Tampilkan postingan dengan label dosa besar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosa besar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

PENGAKUAN YANG TERTUNDA

Pak, pada akhirnya kami harus akui Bapak Benar. Bertahun-tahun selama menimba ilmu di sekolah tak hentinya kami dicekoki pelajaran Penebal Nasionalisme. Pelajaran bagaimana mencintai Bangsa ini dan bagaimana menjaga Kedaulatannya dari berbagai ancaman, terutamanya komunis.

Dulu kami hampir muak serta bertanya-tanya ke arah mana Bapak akan membawa kami dengan doktrin-doktrin Junjung Pancasila dan anti komunis. 12 tahun menimba ilmu di sekolah lagi dan lagi otak kami diasup, mental kami diperkokoh dengan pelajaran yang sama. Kami layaknya robot yang hanya tahu Pancasila itu harus dijaga, paham komunis itu berbahaya dan tidak boleh diberi ruang dalam NKRI. Tidak cukup di bangku sekolah, di layar kacapun doktrin-doktrin yang sama hampir tidak pernah absen. Lagu Garuda Pancasila beserta gambar dan penjelasan kelima silanya jadi menu wajib pembuka Siaran, pun saat akhir siaran lagu-lagu penggelora Patriotisme tayang bergantian.

Terus terang kami jenuh dengan tayangan yang itu-itu saja, gerutu kami ; ga di sekolah ga di rumah, semua sama ! Rasanya waktu itu sangat jarang anak usia sekolah tidak hapal Pancasila, Teks Proklamasi, UUD'45, Sumpah Pemuda dan Lagu-lagu Nasional. Kesemuanya itu wajib dan jadi "Dosa Besar" jika sampai tidak lancar dalam pengucapannya.

Ketika TV Swasta mulai tumbuh giranglah hati sebab kami tidak harus lagi "makan" tayangan-tayangan wajib tersebut.Kepala kami seperti bebas dari jarum suntik berisi doktrin-doktrin yang bikin kram otak.

Doktrin-doktrin tentang Ideologi Negara dan Patriotisme terlelap bersama waktu seiring lengsernya Bapak sebagai Pemimpin. Namun itu semua tidak lenyap, hanya tidur sejenak. Alarm bernama Perpecahan dan Kebangkitan PKI membangunkan doktrin-doktrin tersebut dari tidurnya. Bekal yang Bapak selipkan ke jiwa anak bangsa semasa Bapak memimpin sekarang punya arti dan harga yang tidak terukur. Bapak telah menamengi jiwa kami dengan doktrin-doktrin yang pernah kami cap menjemukan. Sekarang kami tahu bahwa kami dipersiapkan sebagai para penjaga kedaulatan Ibu Pertiwi, kami yang mencintai tanah air ini dengan Kebanggaan.

Kami, Bapak tempa agar selalu mawas diri supaya tidak lagi kecolongan oleh musuh yang sama bernama komunisme.

Komunisme yang saat ini mencoba bangkit dari mati surinya dengan membonceng kaum hedonis pemuja kebhinekaan, bukan Bhinneka Tunggal Ika. Berkat bekal yang Bapak beri niscaya kami siap melawan gempuran dan tidak akan kami biarkan Bangsa ini tunduk pada penguasa tamak berhaluan kiri (komunis).

Terima kasih Pak untuk bekalnya. Semoga allah swt menempatkan Bapak di tempat terindah di sisinya yakni SURGA

Aamiin ya Rabb...

PENGAKUAN YANG TERTUNDA

Pak, pada akhirnya kami harus akui Bapak Benar. Bertahun-tahun selama menimba ilmu di sekolah tak hentinya kami dicekoki pelajaran Penebal Nasionalisme. Pelajaran bagaimana mencintai Bangsa ini dan bagaimana menjaga Kedaulatannya dari berbagai ancaman, terutamanya komunis.

Dulu kami hampir muak serta bertanya-tanya ke arah mana Bapak akan membawa kami dengan doktrin-doktrin Junjung Pancasila dan anti komunis. 12 tahun menimba ilmu di sekolah lagi dan lagi otak kami diasup, mental kami diperkokoh dengan pelajaran yang sama. Kami layaknya robot yang hanya tahu Pancasila itu harus dijaga, paham komunis itu berbahaya dan tidak boleh diberi ruang dalam NKRI. Tidak cukup di bangku sekolah, di layar kacapun doktrin-doktrin yang sama hampir tidak pernah absen. Lagu Garuda Pancasila beserta gambar dan penjelasan kelima silanya jadi menu wajib pembuka Siaran, pun saat akhir siaran lagu-lagu penggelora Patriotisme tayang bergantian.

Terus terang kami jenuh dengan tayangan yang itu-itu saja, gerutu kami ; ga di sekolah ga di rumah, semua sama ! Rasanya waktu itu sangat jarang anak usia sekolah tidak hapal Pancasila, Teks Proklamasi, UUD'45, Sumpah Pemuda dan Lagu-lagu Nasional. Kesemuanya itu wajib dan jadi "Dosa Besar" jika sampai tidak lancar dalam pengucapannya.

