Tampilkan postingan dengan label cita cita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cita cita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Desember 2017

INGIN SYAHID FISABILILLAH

Ini kisah nyata tentang anak anak TK (Taman Kanak Kanak) di Gaza, Palestina. Cerita ini dituturkan oleh Bambang Bimo Suryono salah seorang pencerita muslim terbaik juga guru saya yang pernah ke jalur Gaza beberapa waktu lalu.

Begini kisahnya,
Suatu hari Kak Bimo mendatangi TK di jalur gaza untuk menyalurkan bantuan dari Indonesia. Sekolah yang didatangi bernama TK Annajmul Quran (TK Bintang Quran). Sekolah ini terdiri dari 7 orang guru yang kesemuanya hafal Quran. Murid mereka berjumlah 163 orang anak yang merupakan anak yatim piatu korban perang.

Saat didatangi dan dibawakan bantuan tak satupun dari 163 anak korban perang yang menengadahkan tangan untuk meminta (mengemis), "Saya minta, saya minta roti!" Kalimat seperti ini sama sekali tidak ada. Mungkin tidak ada kamus meminta bagi anak anak palestina. Padahal mereka sangat layak diberi, betul?

Lalu saat Kak Bimo hendak bercerita pada anak TK di sana. Ia mengawali dengan memberikan beberapa pertanyaan,
"Siapa di antara kalian yang ingin jadi dokter?" Tanya Ka Bimo
Ada tiga anak perempuan yang malu malu mengangkat tangan ingin jadi dokter.

"Siapa yang ingin jadi pemain sepak bola?" Tanya Ka Bimo lagi.
Riuuuuuh 6 - 7 anak anak laki laki angkat tangan.
"Saya, saya, saya", Teriak mereka semangat.

Ketika ditanya keinginan menjadi penyanyi, juga jadi presiden tak satupun angkat tangan. Awalnya Kak Bimo sempat berprasangka buruk bahwa anak Palestina sudah tidak berani bemimpi. Lalu pertanyaan terakhir, ini paling menarik dan banyak hikmahnya untuk kita.
"Siapa yang ingin syahid fisabilillah?" Tanya Kak bimo dengan penuh semangat. Mungkin anda mengira akan banyak anak anak TK yang rata rata sudah hafal Quran itu angkat tangan, betul?

Tapi nyatanya tidak ada satupun diantara mereka yang angkat tangan, tidak ada! Anak anak soleh, dan soleha para penjaga Al Aqsa itu tidak sekedar angkat tangan tapi mereka semua kompak, tanpa aba aba, tanpa komando, mereka semua tanpa terkecuali spontan berdiri sambil kepalkan tangan dan berseru,

"Aku mau syahid, aku mau syahid, aku mau syahid"

Jawaban itu diteriakkan lantang dengan penuh keyakinan,
"Aku mau syahid menyusul ayahku di syurga, aku mau syahid seperti pamanku, aku mau syahid seperti kakakku"

Kata kata itu diteriakkan keras dan tanpa ragu dari lisan penghafal Quran yang masih alfa tanpa dosa. Seketika Kak Bimo mundur, tak tahan tangisan beliau pun pecah, dadanya guncang karena mendengar dan menyaksikan cita cita tertinggi mereka yaitu syahid fisabilillah.

Bukankah ini impian tertinggi seorang mukmin? Dan itu diteriakkan oleh anak tak berdosa dengan mata merah menyala tanda keberanian yang luar biasa. Tidak selesai sampai di situ, Kak Bimo bertanya lagi,
"Siapa yang ingin syahid lebih dahulu?" Kali ini jawaban mereka lebih dahsyat lagi.
"Saya saya saya!" Teriak mereka sambil kepalkan tangan bahkan anak anak yang tadinya hanya berdiri kini naik ke kursi agar lebih terlihat oleh penanya bahwa impian tertinggi mereka adalah syahid fisabilillah lebih awal.

