lakpesdan PBNU, Muzaki Wahid, dengan judul bernada ancaman: "Presiden Jokowi dan Mendikbud Muhadjir akan dicatat dalam sejarah sebagai “Pembunuh Madin”. Lebih miris lagi PWNU Jatim akan mufaraqah (berpisah) dengan pemerintah jika tuntutannya tidak dipenuhi. Wow…keren…!

Dalam sejarahnya, NU pernah bersikap super keras ketika imperialis Kerajaan Protestan Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Tidak ada kompromi, pada 22 Oktober 1945, NU mengumpulkan seluruh konsul se- Jawa dan Madura mengeluarkan Resolusi Jihad fi Sabilillah. Apakah FDS sudah segawat itu? Apakah Mendikbud Muhadjir Efendi sudah sekelas Snouck Hurgronje atau Van Der Plas? Sehingga perlu distigma sebagai “Pembunuh Madin”? Muhadjir yang saya kenal adalah seorang santri tulen, mustahil punya niat mematikan Madin.

Untuk mengetahui realitas lapangan, saya lalu bertanya cucu-ku tadi. Kamu sekolah berapa hari dalam sepekan? “Lima hari, Senin sampai Jum’at. Tapi pulang agak sore, pukul 16.00. Tapi saya masih tetap ikut belajar di Madin sampai setelah maghrib,” kata cucu saya. Apa enggak capek?Enggak Kung, malah enak, hari Sabtu saya bisa ikut latihan bela diri dan les musik. Hari Ahad jalan-jalan sama ayah dan bunda,” kata sang cucu dengan ceria.

Saya sendiri, dibantu beberapa kawan yang melek tujuan utama bernegara, tujuan utama Indonesia merdeka, salah satunya adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, sejak tahun 1990 mendirikan sekolah mulai dari PAUD, TK, Madin, SD, SMP, SMA, MTs, MA dst. Dan ketika ada FDS, semua stakeholder berkumpul lalu berembuk untuk melakukan pengaturan lebih baik lagi. Tidak ada masalah, aman-aman saja. Kenapa mesti takut? Apa yang ditakuti dari FDS? Toh…di kalangan NU justru dikenal adagium FDNS (Full Day and Night School), bukan cuma FDS bro…!

Kemudian saya beralih bertanya pada keponakan yang sekolah di desa. Berapa hari kamu sekolah dalam sepekan? “Enam hari paman, Senin sampai Sabtu, pulang sekolah pukul 12.00 atau 13.00, lalu bantu bapak-ibu cari makanan ternak atau yang lain,” katanya. Sore hari? “Belajar agama di Madin,” katanya lagi. Lalu bapaknya menimpali, “ya mohon dimaklumi karena sekolahannya miskin fasilitas.”

Karena belum puas, saya lantas tanya pengurus NU yang saya anggap cukup cerdas. Apa yang dikuatirkan NU terhadap pelaksanaan FDS? “Lho…banyak, ada sembilan aspek,”jawabnya sambil nyerocos memaparkan sembilan aspek mulai dari aspek akademis, Sarpras (sarana-prasarana), ekonomi, keamanan, sosial, kompetensi akademik, mental spiritual, keharmonisan keluarga dan aspek sistem pendidikan itu sendiri. Dari sembilan aspek yang didalihkan untuk menolak FDS itu, menurut hemat saya, tidak ada satupun yang esensial. Semuanya bertumpu pada masalah teknis dan minimnya Sarpras pendidikan yang, bila segera dipenuhi, akan bisa terselesaikan dengan sendirinya.

Persoalan pokoknya, dengan demikian, bukan terletak pada kebijakan FDS atau Permendikbud No. 23 Tahun 2017 yang, ternyata juga tidak ada paksaan dalam pelaksanaannya. Bahkan anak didik juga tidak perlu pulang larut sore. Permasalahan sesungguhnya, justru pada aspek pemenuhan fasilitas sekolah baik menyangkut ketersediaan dan kesiapan guru maupun Sarpras. Inilah persoalan inti yang, seharusnya, diperjuangkan NU yang kini mulai kesengsem mengikuti pola gerakan PKB. Sejauh mana komitmen pemerintah sebagai alat negara mem-fasilitasi dunia pendidikan? Meski sudah ada BOS, BOPDA, BOS MADIN, BOS SLTA dan Bantuan Sarana Penunjang SMK, pemerintah wajib memberikan dan meningkatkan fasilitas secara merata (tanpa pandang bulu) kepada seluruh sekolah (negeri maupun swasta), sehingga tidak ada lagi sekolah yang surplus dana tapi sebagian besar lainnya justru miskin fasilitas.

