Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Desember 2017

TRIK MENGHAFAL NAMA-NAMA SURAT DALAM ALQURAN

Bagi yang punya anak disarankan save artikel ini!! Bagus banget untuk dipraktekan😄😄

👇👇👇
• Baca cerita-cerita di bawah ini, dan perhatikan kata-kata yang berhuruf besar. Kata-kata tersebut adalah nama-nama surat dalam Al Quran.
• Hafalkan ceritanya, dan kemudian tuliskan kata-kata tersebut secara berurut.
• Maka akan kita dapatkan nama surat dan nomor urutnya.

Silahkan mencoba :

🍀Cerita I ; (Surah 1 – 10)

Paman membaca AL FATIHAH sebelum memasak SAPI BETINA milik KELUARGA IMRAN yg punya anak WANITA. Sebagian HIDANGAN itu diberikan untuk BINATANG TERNAK. Kemudian paman menuju TEMPAT² YANG TINGGI, untuk mencuri HARTA RAMPASAN PERANG. Namun akhirnya paman ber-TAUBAT seperti taubatnya Nabi YUNUS.

No. Kronologi Cerita

1. Al-fatihah
2. Sapi Betina – Al-baqoroh
3. Keluarga Imran – Ali Imron
4. Wanita – An Nisa
5. Hidangan – Al Maidah
6. Binatang Ternak – Al An ‘am
7. Tempat-tempat Yang Tinggi – Al A’ Rof
8. Harta Rampasan Perang – Al Anfal
9. Taubat – At Taubah
10. Yunus

🍀Cerita II; (Surah 11 – 20)

HUD dan YUSUF melihat PETIR. Sementara itu IBRAHIM sedang berada di PEGUNUNGAN HIJR. Ia mencari LEBAH, untuk kemudian memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA untuk menemui MARYAM dan TOHA.

No. Kronologi Cerita

11. Hud
12. Yusuf
13. Petir Ar Ra’d
14. Ibrahim
15. Pegunungan Hijr Al Hijr
16. Lebah – An Nahl
17. Perjalanan Malam – Al Isro
18. Gua – Al Kahfi
19. Maryam
20. Toha

🍀Cerita III ; (Surah 21 – 30)

PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN.
Mereka seperti CAHAYA. Inilah yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL. Sementara itu, PARA PENYAIR bercerita tentang SEMUT.
Cerita itu terangkum dalam buku KISAH-KISAH.
Dalam buku itu juga diceritakan tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.

No. Kronologi Cerita

21. Para Nabi – Al Anbiya
22. Haji – Al Hajj
23. Orang-orang Beriman – Al Mu’minun
24. Cahaya – An Nur
25. Pembeda Antara Yang Benar & Bathil – Al Furqon
26. Para Penyair – Asy Syu ‘aro
27. Semut – An Naml
28. Kisah-kisah – Al Qoshosh
29. Laba-laba – Al ‘ankabut
30. Bangsa Romawi – Ar Rum

🍀Cerita IV ; (Surah 31 – 40)

LUKMAN tidak berSUJUD bersama GOLONGAN-GOLONGAN YANG BERSEKUTU melawan Nabi dan tidak juga bersama kaum SABA’. Sementara itu FATHIR & YASIN berdiri bersama orang YANG BERSHAF-SHAF & membentuk huruf SHOD. Mereka termasuk ROMBONGAN-ROMBONGAN yang memohon ampunan kepada YANG MAHA PENGAMPUN.

No. Kronologi Cerita

31. Lukman – Luqman
32. Sujud – As Sajdah
33. Golongan-golongan Yang Bersekutu – Al Ahzab
34. Saba
35. Fathir
36. Yasin
37. Yang Bershaf²– Ash Shooffat
38. Shod
39. Rombongan² – Az Zumar
40. Yang Maha Pengampun – Ghofir

🍀Cerita V; (Surah 41 – 50)

YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu adalah ttg PERHIASAN. Bukan tentang KABUT. Sementara itu banyak orang YANG BERLUTUT di BUKIT-BUKIT PASIR. Sa'at itulah MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN. Hal ini ditandai dengan KAMAR-KAMAR bertuliskan huruf QOF.

