Tampilkan postingan dengan label framing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label framing. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2017

TERORISME YANG SESUNGGUHNYA

Kita berduka atas kasus terorisme yang terjadi di Las Vegas, yang dianggap sebagai teror era modern yang terparah dalam sejarah Amerika, kita tegas tak menyetujuinya. Pelakunya, Stephen Paddock menewaskan sampai saat ini 58 orang dan melukai 500 lebih orang dalam aksi brutalnya, rambut pirang, kulit putih dan umur 64 tahun.

Hanya tiap peristiwa menyisakan pelajaran yang bisa kita ambil, dan dalam hal ini adalah, "Andai Pelakunya Muslim". Tentulah semua dunia lebih sibuk daripada saat ini. Andai namanya Ahmad Azzam, atau Muhammad Fatih, tentulah kejadian ini akan jadi lebih heboh, lebih banyak dibahas, dan ujung-ujungnya War On Terrorism digelar lagi.

Tapi tidak, hampir tidak ada label "teroris" dari Amerika untuk Stephen, tak ada pengaitan antara agama dan aksinya, atau rasnya, atau keluarganya, atau kewarganegaraannya.

Ramai mengatakan, "Pelakunya tidak beragama, pelakunya tidak ada afiliasi dengan kelompok apapun". Intinya, bila pelaku bukan Muslim, semua bisa lebih cepat diterima.

Tidak ada kata "jihad" disematkan di berita, sebagaimana bila pelakunya Muslim, tidak ada framing "Radical Muslim" di semua judul-judul, hanya kata netral "Mass Shooting".

Padahal, jika Amerika mau jujur, bila mereka membenci tindakan teror, dan menyalahkan teror itu pada kaum Muslim, mereka justu harus lebih takut dengan diri mereka sendiri. Sebab seperti kata Obama pada 2015 "the number of people who die from gun-related incidents around this country dwarfs any deaths that happen through terrorism". Datanya, "Kematian Tersebab Terorisme" 1920 - 2014 sebanyak 3.521 orang, sedang "Kematian Sebab Kekerasan Bersenjata" 2015 saja, 8.512 orang (Sumber: Global Terrorism Database, Gun Violence Archive)

Ini bukti bahwa manusia di dunia lebih banyak terpengaruh pencitraan dibanding fakta sebenarnya. Membenci sesuatu yang mereka tak pahami, mencintai juga buta saja.

Faktanya Islam justru agama yang mengajarkan keseimbangan, perdamaian, mencintai kehidupan manusia, dan menjadikan manusia seutuhnya, sesuai fitrah dirinya. Banyak orang makan pencitraan mentah-mentah, lalu latah ikut-ikutan mengolok-olok, seolah-olah Islam adalah inspirasi bagi tindakan-tindakan terorisme, padahal sebaliknya. Begitupun aktivis sosial media sampai penguasa yang selama ini teriak tentang bahaya radikalisme dan terorisme. Tengok, negeri paling banyak terorisnya, dan itu bukan dari negerimu.

Terror kembali terjadi di Amerika, penembakan massal di Las Vegas itu memakan 58 korban sampai saat ini, dan lebih dari 500 yang terluka. Pelakunya bernama Stephen Paddock, berusia 64 tahun.

Insiden ini diklaim sebagai teror terparah dalam sejarah modern Amerika. Namun berita ini tidak lebih terkenal dibandingkan dengan peristiwa 9/11, atau peristiwa lain yang melibatkan Muslim. Berita-berita tidak mengaitkan agama pelaku dengan serangan teror, tidak juga mengaitkan dengan kewarganegaraannya, bahkan tidak mengambil judul 'terorisme'. Tapi ini hanya di-framing sebagai 'mass killings', 'gunmen' dan sebagainya.

Dan menyisakan satu tanya bagi kita. "Andai Pelakunya Muslim?".

Selasa, 12 September 2017

KBOHONGAN BERITA METRO TV

KEBOHONGAN METRO TV

Repost from @indonesiabertauhidid

Entah nasib apa... di hotel tempat saya menginap di Makkah ada satu-satunya siaran TV kabel nasional yaitu Metro TV, ada TV One tapi sinyalnya suka Scrambled, akhirnya saya coba berdamai dengan situasi ini dan mencoba berkepala dingin.

Ternyata ada hikmahnya, di tanah suci ini saya setiap hari dibuat kaget dan geleng-geleng kepala dengan kebohongan, kecongkakan dan kebencian Metro TV terhadap suatu entitas yang bernama ISLAM.

Khusus untuk liputan Rohingya, kebrengsekan pemberitaan stasiun TV milik konglomerat Misionaris Jesuit James Riady dan elit editorial nya dikuasai oleh para aktivis pembenci Islam ini terletak pada substansi berita :

1. Dalam setiap pemberitaan tragedi Rohingya, redaksional pemberitaan Metro TV tidak pernah mengucapkan kata ISLAM.

2. Metro TV gencar membentuk opini bahwa yang terjadi adalah kekerasan dan bukan genosida, kekerasan berarti menyalahkan korban dan pembantai sekaligus.

3. Metro TV selalu memojokkan pihak yang marah dengan pembantaian Rohingya.

4. Metro TV berlaku seperti Menteri Penerangan era Orde Baru yang terus mengkampanyekan apa yang dilakukan pemerintahan Jokowi.

5. Metro TV juga kerap memojokkan DPR yang dinilai "hanya bisa marah dan tidak ada kerja nyata" karena DPR sangat gencar mengkampanyekan pemutusan hubungan diplomatik.

Ini adalah stasiun iblis yang bermuka media..... Tambahan. Saya ingat waktu kasus FPI vs GMBI. Metro tv menggunakaN line berita "Ormas FPI BENTROK DENGAN ORMAS LAIN (kenapa tida di tulis GMBI) "

Dengan framing berita begitu maka penonton secara tidak sadar, otak kita akan berpikir "wahhh FPI lagi, FPI lagi yg ricuh", padahal di lapangan FPI yang jadi korban, dan ini emang teknik dalam konspirasi buat nyerang islam.