Itulah akar masalah dunia pendidikan kita yang mestinya dikritisi NU secara terus menerus. Karena faktanya, di Jawa Timur saja, masih banyak anak orang miskin tidak sekolah. Masih banyak orang tua menanggung beban berat biaya sekolah anaknya. Masih banyak anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Banyak sekali gedung sekolah yang rusak (bahkan nyaris ambruk) karena tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Lalu kemana APBN dan APBD yang triliunan itu dibelanjakan?

Pendidikan gratis didengung-dengungkan para pejabat pemerintah, kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Jika hari ini kita akan memperingati 72 tahun Indonesia merdeka, rakyat di bawah hanya bisa mengelus dada sambil meratapi besarnya biaya sekolah anaknya. Rakyat kebanyakan sesungguhnya menagih janji kapan terwujudnya tujuan utama Indonesia merdeka, kapan terlaksananya tujuan utama bernegara seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan berpartisipasi dalam ketertiban dunia.

Contoh di Jawa Timur sendiri, sudah terdengar lama pernyataan para pemimpin bahwa pendidikan di wilayah paling timur Pulau Jawa ini, diselenggarakan secara seksama dan gratis mulai dari SD sampai SMA. Benarkah? Ternyata, tong kosong nyaring bunyinya. APBD Provinsi Jawa Timur yang berkekuatan 23 T, hanya sebagian kecil yang disalurkan untuk pendidikan. Tahun 2015 APBD Jatim hanya mengucurkan 2,2% untuk pendidikan, tahun 2016 menurun lagi cuma 1,7%  dan tahun 2017 bisa jadi melorot lebih rendah lagi.

Persoalan keseriusan pemerintah menyediakan anggaran untuk pendidikan inilah yang, seharusnya, dikontrol ketat oleh NU Jatim. Kenapa Gubernur Soekarwo hanya mengalokasikan belanja pendidikan sekecil itu? Kenapa politisi PKB di DPRD Jatim tidak memperjuangkan anggaran pendidikan yang layak dan cukup? Jangan malah sibuk mengajak NU demo FDS, sementara oknum legislatornya mencari setoran suap ke dinas-dinas hingga ditangkap KPK.

Banyak kawan NU yang prihatin dan mengirim pesan pendek yang intinya, menyayangkan sikap keras NU menolak FDS yang terkesan sangat politis. Mereka bahkan menganggap sikap boikot yang disertai ancaman dan demo-demo itu sudah out of control. “Sudah di luar karakter NU,” tulis mereka. Lalu saya pura-pura tanya kenapa, karena sebab apa kok akhir-akhir ini gerak dan sikap NU seperti kehilangan substansi?

Di luar dugaan, mereka serempak menjawab, “Itulah buah muktamar Jombang (Muktamar NU ke 33 di Jombang, Agustus 2015–red). Muhaimin Isandar berhasil menjadikan NU sebagai sayap PKB. Jangan-jangan sejatinya Muhaimin yang ingin jadi Mendikbud.”

Sebagai politisi sah- sah saja ingin jadi menteri. Apa lagi dia sudah berkali-kali ketemu presiden, ‘kan tinggal minta jatah saja, kata saya. “Ya memang, tapi kalau jadi menteri lagi jangan seperti dulu, ada kasus bingkisan lebaran ditaruh dalam kardus durian. Untung saja KPK sekarang gampang lupa,” jawab mereka terkekeh-kekeh. Benarkah jawaban mereka? Wallahu’alam bisshawab. (*)
By
Choirul Anam adalah Dewan Kurator Museum Nahdhatul Ulama

Kamis, 10 Agustus 2017

MENIPISNYA PENDIDIKAN KARAKTER

Suatu bangsa akan menjadi besar jika generasi penerusnya memiliki karakter yang baik dan dimulai dengan pembentukan karakter melalui proses pendidikan. Pendidikan belakangan ini banyak mendapat sorotan dari kalangan pengguna jasa dan pemerhati pendidikan baik media massa, seminar, dan berbagai kesempatan.

Hal demikian berhubungan maraknya berbagai penyimpangan prilaku yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, tindakan kriminal, pelecehan seks, perusakan, etika-etika yang mulai menipis, kurangnya tenggang rasa dan tanggung jawab menjadi konsumsi sehari-hari di media massa, yang menghawatirkan kondisi ini muncul di lingkungan pelajar dan mahasiswa seolah–olah mereka tidak mendapatkan pendidikan karakter saat kegiatan belajar mengajar. Sehingga hal ini menjadi pekerjaan yang sangat sulit di Indonesia. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif yang diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa.