No. Kronologi Cerita

41. Yang Dijelaskan – Fushshilat
42. Musyawarah – Asy Syura
43. Perhiasan – Az Zukhruf
44. Kabut – Ad Dukhan
45. Yang Berlutut – Al Jatsiyah
46. Bukit-bukit Pasir – Al Ahqof
47. Muhammad – Muhammad
48. Kemenangan – Al Fath
49. Kamar-kamar – Al Hujurat
50. Qof

🍀Cerita VI ; (Surah 51 – 60)

ANGIN YANG MENERBANGKAN membawa awan ke bukit THURSINA. Ini terjadi sa'at BINTANG & BULAN bersinar. Sementara itu pak RAHMAN sedang berceramah tentang HARI KIAMAT. Dimana BESI hancur, WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN, dan banyak PEREMPUAN YANG DIUJI.

No. Kronologi Cerita

51. Angin Yang Menerbangkan – Adz Dzariyat
52. Thursina – Ath Thur
53. Bintang – An Najm
54. Bulan – Al Qomar
55. Ar Rahman
56. Hari Kiamat – Al Waqi ‘ah
57. Besi – Al Hadid
58. Wanita Yang Mengajukan Gugatan – Al Mujadilah
59. Pengusiran – Al Hasyr
60. Perempuan Yang Diuji – Al Mumtahanah

🍀Cerita VII ; (Surah 61 – 70)

BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG-ORANG MUNAFIK. Demikian juga pada HARI DITAMPAKKAN KESALAHAN². Ketika aku di-TALAK, aku MENGHARAMKAN dia untuk masuk rumah ini. KERAJAAN yang indah, PENA yang mahal, pada HARI KIAMAT tidak lagi berharga. Di sinilah TEMPAT² NAIK bagi amal sholih.

No. Kronologi Cerita

61. Barisan – Ash Shof
62. Hari Jum’at – Al Jumu’ah
63. Orang-orang Munafik – Al Muna Fiqun
64. Hari Ditampakkan Kesalahan² – Al Taghobun
65. Talak – Ath Tholaq
66. Mengharamkan – At Tahrim
67. Kerajaan – Al Mulk
68. Pena – Al Qolam
69. Hari Kiamat – Al Haaqqah
70. Tempat-tempat Naik – Al Ma ‘arij

🍀Cerita VIII ; (Surah 71 – 80)

NUH diganggu JIN disa'at ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas. Ia tidak menyadari datangnya KIAMAT. Sementara itu, ketika MANUSIA bertemu dengan MALAIKAT YANG DIUTUS untuk menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian, MALAIKAT² YANG MENCABUT nyawa sedang melihat IA BERMUKA MASAM.

No. Kronologi Cerita

71. Nuh – Nuh
72. Jin – Al Jinn
73. Orang Yang Berselimut – Al Muzammil
74. Orang Yang Berkemul – Al Mudatstsir
75. Kiamat – Al Qiyamah
76. Manusia – Al Insan
77. Malaikat Yang Diutus – Al Mursalat
78. Berita Besar – An Naba
79. Malaikat2 Yang Mencabut – An Nazi ‘at
80. Ia Bermuka Masam – ‘Abasa

🍀Cerita IX ; (Surah 81 – 90)

Ombak MENGGULUNG, bumi TERBELAH, ORANG² YG
CURANG pun ikut TERBELAH. Mereka seperti GUGUSAN BINTANG YANG DATANG DI MALAM HARI. Mereka berada di tempat YG PALING TINGGI. Pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.

No. Kronologi Cerita

81. Menggulung – At Takwir
82. Terbelah – Al Infithor
83. Orang-orang Yang Curang – Al Muthoffifin
84. Terbelah – Al Insyiqoq
85. Gugusan Bintang – Al Buruj
86. Yang Datang Di Malam Hari – Ath Thoriq
87. Yang Paling Tinggi – Al A ‘la
88. Hari Pembalasan – Al Ghosyiyah
89. Fajar – Al Fajr
90. Negeri – Al Balad

🍀Cerita X; (Surah 91 – 100)

MATAHARI tenggelam sa'at MALAM tiba. Dan ketika WAKTU DHUHA, Allah MELAPANGKAN rizki & menumbuhkan BUAH TIN. Sementara itu manusia yg berasal dari SEGUMPAL DARAH tidak mempunyai KEMULIAAN sedikit pun. Ini adalah BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN di dunia. Hingga KUDA PERANG YG BERLARI KENCANG pun mati.

