Tampilkan postingan dengan label mirza ghulam ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mirza ghulam ahmad. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 November 2017

KEGANJILAN AHMADIYAH

Diterjemahkan oleh Abu Fatimah, Lc
(Ar-Risalah Institute)

DAFTAR ISI

1. TAHUN KELAHIRAN YANG BERBEDA-BEDA   
2. MIRZA GULAM AHMAD DAN ASAL USULNYA 
3. PENGAKUAN-PENGAKUAN MIRZA GHULAM AHMAD
4. PERUBAHAN ISI TADZKIRAH AGAR COCOK DENGAN KENYATAAN
5. BENTUK-BENTUK PENGHINAAN MIRZA GHULAM 
6. PENYAKIT-PENYAKIT MIRZA GHULAM AHMAD
7. MIRZA GHULAM AHMAD, “NABI” DARI INDIA YANG BODOH
8. SEJARAH MUBAHALAH
9. PARA SAKSI KEMATIAN MIRZA GHULAM AHMAD

Ahmadiyah selalu menjadi polemik di seluruh dunia. Kaum muslimin tetap berkeyakinan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat, karena berkeyakinan ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

            Untuk menguatkan dakwaan kita bahwa Ahmadiyah adalah sesat, maka dengan ini saya akan paparkan beberapa hal yang saya nilai ganjil. Mulai dari tahun kelahiran Mirza Ghulam Ahmad yang berbeda-beda, ramalan yang tidak pernah terbukti, melakukan pembohongan (padahal seorang nabi tidak akan pernah berbohong), mengajak bermubahalah, eh malah Mirza Ghulam Ahmad yang mati kolera. Tetapi, para pengikutnya tetap saja membela kesesatan ini. Mungkin saja, di balik pembelaan mereka ini ada udang di balik batu. Ada uang yang melimpah bantuan dari asing, atau ada kepentingan politik yang ingin dicapai di balik semua ini.

Mari kita simak satu persatu kesesatan Ahmadiyah ini. Di antaranya :
            
1. TAHUN KELAHIRAN YANG BERBEDA-BEDA

            Mengapa berbeda-beda? Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa dirinya dilahirkan pada tahun 1839 atau 1840. Mirza Ghulam Ahmad berkata, ”Saya dilahirkan pada tahun 1839/1840. Karena pada saat itu, adalah akhir dari Pemerintahan Sikh. Pada tahun 1857, saya baru berumur 16 tahun. Janggut serta kumis saya belum tumbuh.” (Kitabul Bariyyah, hal. 159/ Ruhani Khozain Jilid 13 hal. 177).

Akan tetapi para pengikutnya merubah tahun kelahiran nabi mereka. Dengan ini mereka bertujuan agar usia nabi mereka (Mirza Ghulam Ahmad) sesuai antara ramalannya (Mirza Ghulam Ahmad) mengenai umurnya sendiri. Para pengikut Mirza Ghulam Ahmad menuliskan bahwa tahun kelahiran Mirza Ghulam Ahmad adalah tahun 1835. Hal ini dikarenakan Mirza Ghulam Ahmad pernah meramalkan bahwa umurnya akan berkisar antara 75-85.

            Mirza Ghulam Ahmad berkata di dalam kitabnya, Dhamimah Haqiqatul Wahyi, hal. 94 sebagai berikut :

أَطَالَ اللهُ بَقَاءَكَ تَعِيْشُ ثَمَانِيْنَ حَوْلًا أَوْ تَزِيْدُ عَلَيْهِ خَمْسَةً أَوْ أَرْبَعَةً أَوْ يَقِلُّ كَمِثْلِهَا.

Allah akan memanjangkan umurmu, engkau akan hidup sekitar 80 tahun, atau lebih 5 atau 4 tahun  dari itu (84 atau 85 tahun), atau kurang seperti itu (kurang 5 atau 4 tahun dari 80 tahun, yaitu 74 atau 75 tahun).” Perhatikan juga wahyu Mirza Ghulam Ahmad yang terdapat di dalam kitab Ruhani Khozain, jilid 22 kitab Haqiqatul Wahyi, hal. 100.

Oleh karena itu, ketika para pengikut Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa nabi mereka lahir pada tahun 1835, maka ketika Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia pada tahun 1908, artinya ramalannya tepat. Karena 1908 – 1835 = 73 tahun. Akan tetapi, apabila tidak dirubah, maka ramalan Mirza Ghulam Ahmad tidak terbukti. Karena 1908 – 1839 = 69 tahun. Umur Mirza Ghulam Ahmad yang sebenarnya adalah 69 tahun. Jadi antara ramalan dengan kenyataan tidak sesuai. 