Siapa yang tidak merinding, berguncang dan menangis menyaksikan peristiwa yang mungkin tidak terjadi di tempat lain selain di bumi Allah Palestina. Ayah bunda, bagaimana menurut anda kejadian ini? Pertanyaannya kira kira bagaimana cara mereka dididik? Apa yang dilakukan orangtua mereka? Sehingga masih TK saja sudah sedemikian indah cita citanya. Mati syahid itu kalau benar niat dan caranya pasti garansi syurga,anak palestina paham ini. Sejatinya semua yang mengaku beriman pada Allah cita citanya adalah syahid fisabilillah.

Sekali lagi kira kira apa yang dilakukan orangtua palestina dalam mendidik anaknya? Entahlah, satu hal yang saya tahu ini saya dengar dari seorang syeikh asal Palestina saat kunjungannya ke NTB. Beliau mengatakan ada dua ruh utama bagaimana anak Palestina dididik orangtuanya:
1. Al Quran
Sejak 0 tahun sudah didengarkan Al Quran, diajarkan Al Quran dan didik dengan Al Quran.
2. Kisah Kisah
Anak-anak di sana dikisahkan cerita dari Al Quran, cerita para nabi, sahabat dan orang orang soleh terdahulu. Ini sangat merasuk dijiwanya. Ujar salah seorang syeikh palestina.

Sudahkah kita sungguh sungguh melakukan dua hal di atas?
Ahhhh, membayangkan semua anak anak Taman Kanak Kanak tanpa dikomandoi bercita cita mati syahid demi agamanya itu sungguh sangat istimewa. Semoga buah hati kita kelak memiliki ruh Al Quran, dan menjadi pejuang Al Quran seperti anak anak palestina. Aamiin.

Selasa, 08 Agustus 2017

NAWACITA JOKOWI : CITA CITA UTOPIA

Oleh: Natalius Pigai 

Membangun Indonesia dari pinggiran. Begitulah salah satu butir cita-cita NAWACITA Presiden Joko Widodo 2014-2019. Adalah cita-cita yang enak didengar bagi kami orang-orang perdesaan seantero nusantara dari Merauke hingga Sabang dan dari Miangas ke Pulau Rote/ Sabu. Cara pandang yang seakan-akan mau metamorfosis pembangunan nasional yang selama ini berpusat di kota-kota sebagai pusat pelayanan (services centre) juga kawasan industri sebagai pusat pertumbuhan (growth centre). Memang butir cita ini mau mengobati bulir-bulir yang mendalam karena tingginya disparitas pembangunan, sosial dan ekonomi, disparitas antara Timur dan Barat Indonesia, disparitas antara desa dan kota.

Di masa lalu, orang desa adalah korban dari para ekonom yang mendapat julukan mafia barkleys yang merancang bangun negara dengan sistem kapitalis menciptakan kelompok oligarky taipan-taipan Hoakiau, juga berpaham liberal memberangus cara pandang bumi putra yang berpedoman pada nilai-nilai lokal (local values). Akibatnya kaum bumi putera tidak mempunyai kemampuan untuk bersaing dalam dunia bisnis, juga tidak mampu memasuki dunia kerja yang membutuhkan standar kompetensi dan sertifikasi. Kemampuan pengetahuan (Knowledge), ketrampilan (skills) juga perilaku dunia kerja (attitute) masih jauh lebih rendah dari negara-negara lain.

Membangun Indonesia dari pinggiran sebuah antitesa dari konsep efek tetesan ke bawah (trikle down effect) yang primadona di negara-negara selatan-selatan di dunia ketiga di 70-an sampai medio 90-an. Konsep pembangunan yang digandrungi para dosen ekonomi pembangunan di universitas ternama di dunia ketiga, termasuk Universitas Gajah Mada Yogya dan Universitas Indonesia. Kecuali Profesor Doktor Mubyarto pencetus Inpres Desa Tertinggal (Iki Duit Tangkarko dalam bahasa Jawa) adalah penentang konsep kapitalisme borjuasi dan liberalisme. Sayang, Mubyarto, pejuang ekonomi Pancasila berjuang sendirian dan dikucilkan bahkan tidak pernah diberi peran strategis di negeri ini. Lebih dari 50 tahun, sekolah tinggi pembangunan masyarakat desa diabaikan, Jurusan ilmu pemerintahan desa, jurusan sosiatri pembangunan desa dipandang sebelah mata.