No. Kronologi Cerita

91. Matahari – Asy Syams
92. Malam – Al Lail
93. Waktu Dhuha – Adh Dhuha
94. Melapangkan – Al Insyiroh
95. Buah Tin – At Tin
96. Segumpal Darah – Al ‘alaq
97. Kemuliaan – Al Qodr
98. Bukti – Al Bayyinah
99. Kegoncangan – Az Zalzalah
100. Kuda Perang Yang Berlari Kencang – Al`adiyat

🍀Cerita XI ; (Surah 101 – 110)

HARI KIAMAT, hari dimana manusia tidak bisa lagi BERMEGAH - MEGAHAN. Pada MASA itulah si PENGUMPAT mati diinjak-injak GAJAH. Sementara itu SUKU QURAISY bertengkar dg pak MA’UN di tepi telaga KAUTSAR. Saat itu ORANG2 KAFIR tidak mendapatkan PERTOLONGAN.

No. Kronologi Cerita

101. Hari Kiamat– Al Qori ‘ah
102. Bermegah-megahan – At Takatsur
103. Masa – Al ‘ashr
104. Pengumpat – Al Humazah
105. Gajah – Al Fi-l
106. Suku Quraisy – Quraisy
107. Ma’un – Al Ma ‘un
108. Kautsar – Al Kautsar
109. Orang-orang Kafir – Al Kafirun
110. Pertolongan – An Nashr

🍀Cerita XII (Surah 111-114)

Insya Allah 4 surat terakhir ini semua dari kita sudah menghafalnya.

No. Surat

111. Al Lahab
112. Al Ikhlash
113. Al Falaq
114. An Naas

Semoga bermanfaat...❤😊👍

Selasa, 12 September 2017

MERAH PUTIH ITU NYARIS BERGANTI PALU ARIT

Surat Kepada Maria Felicia Gunawan

Maria Felicia Gunawan yang baik,

Sejujurnya, surat ini adalah upayaku membuat sebuah upacara kata-kata atas upacara agung peringatan 17 Agustus 2015 di Istana Negara yang telah melibatkanmu sebagai tokoh kunci dalam mengukuhkan lambang sebuah negara bernama Indonesia. Kehadiranmu dalam ulang tahun bersejarah tersebut, telah membuat suasana Agustus tahun ini menjadi terasa lebih halus, dan akan menjadikan negeri ini tak jadi pupus ataupun terhapus. 

Pada sosokmu, mataku dan mata seluruh penduduk Indonesia, sekejap terkesiap menyaksikan langkah tegapmu membawa baki suci yang ditimpa kilatan cahaya matahari. Sebuah baki yang mengantarkan lembaran kain berwarna merah putih berkibar di udara pada peringatan kelahiran negeri kita ke 70.

Meski sekadar selembar kain yang kau bentangkan dengan lentik jemarimu, ada makna sekaligus harapan yang sangat panjang dan tebal dari seperempat milyar penduduk nusantara. Harapan atas negeri yang akan menjadi subur makmur loh jinawi tata titi tenteram karta raharja.

Bagaimanapun, kain itu telah menjadi sebuah pertanda, sebuah ayat yang nyata, dan menjadi ikatan pedoman sejak perjalanan leluhur kita, hingga anak cucu kita, kelak.

Kain itu telah berhasil merangkum perasaan kita semua dalam satu nasib selama 70 tahun, yang harus kita jalani dengan tawa, nestapa, bahagia, cucuran keringat, bahkan ceceran darah dan air mata. Kain itu memang telah telanjur menyimpan rentetan kisah yang tak akan cukup terwakili hanya dengan surat yang ringkas ini.

Mohon maaf, Felicia. Barangkali aku terlalu berlebihan ketika menyoal terlalu panjang dan terlalu dalam atas selembar kain. Apalagi, aku sampai menyinggung sebuah harapan.