2. MIRZA GULAM AHMAD DAN ASAL USULNYA

Mirza Ghulam Ahmad mengaku keturunan Persia.
Keluarga ini (yaitu keluarga aku) dikenal sebagai keluarga Mongol. Akan tetapi Allah yang mengetahui hal gaib dan hal sebenarnya telah menampakkan kepadaku berkali-kali di dalam wahyu-Nya yang suci bahwa keluargaku adalah keluarga (keturunan) Persia dan Allah telah memanggilku dan telah berkata kepadaku dengan sebutan Ibnu Paris (Anak Persia), sebagaimana Allah telah berfirman tentang aku, ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menjauhkan diri dari jalan Allah, maka akan menjawab kepada mereka seorang laki-laki dari Persia dan Allah berterima kasih atas usahanya (usaha Mirza Ghulam Ahmad),” (Haqiqatul Wahyi, hal. 81).

Sekarang telah nampak bagiku dari firman Allah bahwa keluargaku benar-benar keluarga (keturunan) Persia, bukan keturunan Mongol. Aku tidak tahu, dari mana dan kesalahan apa sehingga keluargaku dikenal sebagai keturunan Mongol,” (Haqiqatul Wahyi, hal. 81).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku keturunan China.

Sesungguhnya Muhyiddin Ibnul Arabi telah mengabarkan tentang aku di dalam kitabnya ”Fushulul Hikam” ketika dia berkata bahwa akan dilahirkan di akhir zaman seorang anak laki-laki yang akan berdakwah ke jalan Allah. Tempat lahirnya adalah di China dan bahasanya bahasa negerinya. Maka aku lah yang dimaksud itu, karena aku adalah asli keturunan China,” (Haqiqatul Wahyi, hal. 209).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku keturunan Bani Fatimah.

Sesungguhnya keluargaku termasuk keluarga mulia campuran, dari keturunan Persia dan keturunan Fatimah RA, atau bisa dikatakan bahwa keluargaku adalah keluarga yang terdiri dari Mongol dan orang-orang mulia. Akan tetapi aku percaya dan aku yakin bahwa asal keluargaku adalah dari keturunan Persia dan keturunan Fatimah; karena wahyu Tuhan yang mutawatir telah meyakinkan aku atas hal tersebut dan bersaksi padaku dengan hal itu,” (Taryaqul Qulub, hal. 287).

3. PENGAKUAN-PENGAKUAN MIRZA GHULAM AHMAD

Mirza Ghulam Ahmad mengaku melihat Allah SWT dalam wujud manusia.

Pada saat bepergian tersebut, berkata Mirza Ghulam Ahmad, ’Aku benar-benar melihat Allah menampakkan wujudnya dalam wujud manusia. Maka Allah SWT berfirman kepadaku sambil meletakkan tangan-Nya di atas lututku, ’Kalau engkau itu adalah untuk-Ku, maka seluruh alam (dunia) ini adalah untukmu.’ ” (Majalah At-Taqwa, jilid 14, vol. 11 dan 12 Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram 1422 H.)

Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi.

Sesungguhnya aku katakan bahwa aku akan diberi gelar dengan gelar kenabian (disebut nabi) dan kerasulan (disebut rasul) setelah Nabi Muhammad SAW yang merupakan penutup para nabi dalam hakikatnya. Hal ini bukan sebagai bentuk caci maki dan tidak juga bertentangan dengan kepenutupannya (Muhammad SAW penutup para nabi dan rasul). Sesungguhnya aku telah disebut berulangkali bahwa aku ini adalah masuk dalam kategori firman Allah SWT, ”dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,” Nabi Muhammad telah ditentukan sebagai penutup para nabi dalam bentuk bayang-bayang dan Allah telah menamaiku nabi dan rasul di dalam kitab Barahin Ahmadiyah 20 tahun sebelum ini dan Allah telah menjadikan aku sebagai bukti wujudnya. Dengan cara ini kepenutupan beliau (Rasulullah SAW) tidak akan bergoyang dengan sebab kenabianku (Mirza Ghulam Ahmad), karena bayangan itu tidak akan pernah berpisah dari bentuk aslinya,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 212).  

Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu syariat.

Sesungguhnya aku menerima wahyu syariat juga,” (Ruhani Khazain, jilid 17, Arbain Li Itmamil Hujjah ’Alal Mukhalifin ” Kitab 40 Penyempurnaan Hujjah kepada Orang-orang yang Berbeda Faham, hal. 435).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku seperti batu bata terakhir.