Ketika TV Swasta mulai tumbuh giranglah hati sebab kami tidak harus lagi "makan" tayangan-tayangan wajib tersebut.Kepala kami seperti bebas dari jarum suntik berisi doktrin-doktrin yang bikin kram otak.

Doktrin-doktrin tentang Ideologi Negara dan Patriotisme terlelap bersama waktu seiring lengsernya Bapak sebagai Pemimpin. Namun itu semua tidak lenyap, hanya tidur sejenak. Alarm bernama Perpecahan dan Kebangkitan PKI membangunkan doktrin-doktrin tersebut dari tidurnya. Bekal yang Bapak selipkan ke jiwa anak bangsa semasa Bapak memimpin sekarang punya arti dan harga yang tidak terukur. Bapak telah menamengi jiwa kami dengan doktrin-doktrin yang pernah kami cap menjemukan. Sekarang kami tahu bahwa kami dipersiapkan sebagai para penjaga kedaulatan Ibu Pertiwi, kami yang mencintai tanah air ini dengan Kebanggaan.

Kami, Bapak tempa agar selalu mawas diri supaya tidak lagi kecolongan oleh musuh yang sama bernama komunisme.

Komunisme yang saat ini mencoba bangkit dari mati surinya dengan membonceng kaum hedonis pemuja kebhinekaan, bukan Bhinneka Tunggal Ika. Berkat bekal yang Bapak beri niscaya kami siap melawan gempuran dan tidak akan kami biarkan Bangsa ini tunduk pada penguasa tamak berhaluan kiri (komunis).

Terima kasih Pak untuk bekalnya. Semoga allah swt menempatkan Bapak di tempat terindah di sisinya yakni SURGA

Aamiin ya Rabb...

Selasa, 12 September 2017

TNI BERESIKO MENANGGUNG DOSA BESAR SEJARAH HANCURNYA BANGSA INDONESIA

Saat dihubungi oleh Kantor Berita Nasional (KBN) di Jakarta (14/4/2017), Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Nasional, Iskandarsyah Siregar, mengatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam keadaan yang sangat jauh dari cita-cita berbangsa dan bernegara. Ketimpangan ekonomi yang terjadi dimana si miskin bertambah miskin dan tidak berdaya memperbaharui nasibnya hingga terusir dari tanah kelahirannya, kekerasan fisik dan brutalitas yang terjadi dalam interaksi dan komunikasi antar warga, dan carut-marut dunia politik yang menunjukan perilaku menjijikan para pemainnya merupakan gejala dan tanda-tanda kehancuran bangsa Indonesia. “Sepanjang hidup saya dan dari tinjauan referensi sejarah yang saya pelajari dan pahami, saya duga saat ini adalah kondisi terburuk dalam sejarah bangsa Indonesia. Saat dimana terjajahnya bangsa Indonesia tanpa perlawanan dapat berujung pada perbudakan dan genosida kultur seperti yang terjadi pada bangsa pribumi di Singapura, Australia, atau Afrika.”, ujar Iskandarsyah.

Malpraktik kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengabaikan tuntunan Pancasila sebagai teknologi kehidupan adalah penyebab primer dari semua gejala buruk di atas. Tapi yang lebih penting dari semua hal tersebut adalah bagaimana bangsa ini merespon keadaan yang semakin jauh dari ideal ini. “Sekarang atau tidak sama sekali. Sudah saatnya bangsa ini bangkit dan memperbaiki nasibnya sendiri. Jangat terlena dengan hembusan bius hedonisme, apatisme, atau rasa takut. Ingat! harganya adalah masa depan anak cucu kita nanti. Seperti bangsa Melayu di Singapura yang sekarang diperlakukan seperti budak oleh imigran Cina yang kini menguasai tanah air Melayu tersebut.”

Dalam keadaan dan kondisi rakyat Indonesia yang terus dan semakin terinjak hingga mulai kehabisan energi untuk sekedar bertahan ini, Iskandarsyah dengan tegas menyatakan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus keluar dari barak dan mengambil peran untuk membebaskan penyiksaan terhadap rakyat Indonesia dan menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. “TNI harus menjalankan sumpah Sapta Marga yang dianutnya. Buktikan bahwa benar adanya TNI bersama rakyat. Selamatkan bangsa ini! Kembalilah pada fitrah dan kodrat terciptanya TNI! TNI adalah abdi rakyat. Jangan sampai sejarah mencatat diamnya TNI sebagai dosa besar dalam rangkaian sistematis hancur dan punahnya bangsa Indonesia. Inilah resiko, beban, dan tanggung jawab yang harus ditanggung oleh TNI sebagai penanggung jawab utama penjaga matra pertahanan dan penyelamatan NKRI.”, tutur Iskandarsyah menutup pembicaraan.

Soure : Kantor Berita Nasional (KBN)