Betapa melanturnya aku. Tapi, aku tak kuasa membantah, kain itulah yang masih menyatukan aku, kamu, dan kita semua yang sepakat hidup bersama dalam komunitas kepulauan yang terpisah oleh berbagai perairan.

Saya yakin, surat ini tak akan sanggup untuk hanya sekadar menampung berbagai kesimpulan, atas berbagai aliran kenangan yang terus membasahi kain merah putih itu.

Dengan bekal kain dalam genggamanmu itu, aku ingin berkisah kepadamu, Adindaku. Kisah yang faktual tentang sejarah bangsa kita pasca kemerdekaan. Sebuah nukilan cerita tentang tragedi berbagai ayat atau pertanda, yang hampir memberangus kain merah putih suci itu dari ingatan kita semua.

Dengan berat hati aku sampaikan, setelah proklamasi dilantunkan pada 1945, kain merah putih itu telah banyak ditorehi darah dari pertikaian antar saudara sebangsa. Tak bisa tidak. Meskipun pahit, kisah-kisah itu harus kubisikkan ke telingamu. Meskipun berisik dan akan pekak di telingamu, komohon kamu kuat untuk menyimak.

Semoga, ini tidak akan menjadi mimpi buruk dalam seluruh tidurmu di masa datang. Saya hanya ingin, dengan cerita ini, kau bisa cepat siaga terjaga, saat marabahaya datang melanda.

Jika bukan karena kegigihan para pejuang yang mempertahankan berkibarnya merah putih, barangkali sejak 1948, ketika Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) bernama Muso memproklamirkan negara komunis bernama Republik Soviet Indonesia di Madiun, Merah Putih itu tak akan kau genggam sekarang.

Atau barangkali, jika ulah Muso berhasil, Merah Putih yang kau genggam itu sudah diganti oleh gambar palu arit yang telah berulang kali membuat negeri ini berdarah-darah.

Kumohon, Felicia. Sampaikan kepada kerabat, sahabat, dan handai taulanmu, tentang berbagai kekejian para komunis di masa lalu. Atau, jika engkau berkenan, aku ingin mengajakmu dan kawan-kawan sebayamu melakukan perjalanan ziarah panjang ke berbagai kota yang menjadi saksi kebengisan PKI. Barangkali, bisa kita namakan ziarah kekejaman PKI. Jika setuju, aku telah menawarkan rute perjalanan dan paket kisah kengeriannya, sebagai pelajaran bagi kita semua.

Kota pertama yang akan kita kunjungi adalah Tegal dan sekitarnya. Kekejian pertama PKI yaitu pada penghujung tahun 1945, tepatnya Oktober. Di kota ini, ada seorang tokoh pemuda Partai Komunis Indonesia di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, berjuluk Kutil, telah menyembelih seluruh pejabat pemerintah di sana.

Dari namanya saja sudah menjijikkan, meskipun nama aslinya adalah Sakyani. Kutil ini sangat ditakuti, karena pernah memimpin pemberontakan yang gagal di Tegal dan sekitarnya, pada tahun 1926, kemudian dibuang ke Digul. Tapi, Kutil bisa lari dari Digul setelah membunuh sipir Belanda dan mencuri kapal.

Kutil juga melakukan penyembelihan besar-besaran di Brebes dan Pekalongan. Si Kutil ini mengarak Kardinah (adik kandung R.A. Kartini) keliling kota dengan sangat memalukan. Syukurlah, ada yang berhasil menyelamatkan Kardinah, tepat beberapa saat sebelum Kutil memutuskan untuk mengeksekusi Kardinah.

Kota Lebak, Banten, juga akan bersaksi kepadamu. Kekejian ke dua datang dari Ce’Mamat, pimpinan gerombolan PKI dari Lebak (Banten) yang merencanakan menyusun pemerintahan model Uni Soviet. Gerombolan Ce’Mamat berhasil menculik dan menyembelih Bupati Lebak R. Hardiwinangun di Jembatan Sungai Cimancak pada tanggal 9 Desember 1945.

Saat Felicia jalan-jalan ke Jakarta, melewati Jalan Otto Iskandar Dinata di selatan Kampung Melayu, ingatlah kisah pembunuhan tokoh nasional Otto Iskandar Dinata yang dihabisi secara keji oleh laskar hitam Ubel-Ubel dari PKI, pada Desember 1945.