Pendidikan karakter di indonesia saat ini bisa dikatakan sudah sangat kurang, begitu banyak terjadi tindakan-tindakan yang jauh dari norma-norma agama yang paling utama. Kemudian, pada pengembangan nilai-nilai kebudayaan dan karakter bangsa pada individual masing-masing sudah tertanam jelas pada pola pikir individual itu sendiri. Sehingga, karakter di dalam dirinya sudah tertanam di kehidupan nyata sebagai seorang yang bermasyarakat, religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Namun, upaya pemerintah dalam mengembangkan pendidikan karakter tidak semulus seperti apa yang diharapkan. Di antaranya, pergeseran subtansi pendidikan ke pengajaran, makna pendidikan yang sarat dengan muatan nilai-nilai moral bergeser kepada pemaknaan pengajaran yang berkonotasi sebagai transfer pengetahuan.

Perubahan subtansi pendidikan ke pengajaran berdampak langsung terhadap pembentukan kepribadian peserta didik. Perubahan ini sangat apatis atau menjadi acu tak acu kepada pembentukan kepribadian yang akan menimbulkan beberapa masalah baru. Hal ini dianggap sebagai ideologi-ideologi yang melahirkan pemahaman yang berkaitan dan lari pada norma-norma agama jika pembentukan kepribadian tidak begitu sempurna dalam sebuah penerapan fase pendidikan ke pengajaran.

Terjadinya pergeseran subtansi pendidikan ini disebabkan oleh masih kukuhnya pengaruh paham asosiasi dan behaviorisme. Pengaruh Paham asosiasi karena, asosiasi berkaitan dengan kehidupan bersama antar suatu individu dalam suatu ikatan. Apabila kelompok sosial dianggap sebagai sebuah kenyataan di masyarakat, maka individu merupakan kenyataan yag memiliki sikap terhadap kelompok tersebut terhadap suatu kenyataan subjektif. Dan behaviorisme atau aliran prilaku (juga disebut perspektif belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposi bahwa semua dilakukan organisme termaksud tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap sebagai prilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotesis seperti pikiran. Sehingga sebuah pendidikan pengajaran terhadap pembentukan kepribadian peserta didik harus dilakukan berdasarkan muatan nilai-nilai dan moral yang nyata dan tidak menyimpang nantinya.

Fachri Pribowo

Rabu, 02 Agustus 2017

KH AHMAD DAHLAN, TAK LELAH BERDAKWAH

1 Agustus 1868 hari milad KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah

Oleh M. Anwar Djaelani

Cermatilah kalimat ini: “Jika kamu berhalangan untuk bertabligh, janganlah permisi kepadaku. Tapi, permisilah kepada Tuhan dengan mengemukakan alasanmu. Setelah itu, kamu (harus) bertanggung-jawab atas perbuatanmu.” Berasal dari lisan siapakah kalimat yang sungguh menggetarkan itu?

Gesit Beramal

Kalimat bernas di atas itu diucapkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Maka, agar bisa lebih memahami konteks kalimat itu, menarik jika kita membuka ulang sejarah hidup aktivis dakwah yang tak mengenal lelah dalam mensyiarkan Islam itu.

Pada 01/ 08/ 1868 di Kampung Kauman Jogjakarta lahir bayi yang oleh KH Abubakar –sang ayah- diberi nama Muhammad Darwisy. Kawasan tempat Darwisy lahir berada tak jauh dari Masjid Besar Kesultanan Jogjakarta dan warganya dikenal taat beragama. Sementara, KH Abubakar adalah Imam dan Khatib terkemuka di masjid itu.

Darwisy keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari Wali songo (baca: Sembilan pelopor perkembangan agama Islam di Jawa). Sejak masa kanak-kanak Darwisy dikenal memiliki perhatian yang besar kepada agama. Dia pandai bergaul dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi.

Saat berusia tujuh tahun Darwisy belajar di pesantren. Di sana dia tak hanya belajar mengaji, tapi juga pengetahuan agama dan bahasa Arab. Lalu, pada 1883 –pada usia 15 tahun- dia berangkat ke Mekkah untuk berhaji sekaligus belajar selama lima tahun. Gurunya senang karena dia tergolong sebagai murid yang cerdas dan pandai bergaul.

Pada 1888 Darwisy pulang dan –seperti lazimnya saat itu- namanya berganti menjadi Haji Ahmad Dahlan. Dia-pun, diangkat menjadi pegawai Masjid Kesultanan Jogjakarta dengan gelar Khatib Amin. Kemudian, pada 1902 Dahlan ke Tanah Suci lagi. Kecuali berhaji, di sana dia tetap aktif menambah ilmu dan pengalaman. Di antara yang lebih dia dalami adalah pemikiran Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam ternama.