Maka Allah bermaksud untuk menyempurnakan kenabian dan menyempurnakan bangunan dengan batu bata terakhir. Maka aku lah batu bata terakhir itu wahai orang-orang yang melihat,” (Ruhani Khazain, jilid 16, Khutbah Ilhamiyah hal. 178). 

Mirza Ghulam Ahmad mengaku nabi dengan bukti-buktinya sebanyak 300.000 bukti.

Dan Allah lah yang menggenggam ruhku, Dia lah yang telah mengutusku dan menamaiku Nabi...dan Allah memberikan bukti-bukti yang jelas atas kebenaran pengakuanku yang bukti-bukti tersebut mencapai angka 300.000 bukti,” (Tatimmah Haqiqatul Wahyi, hal. 503).

Mirza Ghulam Ahmad menghilangkan jihad.

Sekarang telah berakhir hukum jihad. Karena dikatakan bahwa setelah dibangkitkannya Al-Masih Al-Maw’ud, maka peperangan atas nama agama dan jihad dengan pedang telah berakhir. Hal ini dikarenakan Al-Masih tidak akan mengangkat pedang. Doanya itulah sebagai pedangnya,” (Ruhani Khazain, jilid 17, kitab Pemerintah Inggris dan Jihad, hal. 8).

Kebohongan Mirza Ghulam Ahmad.

Aku pernah melihat dalam kasyafku bahwa aku telah menyodorkan beberapa lembar kertas yang cukup banyak kepada Allah SWT, agar Allah mau menanda tanganinya dan membenarkan seluruh permintaan yang aku usulkan. Aku lihat bahwasanya Allah telah menanda tangani kertas-kertas aku tersebut dengan tinta merah. Dan pada saat kasyaf itu, ada seorang laki-laki yang merupakan pengikutku yang bernama Abdullah. Dan tatkala kasyaf itu telah selesai, aku benar-benar melihat bahwa baju-bajuku dan baju Abdullah telah penuh dengan warna merah tersebut, padahal kami tidak mempunyai sesuatu yang berwarna merah. Sampai sekarang, baju-baju ini masih ada di pengikutku, Abdullah,” (Taryaqul Qulub, hal. 197).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Maryam, kemudian melahirkan Isa yang tidak lain adalah dirinya. Jadi Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Maryam dan Isa (merangkap).

Sebelum 20 atau 22 abad (yang lalu), Allah telah menjadikan aku sebagai Maryam yang akan melahirkan Isa...Allah menjadikan aku sebagai Maryam selama 2 tahun...kemudian Allah meniupkan ruh Isa kepadaku sebagaimana Allah telah meniupkan ruh kepada Maryam. Dengan bentuk isti’arah (kiasan) aku menjadi hamil. Dan setelah beberapa bulan yang tidak lebih dari 10 bulan setelah ilham ini, maka aku pun berubah dari bentuk Maryam ke bentuk Isa. Dan dengan cara seperti ini aku menjadi Isa dan Allah menyembunyikan rahasia ini daripadaku. Allah telah menyembunyikan hal ini dari aku, yaitu seolah-olah engkau dijadikan sebagai Maryam, kemudian ditiupkan ruh kepadamu dan dilahirkan darimu Isa...maka aku pun menjadi Isa bin Maryam,” (Kasyti Nuh, hal. 50).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Nabi Isa AS (bertugas memperbaiki akhlak dan menghapus jihad).

Adapun maksud dari pengutusanku dan pengutusan Isa adalah satu, yaitu untuk memperbaiki akhlak dan melarang jihad dan memperlihatkan ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) untuk menguatkan iman para hamba. Tidak diragukan bahwa bentuk jihad itu telah tiada di zaman ini dan di negeri ini (India). Maka pada hari ini diharamkan atas kaum muslimin untuk berperang atas nama agama,” (Majmu’ah Isytaharat, jilid 1, hal. 303).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Al-Masih Kedua.