Medan, ternyata banyak menyimpan kisah miris. Sebab, PKI juga menumpas habis seluruh keluarga (termasuk anak kecil) Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, pada Maret 1946, serta merampas harta benda milik kerajaan. Dalam peristiwa ini, putra Mahkota kerajaan Langkat, Amir Hamzah (banyak dikenal sebagai penyair), ikut tertumpas. Tak ada lagi penerus kerajaan Langkat.

Di belahan lain Sumatra, yaitu Pematang Siantar, PKI menunjukkan kebrutalannya. Pada tanggal 14 Mei 1965, PKI melakukan aksi sepihak menguasai secara tidak sah tanah-tanah Negara. Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) melakukan penanaman secara liar di areal lahan milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi.

Pembantu Letnan Dua Sudjono yang sedang ditugaskan di perkebunan secara kebetulan menyaksikan perilaku anggota PKI tersebut. Sudjono pun memberi peringatan agar aksi dihentikan. Anggota PKI bukannya pergi, justru berbalik menyerang dan menyiksa Sudjono. Akibatnya, Sudjono tewas dengan kondisi yang amat menyedihkan. 

Berbagai kota di Jawa timur juga akan kita kunjungi. Kekejian di Jawa Timur, yaitu saat Gubernur Jawa Timur, RM Soerjo, pulang dari lawatan menghadap Soekarno. Di tengah jalan, mobil Gubernur Suryo bersama dua pengawalnya dicegat pemuda rakyat PKI, lalu diseret menggunakan tali sejauh 10 kilometer hingga meregang nyawa, lalu mayatnya dicampakkan di tepi kali.

Padahal, di masa lalu, Soerjo merupakan pemimpin penting dalam pertempuran melawan belanda di Surabaya. Ketika suatu saat melewati Mantingan kota Ngawi, mampirlah sebentar ke Museum Gubernur Soerjo, doakanlah segala kebaikan untuk arwahnya.  

Kita harus mampir ke Madiun. Tapi, adinda Felicia jangan muntah di kota ini, karena PKI juga tega menusuk dubur banyak warga Desa Pati dan Wirosari (Madiun) dengan bambu runcing. Lalu, mayat mereka ditancapkan di tengah-tengah sawah, hingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang diantaranya wanita, ditusuk (maaf) kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan di tengah sawah.

Di kota Magetan, Algojo PKI merentangkan tangga melintang di bibir sumur, kemudian Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo menggergaji badannya sampai putus dua, lalu langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

Aku sangat miris dengan semua itu, Felicia. Tapi, cerita ini harus kita wariskan kepada adik, anak, dan cucu kita. Aku pun sebenarnya tidak kuat menerima kenyataan, ketika Kyai Sulaiman dari Magetan ditimbun di sumur Soco bersama 200 santri lainnya, sembari tetap berdzikir, pada September 1948.

Kita semua pasti langsung tersungkur mendengar kisah Kyai Imam Mursyid Takeran telah hilang tak tentu rimbanya, genangan darah setinggi mata kaki di pabrik Gula Gorang Gareng, Ayah dari Sumarso Sumarsono yang disembelih di belakang pabrik gula dan baru ketemu rangka tubuhnya setelah 16 tahun kemudian. Bahkan, para PKI mengadakan pesta daging bakar ulama dan santri di lumbung padi di Ngawi.

Hingga kapan pun, aku akan selalu menangis ketika teringat kisah Isro yang sekarang menjadi guru di Jawa Timur. Ketika dulu masih berumur 10 tahun pada tahun 1965, Isro hanya bisa memunguti potongan-potongan tubuh ayahnya yang sudah hangus dibakar PKI di pinggir sawah dan hanya bisa dimasukkan ke dalam kaleng. Sudah syukur Isro tidak terguncang jiwanya terus menerus dan bisa berkarya untuk bangsa ini.

