Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Desember 2017

RENUNGAN MUHASABAH

      السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

            Ghibah / Bergunjing
                      ataupun
            Berprasangka buruk
           adalah suatu ujian اللهِ
               kepada Manusia
        dijalur Hablum Minannas.
               maka hindarilah
          membaca berita gosip, 
           mendengarkan gosip
        mengenai diri seseorang

                    Firman اللهِ:
             A'uzubillahiminasy
               syaithonirrojiim"
      "Hai orang-orang yang beriman,
           jauhilah kebanyakan
               dari Prasangka.
               Sesungguhnya
       sebagian Prasangka itu
             adalah Dosa dan
     janganlah kamu mencari-cari
         kesalahan orang lain,
               dan janganlah
   sebagian kamu menggunjing
       sebagian yang lain.......".
        (Surat al-Hujarat : 12)

                   Firman اللهِ:
     "Hai orang yang beriman,
        jika datang kepadamu
                orang Fasik
      membawa suatu Berita,
                    maka
     Periksalah dengan teliti
                agar kamu
         tidak menimpakan
            suatu Musibah
       kepada suatu kaum
        tanpa mengetahui
             keadaannya
    Yang menyebkan kamu
               menyesal
     atas perbuatanmu itu"
      (Surat al-Hujarat : 6)

                      :)
            Sahabat2 ku:

    Bila kita pelaku Ghibah
     atau menyebarkannya,
              sama dalam
        Pandangan Hukum,
           kecuali apabila
      kita mengingkarinya.

Imam Bukhari Mengatakan:
         "Aku tak pernah
Mengghibahi seorangpun
          sejak Aku tahu
bahwa Ghibah itu Harram.
   Sungguh Aku berharap
              agar saat
       Bertemu الله nanti
  DIA tidak MenghisabKu
      karena Aku pernah
mengghibahi orang lain"

RENUNGAN MUHASABAH

      السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

            Ghibah / Bergunjing
                      ataupun
            Berprasangka buruk
           adalah suatu ujian اللهِ
               kepada Manusia
        dijalur Hablum Minannas.
               maka hindarilah
          membaca berita gosip, 
           mendengarkan gosip
        mengenai diri seseorang

                    Firman اللهِ:
             A'uzubillahiminasy
               syaithonirrojiim"
      "Hai orang-orang yang beriman,
           jauhilah kebanyakan
               dari Prasangka.
               Sesungguhnya
       sebagian Prasangka itu
             adalah Dosa dan
     janganlah kamu mencari-cari
         kesalahan orang lain,
               dan janganlah
   sebagian kamu menggunjing
       sebagian yang lain.......".
        (Surat al-Hujarat : 12)

                   Firman اللهِ:
     "Hai orang yang beriman,
        jika datang kepadamu
                orang Fasik
      membawa suatu Berita,
                    maka
     Periksalah dengan teliti
                agar kamu
         tidak menimpakan
            suatu Musibah
       kepada suatu kaum
        tanpa mengetahui
             keadaannya
    Yang menyebkan kamu
               menyesal
     atas perbuatanmu itu"
      (Surat al-Hujarat : 6)

                      :)
            Sahabat2 ku:

    Bila kita pelaku Ghibah
     atau menyebarkannya,
              sama dalam
        Pandangan Hukum,
           kecuali apabila
      kita mengingkarinya.

Imam Bukhari Mengatakan:
         "Aku tak pernah
Mengghibahi seorangpun
          sejak Aku tahu
bahwa Ghibah itu Harram.
   Sungguh Aku berharap
              agar saat
       Bertemu الله nanti
  DIA tidak MenghisabKu
      karena Aku pernah
mengghibahi orang lain"

Rabu, 13 September 2017

MAKIN TINGGI ILMU, MAKIN TAWADHU

Sewaktu baru kepulangannya dari Timur Tengah, Prof. DR. Hamka, seorang tokoh pembesar ormas Muhammadiyyah, menyatakan bahwa Maulidan haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi Saw., orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah dan itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi Saw.

Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi Saw saat ada yang mengundangnya. Orang-orang sedang asyik membaca Maulid al-Barzanji dan bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya. Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti itu namun setelah tua kok berubah?”

Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas.”

Di riwayat yang lain menceritakan bahwa, dulu sewaktu mudanya Buya Hamka dengan tegas menyatakan bahwa Qunut dalam shalat Shubuh termasuk bid’ah! Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Saw. Sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam shalat Shubuhnya.

Namun setelah Buya Hamka menginjak usia tua, beliau tiba-tiba membaca doa Qunut dalam shalat Shubuhnya. Selesai shalat, jamaahnya pun bertanya heran: “Buya Hamka, sebelum ini tak pernah terlihat satu kalipun Anda mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh. Namun mengapa sekarang justru Anda mengamalkannya?”

Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya. Dulu saya baru baca satu kitab. Namun sekarang saya sudah baca seribu kitab.”

Gus Anam (KH. Zuhrul Anam) mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al-Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani yang mengatakan: “Idzaa zaada nadzrurrajuli wattasa’a fikruhuu qalla inkaaruhuu ‘alannaasi.” (Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain).

Semakin gemar menyalahkan orang semakin bodoh dan dangkal ilmunya, semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin tawadhu (rendah hati), carilah guru yang tidak pernah menggunjing dan mengkafirkan siapapun.

Hal ini sama seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, itulah peribahasa yang sering kita dengar. Yang memiliki arti, orang berilmu yang semakin banyak ilmunya semakin merendahkan dirinya. Tanaman padi jika berisi semakin lama akan semakin besar. Jika semakin besar otomatis beban biji juga semakin berat.

Jika sudah semakin berat, maka mau tidak mau seuntai biji padi akan semakin kelihatan merunduk (melengkung) ke arah depan bawah. Karena batang padi sangat pendek, strukturnya berupa batang yang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang. Jadi tidak sebanding dengan beban berat biji padi yang semakin lama semakin membesar. Berbeda dengan biji padi yang kosong tidak berisi, walaupun kelihatan bijinya berbuah banyak karena tidak berisi maka seuntai biji padi tersebut akan tetap berdiri tegak lurus.

Source Islammedia