Pada tahun 1893, Mirza Ghulam Ahmad pernah mengaku menerima wahyu bahwa ruh para nabi yang telah wafat bisa melihat nasib para pengikutnya yang sedang tersesat. Maka ruh para nabi itu memohon kepada Allah SWT agar mereka itu turun kembali ke dunia. Maka Allah SWT pun segera menciptakan seseorang yang mirip dengan nabi tersebut untuk melaksanakan keinginan nabi yang sudah wafat tersebut. Mirza Ghulam Ahmad membuat contoh dengan mengatakan bahwa ruh Nabi Isa AS akan turun ke dunia (reinkarnasi) sebanyak tiga kali. Pertama akan turun (reinkarnasi) kepada Nabi Muhammad SAW, dan yang kedua reinkarnasi kepada dirinya (Mirza Ghulam Ahmad) dan yang ketiga akan reinkarnasi kepada Al-Masih Ketiga di akhir zaman. Tetapi, di lain kesempatan Mirza Ghulam Ahmad mengatakan tidak akan ada lagi Al-Masih setelah dirinya.

وَ ِإنَّا إِذَا وَدَّعْنَا الدُّنْيَا فَلَا مَسِيْحَ بَعْدَنَا إِلَى يِوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya kami jika kami telah meninggalkan dunia (wafat), maka tidak akan ada lagi Al-Masih setelah kami,” (Ruhani Khazain, I’jazul Masih, jilid 18, hal. 73).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku reinkarnasi Nabi Muhammad SAW.

”Pada saat aku menjadi Muhammad SAW dalam bentuk bayangan dan reinkarnasi, maka hal ini tidak menghilangkan (predikat) penutup para nabi. Karena kenabian Muhammad akan tetap seperti itu dan hanya terbatas untuk diri beliau dan tidak ada yang mengaku sebagai nabi selain Muhammad SAW,” (Ruhani Khazain jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah hal. 212).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi dalam bentuk bayangan.

Akan tetapi barangsiapa yang ...

Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi dan menerima risalah.

Tatkala aku menjadi reinkarnasi dari Nabi Muhammad SAW yang telah ada sebelumnya sejak lama, (maka) aku pun menerima kenabian reinkarnasi,” (Ruhani Khazain jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah hal. 215).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku bernama Muhammad dan Ahmad.

Dengan bentuk ini, predikat penutup para nabi tetap terjaga. Sesungguhnya aku diberi nama Muhammad dan Ahmad dari cermin pertemanan dengan cara pantulan dan bayangan. Dan barangsiapa yang dimarahi oleh wahyu Tuhan ini dan mereka tidak memanggilku dengan sebutan nabi dan rasul, maka inilah bentuk kedunguannya,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 211).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku bernama Muhammad SAW dan Ahmad.

”Kesimpulan dari kenabian dan kerasulanku ketika aku merupakan Muhammad dan Ahmad yang bukan karena diriku. Semua ini aku peroleh dengan cara melebur bersama Rasulullah SAW. Maka hal ini tidak bertentangan dengan makna penutup para nabi,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 208).

Mirza Ghulam Ahmad mengaku bernama Muhammad SAW dan Ahmad.

”Kesimpulan dari kenabian dan kerasulanku ketika aku merupakan Muhammad dan Ahmad yang bukan karena diriku. Semua ini aku peroleh dengan cara melebur bersama Rasulullah SAW. Maka hal ini tidak bertentangan dengan makna penutup para nabi,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 208).

Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul.

Dengan pengayoman melalui Muhammad Al-Musthafa, aku dinamai Muhammad dan Ahmad. Maka aku pun merupakan seorang nabi dan rasul,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 211).

Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai reinkarnasi.

Sudah ditakdirkan bahwa Nabi Muhammad SAW itu bereinkarnasi. Sekarang ini telah muncul (bereinkarnasi) dan tidak ada (alasan) untuk berkesimpulan dari sumber kenabian jalan yang lainnya,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 216).

Mirza Ghulam Ahmad meramal hari Kiamat.

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya tentang hari Kiamat. Kapan hari Kiamat terjadi? Maka Rasulullah SAW bersabda bahwa hari Kiamat akan terjadi 100 tahun lagi dari tanggal hari ini atas seluruh anak Adam,” (Izalatul Auham, hal. 227).

Mirza Ghulam Ahmad antek penjajah Inggris.

Sesungguhnya ayahku pernah menjabat sebuah jabatan di Kantor Pemerintahan. Ayahku termasuk orang yang loyal terhadap Pemerintah Inggris, sampai ayahku pernah membantu Pemerintah Inggris pada tahun 1857 dengan bantuan yang sangat baik, yaitu dengan bantuan pasukan sebanyak 50 prajurit dan 50 kuda kepunyaannya. Ayahku juga berkhidmat kepada Pemerintah yang Mulia di atas kemampuannya. Akan tetapi setelah itu, mulailah terjadi perubahan dan kemunduran yang menimpa keluargaku, sehingga keluarga menjadi keluarga petani yang miskin,” (Tuhfah Qaishariyyah, hal. 18-19).