Dalam perjalanan kita ke Blora nanti, tempat kelahiran Pramoedya Ananta Toer, kota itu akan bersaksi.  Pasukan PKI menyerang Markas Kepolisian Distrik Ngawen, Kabupaten Blora, pada 18 September 1948. Setidaknya, 20 orang anggota polisi ditahan. Namun, ada tujuh polisi yang masih muda dipisahkan dari rekan-rekannya. Setelah datang perintah dari Komandan Pasukan PKI Blora, mereka dibantai pada tanggal 20 September 1948. Sementara, tujuh polisi muda dieksekusi dengan cara keji. Ditelanjangi, kemudian leher mereka dijepit dengan bambu. Dalam kondisi terluka parah, tujuh polisi dibuang ke dalam kakus/ jamban (WC) dalam kondisi masih hidup, baru kemudian ditembak mati.

Kita juga akan mengunjungi Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Dungus. Di tempat itu, PKI akhirnya membantai hampir semua tawanannya dengan cara keji. Para korban ditemukan dengan kepala terpenggal dan luka tembak. Di antara para korban, ada anggota TNI, polisi, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan ulama.

Kota Wonogiri, Jawa Tengah, ternyata akrab dengan amis darah kekejian PKI yang menculik pejabat pemerintahan, TNI, Polisi, dan Wedana. Semua dijadikan santapan empuk PKI di sebuah ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomoyo. Saat itu, PKI menyekap 212 orang, kemudian dibantai satu per satu dengan keji pada 4 Oktober 1948.

Siapa pun akan marah ketika mendengar kisah di Kanigoro. Saat itu, Pemuda Rakyat (PR) PKI dan Barisan Tani Indonesia (BTI) sungguh-sungguh tidak beradab. Training Pelajar Islam Indonesia di kecamatan Kras, Kediri, tanggal 13 Januari 1965, diserang oleh PR dan BTN. Massa Komunis ini menyiksa dan melakukan pelecehan seksual terhadap para pelajar Islam perempuan. Tidak hanya sampai di situ, massa PKI pun menginjak-injak Al-Quran. Itu membuktikan bahwa PKI memang tidak mengenal Tuhan. Mereka pun memiliki pertunjukan Ludruk dari LEKRA dengan lakon ”Matinya Gusti Allah”, "Sunate Malaikat Jibril", dan berbagai lakon lain yang biadab dan tak bisa dimaafkan.

Lubang Buaya di Jakarta adalah bukti otentik aksi kejam PKI dengan Gerakan 30 September 1965. Tidak tanggung-tanggung tujuh orang jenderal (Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M.T. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean), dimasukkan ke dalam sumur. Para Gerwani dan Pemuda Rakyat bersorak dan bergembira ria melihat para Jenderal dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya di Jakarta Timur.

Ketahuilah, Felicia. Semua negara Komunis di dunia ini melakukan pembantaian dan penyembelihan kepada rakyatnya sendiri. 500.000 rakyat Rusia dibantai Lenin (1917-1923), 6.000.000 petani Kulak Rusia dibantai Stalin (1929), 40.000.000 dibantai Stalin (1925-1953), 50.000.000 penduduk Rakyat Cina dibantai Mao Tsetung (1974-1976), 2.500.000 rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979), 1.000.000 rakyat Eropa Timur di berbagai Negara dibantai rejim Komunis setempat dibantu Rusia Soviet (1950-1980), 150.000 rakyat Amerika Latin dibantai rejim Komunis di sana, 1.700.000 rakyat berbagai Negara di Afrika dibantai rejim Komunis, dan 1.500.000 rakyat Afganistan dibantai Najibullah (1978-1987).

Barangkali, jika waktu itu Komunisme berhasil menguasai negeri ini, kita tak akan bisa membaca karya-karya sastra relijius milik Hamka, Taufiq Ismail, dan lain-lain. Karena, Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang dikomandani oleh Pramoedya Ananta Toer, sempat menuding Hamka sebagai plagiator atas novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Tekanan politik terhadap karya-karya non Komunis dilakukan oleh Lekra. Hujatan-hujatan terhadap sastrawan anti Lekra terus dilakukan. Penyair Chairil Anwar (pelopor Angkatan 45) juga digugat dan dinilai sudah tidak punya arti apa-apa. Bahkan, buku-buku sastra karya sastrawan anti Lekra dibakar.

