Tampilkan postingan dengan label donald trump. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label donald trump. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Desember 2017

PBB TOLAK PENGAKUAN YERUSALEM IBU KOTA ISRAEL

Alhamdulilah berkat doa seluruh kaum muslimin di seluruh dunia Baitul Maqdis kita bisa terselamatkan Sesuai hasil voting: PBB tolak pengakuan Yerusalem ibu Kota Israel. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memilih untuk menolak deklarasi kontroversial Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel. Dalam pemungutan suara yang dilakukan 193 negara anggota dalam Majelis Umum PBB, sebanyak 128 negara menolak pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Hanya 9 negara yang mendukung. Sementara 35 negara abstain.

9 Negara yang mendukung Yerusalem sebagai Ibo Kota Israel adalah:
AS,
• Israel,
• Guatemala,
• Honduras,
• Togo,
• Mikronesia,
• Nauru,
• Palau, dan
• Kepulauan Marshall.

Logo PBB (ilustrasi)

Klaim Trump Menuai Kontroversi

Pada awal Desember lalu, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal ini memicu protes dari berbagai negara, khususnya negara-negara Arab dan Muslim.

Setelah gelombang protes, Dewan Keamanan PBB menggelar sidang untuk melakukan pemungutan suara guna menyetujui resolusi yang menentang tindakan unilateral AS terhadap Yerusalem. Sebanyak 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi tersebut, namun AS memvetonya.

Keputusan AS untuk memveto resolusi Dewan Keamanan mendorong digelarnya sesi khusus di Majelis Umum PBB. Di Majelis Umum, AS tidak memiliki hak veto seperti di Dewan Keamanan PBB. Untuk mempertahankan keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, AS pun sempat mengancam negara-negara anggota PBB agar tidak menentang pengakuan tersebut. Bila penentangan atau penolakan dilakukan, AS sesumbar akan memotong bantuan finansial ke negara-negara terkait.

PBB Menyetujui Resolusi

Majelis Umum PBB, pada Kamis (21/12), telah menyetujui resolusi yang dengan tegas meminta Amerika Serikat (AS) menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Resolusi ini disepakati 128 negara dan ditolak sembilan negara lainnya. Sedangkan 35 negara memilih abstain.

Dilaporkan laman BBC, dalam teks resolusi yang disusun Turki dan Yaman tersebut memang tidak disinggung secara eksplisit tentang diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh AS. Namun dinyatakan terkait penyesalan mendalam atas keputusan baru-baru ini mengenai status Yerusalem.

Resolusi tersebut pun mengatakan, "Setiap keputusan dan tindakan yang dimaksudkan untuk mengubah karakter, status, atau komposisi demografis Kota Suci Yerusalem, tidak memiliki efek hukum, tidak berlaku, dan harus dibatalkan sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan (PBB) yang relevan."

Kendati AS sempat melontarkan ancaman sebelum sesi khusus Majelis Umum PBB digelar, namun hal itu tak mempengaruhi negara-negara yang menentang diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sebanyak 128 negara memilih "Ya" sebagai tanda menyetujui resolusi yang tidak mengikat tersebut.

Dengan hasil ini, pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dinyatakan batal dan tidak berlaku lagi seperti dikutip dari USA Today, Jumat (22/12/2017).

Walaupun sebelumnya, Trump sempat mengancam akan memotong bantuan bagi negara anggota PBB yang menolak pengakuan Yerusalem. Namun, ternyata 128 negara-negara itu tak takut dengan ancaman Trump. Hasil voting Majelis Umum PBB tidak bisa diveto. Berbeda dengan voting di Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara dimana AS punya Hak Veto. Hasil voting ini disambut publik sosial media dunia dengan hastag :
#PalestineVictory dan
#United4Quds.

Jumat, 08 Desember 2017

DONALD TRUMP PEMANTIK PERANG DUNIA III

PRESIDEN DONALD TRUMP MENJADI PEMANTIK PERANG DUNIA KETIGA PEMUDA DAN MAHASISWA ISLAM HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menyebut kota Yerusalem sebagai ibukota Israel telah bertentangan dengan kebijakan politik luar negeri AS selama tujuh decade terkait status Yerussalem. Dan juga bertengtangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dan Mahkamah Internasional, Diantaranya:
1. Resolusi 242 (22 November 1967) Israel diperintahkan untuk menarik pasukannya dari wilayah pendudukan yang dikuasai pada perang 1967. Termasuk bagian timur dari kota Yerussalem.
2. Resolusi 252 (21 Mei 1968) Israel diminta menghentikan tindakan-tindakan yang terindikasi akan mengubah status Yerusalem. Ini termasuk mengambil alih lahan dan property milik Palestina.
3. Resolusi 465 (1 Maret 1980) Israel dilarang membuat undang-undang yang menyatakan perubahan status Yerusallem.
4. Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkan.
5. Resolusi 2334 (23 Desember 2016) Israel dikutuk karena pembangunan pemukiman di wilayah pendudukan termasuk di kota Yerussalem. Pemukiman itu dinilai tidak memiliki validitas dan pelanggaran jelas terhadap hukum internasional.

Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik  Arab-Israel, Yang lebih luas. 2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandangn pihak Yahudi dan Arab sebagai perjanjian untuk mendirikan “tanah air” bagi kaum Yahudi di Palestina. Kemudian tahun 1920-1948 mandat britania atas palestina yang memicu  Revolusi arab 1936-1939 yang dipimpin Amin Al Husseini. Tak kurang  dari 5.000 warga Arab terbunuh. Sebagian besar disebabkan oleh Inggris. Dan hanya ratusan orang yahudi tewas. Atas dukungan Inggris Israel memenangkan peperangan dan mendeklerasikan Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948.

Dari pemetaan konflik di atas bahwa Israel bukanlah sebuah bangsa yang besar dan kuat tanpa dukungan dari Negara-Negara yang melindunginya, jika dahulu Israel dibela oleh inggris. Maka era sekarang Israel sedang diperjuangan dan dibelah oleh Amerika Serikat. Maka era ini akan memasuki proses baru dalam konflik Israel Palestina, konflik ini akan berkepanjangan serta memunculkan kekuatan baru yaitu solidaritas Dunia Islam yang digerakkan Turki yang juga pernah menjadi korban propaganda yahudi di masa lalu.

Trump sudah tidak megindahan Resolusi PBB dan Keputusan Mahkamah Internasional, seperti masa Inggris yang tidak mengindahkan kecaman Internasional waktu mempersilakan Israel mendeklarasikan kemerdekaan.

Konfilik selanjutkan akan melahirkan gerakkan dari arus bawah kekuatan Rakyat Palestina dibawah pimpinan HAMAS kemudian akan didukung Faksi FATAH, sehingga menimbulkan gelombang besar perlawanan Rakyat Palestina. Jika trump ikut memobilisasi kekuatan maka kemungkinan skenario kekuatan Turki dan beberapa Negara Islam akan terlibat dalam konflik besar ini. Jadi bukan lagi konflik Negara arab dan Israel tapi konflik Dunia Islam dan Israel beserta sekutunya.

Jika itu terjadi maka akan meyeret semua element Mahasiswa dan Pemuda Islam Dunia, untuk terlibat lebih jauh. Termasuk mobilisasi kekuatan untuk melakukan perang Dunia ketiga, maka Pemuda Islam harus siap menghadapi skenario ini dengan mempersiapkan diri:
1. Pemuda islam harus memperkuat tauhid dan nilai-nilai keislama dalam setiap roda kehidupannya
2. Menggerakkan diri untuk memobilisasi gerakkan Sholat Shubuh sebagai awal kekuatan solidaritas Mahasiswa Islam melawan Yahudi dan Sekutunya.
3. Meningkatkan Kapasitas Intelektual untuk menghadapi perang intelektual sebelum perang fisik, termasuk perang dunia maya.
4. Melatih fisik dengan memiliki kemampuan memanah, berenang, dan berkudah karena setelah perang besar yang melibatkan kekutan tekhnologi maka akan menimbulkan kehancuran yang berdampak pada matinya alat teknologi perang dan kembali pada kekuatan manual. Kemungkinan besar pemuda usia 17-25 tahun saat ini akan meraskan perang manual.
5. Mahasiswa Islam harus mampu membaca peta perpolitikan Internasional termasuk sandi wara politik antara komunis Korea utara dan Amerika Serikat untuk mematikan dan membunuh kekuatan baru yaitu kekuatan Dunia Islam

Kesimpulan

Sejarah telah membuktikan bahwa Bangsa Yahudi Israel adalah bangsa penjajah yang terus merampas haknya rakyat palestina, didalam proses penjajahan yang dilancarkan Yahudi mendapat dukungan dari Negara Inggris dan sekutunya. Saat ini Inggris telah di gantikan oleh Amerika Serikat di Bawa kepemimpian Donal Trump untuk melanjutkan penjajahan bahkan mengambil alih bangsa Palestina. Hal ini melanggar resolusi PBB dan Hukum Internasional serta memancing kecaman dunia, akan tetapi dengan kesombongan Amerika Serikat tidak menggubris sehinggan mengkhawatirkan akan menimbulkan konflik lebih besar bukan lagi bangsa Arab Israel tapi Dunia Islam dan Israel beserta sekutunya, hingga memantik perang dunia ketiaga. Maka dari itu mahasiswa dan pemuda islam sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi konflik ini karena hal tersebut pasti akan terjadi sebelum terjadinya kiamat.

By Zainuddin Arsyad
(Presiden Aliansi Mahasiswa Muslim ASEAN, Aktifis Mahasiswa Nasionalis, Tapol 2017)