Sebenarnya praktek membangun Indonesia dari pinggiran bukan hal baru bagi pembangunan nasional. Di negara Tanzania baik di Sanzibar maupun juga Tanggayika Prof Julius Nyerere menerapkan konsep sosialisme ujama yang menghidupkan semangat kebangsaan dengan menggairahkan agrobisnis di perdesaan, demikian pula penerapan konsep Felda di Malaysia, dimana roda pertumbuhan ekonomi dihidupkan oleh industri perkebunan dengan mobilisasi sumber daya manusia di wilayah2 Felda, demikian pula konsep Semaul undong di Korea yang membangun kota dari pinggiran. Di paruh kedua 70-an dan awal 80-an negeri ini juga pernah belajar dari Tanzania khususnya konsep transmigrasi dan pembangunan desa . Jejak kaki Julius nyerere 1981, terukir di SMA Negeri di Baturaja, Sumatera Selatan. Oleh Karena itu, membangun Indonesia dari pinggiran bukanlah hal yang baru.

Pertanyaannya adalah apa program nyata dan hal baru dari konsepsi NAWACITA membangun Indonesia dari pinggiran? Sebelum mempertanyakan program nyata, kita mesti bertanya, lagi intensi dasar munculnya butir membangun Indonesia dari pinggiran sebab konsep membangun Indonesia dari pinggiran telah ada sebelum pemerintahan Jokowi bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Program kolonisasi penduduk Grobogan dan Purwodadi ke Kedong Tataan, Kalianda, Lampung Selatan melalui politik etis Belanda atas Perjuangan Dowes Dekker atau Suwardi Suryaninggrat, dkk 1912 yang kisahnya dilukiskan dengan baik oleh peneliti Perancis, Patric Levang berjudul Tanah Sabrang. Setelah Indonesia merdeka 1945, program kolonisasi diubah sebutannya menjadi transmigrasi, ciri khas Bangsa Indonesia bahkan program asli Indonesia karena istilah Transmigrasi tidak ditemukan dalam kamus bahasa asing termasuk dalam ensiklopedia terlengkap dunia; Britanica maupun juga Americana. Lalu apa yang baru dalam program Jokowi? Tentu saja yang baru adalah istilah NAWACITA, butir cita-citanya tidak ada yang baru, sudah lasim makin menua dilaksanakan di negeri ini.

Mendengar, membangun Indonesia dari pinggiran memang mengharu-biru kan perasaan bagi orang-orang pinggiran dan yang terpinggirkan. Namun memasuki 2,5 masa pemerintahan Jokowi berbagai persoalan korupsi terkait insfrastruktur pedesaan, korupsi dana desa oleh pelaksana di desa, kabupaten dan juga kementerian desa makin meyakinkan kita bahwa NAWACITA hanya adagium simbolik, cita- cita tidak substansial bahkan utopia perubahan.

Penduduk pedesaan adalah orang-orang yang lahir, tumbuh dan berkembang di daerah terpencil, terisolasi, jauh dari hiruk pikuk modernisasi, bahkan desa diasosiasikan sebagai ujung dari pembangunan. Kemiskinan dan kebodohan yang menumpuk di perdesaan seringkali dikapitalisasi para penguasa dan politisi untuk kepentingan, setelah berkuasa ditinggalkan begitu saja.

Ketidakmampuan Pemerintah saat ini bukan karena tidak memiliki sumber daya yang cukup, baik anggaran, personel dan fasilitas tetapi hanya Karena pemimpin tidak Empati, tidak tulus, tidak konsisten membangun desa. Anggaran desa saat ini cukup besar, bahkan paling besar dalam sejarah Republik Indonesia. Selain anggaran pembangunan desa di kementerian desa sebesar 60 Trilyun, juga terdapat di berbagai satker seperti; PUPR, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Koperasi, kementerian Dalam Negeri. Namun sayangnya kita tidak memiliki kemauan untuk merubah (unwilling to change), kita tidak mau melakukan revolusi dalam berfikir (revolusio normain), dan juga tidak mau menjadi orang gila dalam membangun di negeri ini. Karena Revolusi Mental jargon yang mudah dilukiskan, gampang diucapkan tetapi sulit diwujudkan!

Teropongsenayan