Bagaimanapun, Kelompok Palu arit ini telah dua kali melakukan kudeta dengan keji. Mereka menyembelih para santri, para kyai, para agamawan, para penjaga NKRI yang menolak paham kiri. Menjelang 1965, PKI hampir saja berhasil menyembelih sila pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Kebebasan Tidak Berketuhanan. Syukurlah gagal.

Pada titik ini, perkenankan saya menyebut para santri, kyai, agamawan, tentara NKRI, dan Pancasila sebagai ayat (baca; pertanda atau suara Tuhan di atas bumi). Pada kenyataannya, tahun 1948 dan 1965, semua ayat itu disembelih oleh gerombolan PKI. Maka aku memberanikan diri untuk menulis surat dan kisah-kisah ini dengan judul "Ayat-Ayat yang Disembelih".

Atas berbagai kekejaman itu, sudah selayaknya PKI dilarang selamanya.

Jika bukan karena kesigapan para mujahid Islam dan penjaga NKRI ketika itu, sekarang ini kita belum tentu bisa hidup berbangsa dan bernegara dengan tenang.

Alangkah bahagia kita saat ini. Saya dan sahabat-sahabat muslim masih bisa sholat dan mengaji Al-Quran di masjid maupun surau. Temanku Wayan masih bisa menyenandungkan Weda di Pura. Kolegaku Mulyadi di Wihara Theravada Kelapa Gading masih bisa melantunkan Tripitaka. Dan engkau adindaku Felicia, masih bisa menjinjing injil dan melaksanakan kebaktian di gereja setiap akhir pekan.

Salam Merah Putih untuk Felicia. 

Anab Afifi & Thowaf Zuharon

Dikutip dari Prolog buku Ayat Ayat yang Disembelih

Selasa, 25 Juli 2017

SURAT DARI PEJUANG HAMAS BUAT INDONESIA

Mengapa saya memilih mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia? Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, mungkin satu – satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di atas bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, ia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengataka kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung,itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam 1 musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Waaah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia, pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa kami tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negeri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negeri kalian.
Pasti ibu – ibu disana amat mudah menyusui bayi – bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko – toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalindi rumah sakit yang mereka inginkan. Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku., tidak seperti di negeri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, saudaraku!

Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi – bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar ASI mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negeri kalian katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit – parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dari informasi di televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus arbosinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu?

Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa. Memang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi – bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan – selokan atau got – got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket Israel! Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing – puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudraku, bagi kami nilai seorang bayi adaalh aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negeri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara – saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 orang diantaranya adalah anak – anak kami. Namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki – laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia, negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? apa negeri kalian di blokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencangkupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya mereka menikah di sela – sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku. Dan perdana menteri kami Ust. Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai saudaraku di Indonesia, terkadang sayapun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negeri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin kalian yang telah baca. Dan banyak buku – buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? itu karena kalian punya waktu.

Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti- nantikan saat halaqah tersebut walau hanya 1 jam. Tentu kalian bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun – rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum dan takaful disana.
Hafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang hamas disini wajib mmenghafal Surah Al – Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela – sela wkatu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan 1 diantara 100 anak yang tahun ini menghafal Al – Qur’an dan umurnya baru 10 tahun.

Saya yakin anak – anak kalian jauh lebih cepat menghafal Al-Qur’an ketimbang anak – anak kami disini. Di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak – anak belajar diantara puing – puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah di ratakan, di atasnya diberi beberapa helai daun kurma.

Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi setoran hafalan Qur’an mereka bergemuruh diantara bunyi – bunyi senapan tentara Israel. Ayat – ayat jihad paling cepat mereka hafal. Karena memang di depan mereka tafsirnya, langsung mereka rasakan. Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo – demo kalian. Subhanallah, kami sangat terhibur, karena kalian merasakan apa yang kami rasakan disini.

Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disinim termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan, saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhuwah kalian kepada kami. Do’a – do’a dan dana telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi.

Salam untuk semua pejuang –pejuang Islam, ulama – ulama dan calon Mujahidin – mujahidin kalian.

*Abdullah Gaza
Seluruh isi surat ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab, yang dikirim oleh seorang bernama Abdullah Al-Ghaza yang mengaku dari Gaza city-Jalur Gaza melalui surat elektronik.
Sumber Buletin Islam