Di Mekkah dia bersahabat dengan Ahmad Khatib Minangkabawi (dari Minangkabau). Nama yang disebut terakhir itu telah lama mukim di Mekkah dan lebih dari sekali dia berkata kepada Dahlan: “Pengajaran Islam di Indonesia sudah jauh ketinggalan zaman. Harus diperbarui. Harus dengan cara modern. Agama Islam itu sebenarnya agama kemajuan. Dapat sesuai dengan zaman baru”. Atas pendapat sang sahabat, Dahlan merespon: “Itu tepat sekali. Memang banyak hal yang perlu diperbaharui dalam mengajarkan agama Islam”.

Pada 1904 Dahlan kembali ke Indonesia dan tetap aktif memerdalam pengetahuannya. Dia berguru ke ulama-ulama yang terkenal. Misal, dalam ilmu falak dia belajar kepada Syaikh Jamil Jambek di Bukittinggi.

Dahlan punya cita-cita pembaharuan dalam penyebaran Islam. Sebab, “Kemunduran Islam di Indonesia berasal dari masyarakat sendiri. Ajaran lama masih kuat dianut. Bercampur-baur dengan kepercayaan lainnya, sehingga ajaran Islam yang murni menjadi pudar dan kabur,” kata Dahlan.

Pada 18/ 11/ 2012 Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Muhammadiyah berarti umat Nabi Muhammad. Muhammadiyah adalah persyarikatan yang bergerak dalam bidang agama, sosial, dan pendidikan.

Pada 20/ 12/ 1912 diajukanlah permohonan kepada ‘pemerintah’ untuk mendapat status Badan Hukum dan dikabulkan pada 1914. Pada mulanya, Muhammadiyah hanya boleh di Jogjakarta saja. Maka, pada 07/05/1921 diajukanlah permohonan izin untuk seluruh Indonesia. Pada 02/ 09/ 1921 permohonan itu dikabulkan.

Setelah itu, aktivitas Dahlan makin bertambah dan makin terarah. Gerakan di bidang sosial makin diperluas. Balai Kesehatan, Rumah Sakit, Panti Asuhan, sekolah, madrasah, diusahakan untuk terus dibangun dan dibiayai dengan kekuatan sendiri dari dana yang berasal dari zakat, infaq, dan sumber-sumber halal lainnya.

Dahlan pandai memberi semangat dan pencerahan. Suatu ketika, dia berkata: “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama dengan menyumbangkan jiwamu. Jiwamu tak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu kamu akan mati. Tapi, beranikah kamu menawarkan harta-bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini. Umat Islam dan Muhammadiyah sangat membutuhkan uluran tangan dari demawan Islam untuk memajukan perkembagan umat Islam.”

Saat awal berdirinya Muhammadiyah tak sedikit tantangan yang menghadang Dahlan, baik dari kalangan keluarganya sendiri dan dari masyarakat. Muncul berbagai tuduhan dan fitnah seperti sebutan “Kiai palsu” atau “Mengajarkan agama baru”. Namun, semua tantangan itu dihadapi Dahlan dengan sabar. Hasilnya, dakwah Muhammadiyah terus berkembang.

Dalam memimpin, Dahlan tak hanya pandai memberi komando, tapi beliau juga langsung terjun ke lapangan. Alhasil, Dahlan dikenal sebagai pekerja keras dan tak kenal lelah karena tampak seperti tak pernah beristirahat.

Dahlan tak sempat mewariskan karya berupa buku. Tapi, sejumlah ajaran dan mutiara kata sempat dicatat orang, antara lain: “Umat Islam telah merosot moralnya sehingga sudah tak mempunyai keberanian seperti harimau, tapi hanya mempunyai semangat seperti kambing”.

Dahlan meninggal pada 23/ 02/ 1923. Pemakamannya mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan pemerintah. Kala itu, sekolah-sekolah –negeri dan swasta- diliburkan. Di sepanjang jalan yang dilalui jenazah, berduyun-duyun masyarakat memberikan penghormatan yang terakhir. Utusan dari cabang-cabang Muhammadiyah di Jawa datang. Sementara, yang dari luar Jawa –karena kesulitan transportasi- mengirimkan telegram duka cita. Sejumlah pemimpin pergerakan nasional lainnya juga hadir, antara lain Ki Hajar Dewantara.

Dari paparan di atas, tampak sebuah performa seorang Muslim yang menjadikan aktivitas tabligh atau dakwah sebagai kesehariannya. Maka, di titik ini kita bisa menemukan urgensi dari kalimat Dahlan yang dikutip pada paragraf pertama dari dari sejarah ringkas Sang Pencerah ini. 

Siapa Pikul

Terakhir, mari ‘jawab’ tantangan KH Ahmad Dahlan ini: “Tidak mungkin Islam lenyap dari seluruh dunia, tapi tidak mustahil hapus dari bumi Indonesia.” Pernyataan itu lalu beliau sambung dengan kalimat: “Siapakah yang bertanggung-jawab?”

Sumber