Mirza Ghulam Ahmad mengklaim bahwa Masjidil Aqsa itu masjidnya di Qadian.

”Masjid Al-Aqsha itu adalah masjid yang dibangun oleh Al-Masih Maw’ud di Qadian. Dinamakan Al-Aqsha karena (faktor) jauhnya dari zaman kenabian, dan juga karena terletak di ujung yang paling jauh dari zaman permulaan Islam,” (Majmu’ah Isytaharat, jilid 1 hal. 293).

Mirza Ghulam Ahmad ingkar janji.

Aku ingin menulis buku ini sebanyak 50 jilid. Akan tetapi aku merasa cukup untuk menulisnya sebanyak 5 jilid saja. Karena aku menemukan bahwa antara 50 dan 5 itu tidak ada perbedaan, kecuali hanya angka nol saja,” (Barahin Ahmadiyah, jilid 5, hal. 9).

4. PERUBAHAN ISI TADZKIRAH AGAR COCOK DENGAN KENYATAAN

Contoh isi Tadzkirah yang dirubah oleh para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Wahyu Mirza Ghulam Ahmad dalam bahasa Inggris yang salah gramatikanya.

Tadzkirah dalam teks Arab terdapat teks Inggris yang berbunyi seperti ini : “I am quarreler,” “Saya orang yang sering bertengkar,” (Tadzkirah, hal. 55).

Tapi lihat terjemah Tadzkirah dalam bahasa Inggris :

Tadzkirah dalam teks Inggris berbunyi seperti ini :  “I am a quarreler,” “Saya orang yang sering bertengkar,” (Tadzkirah, hal. 36). (ditulis dengan tambahan huruf “a”, I am a qaurreler).

Contoh isi Tadzkirah yang dirubah oleh para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Wahyu Mirza Ghulam Ahmad dalam bahasa Inggris yang salah gramatikanya. Tadzkirah dalam teks Arab terdapat teks Inggris yang berbunyi seperti ini : “Words of God not can exchange,” “Firman Tuhan tidak bisa dirubah,”
(Tadzkirah, hal. 116).

Tapi lihat terjemah Tadzkirah dalam bahasa Inggris : “Words of God cannot exchange,” “Firman Tuhan tidak bisa dirubah,”
(Tadzkirah, (versi Inggris), hal. 63).

Contoh isi Tadzkirah yang dirubah oleh para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Kisah Mirza Ghulam Ahmad ketika akan melahirkan. Tadzkirah dalam teks Arab berbunyi seperti ini :

فَأَجَاءَهُ الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَ يَا لَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا.

“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksa Mirza Ghulam Ahmad (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (MGA) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan,” (Tadzkirah, hal. 71).

Tapi lihat terjemah Tadzkirah dalam bahasa Inggris : Tadzkirah dalam teks Inggris berbunyi seperti ini : “This revelation : The pains of childbirth drove her to the trunk of a palm tree and she cried out: Would that I had died before this and had been quite forgotten,”(Tadzkirah, (versi Inggris), hal. 47).
Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksa dia (Mirza Ghulam Ahmad sebagai Maryam) (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Mirza Ghulam Ahmad sebagai Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan,” (Tadzkirah, (versi Inggris), hal. 47).

Pengikut Mirza Ghulam Ahmad merubah isi Tadzkirah agar sesuai dengan kenyataan. Ramalan akan lahir anak laki-laki kelima Mirza Ghulam Ahmad dirubah menjadi cucu laki-laki.

Tadzkirah dalam teks Arab berbunyi seperti ini :

"اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَهَبَ لِيْ عَلَى الْكِبَرِ أَرْبَعَةً مِنَ الْبَنِيْنَ وَ أَنْجَزَ وَعْدَهُ مِنَ الْإِحْسَانِ وَ بَشَّرَنِيْ بِخَامِسٍ فِيْ حِيْنٍ مِنَ الْأَحْيَانِ،" مواهب الرحمن ص: 139.  و حقيقة الوحي ص: 218 و 219.

Segala puni bagi Allah yang telah memberikan empat anak laki-laki di usia tuaku dan Dia akan melaksanakan janji-Nya dari kebaikan-Nya, dan Dia memberikan kabar gembira kepadaku dengan anak kelima di kemudian hari,” (Mawahibur Rahman, hal. 139 dan Haqiqatul Wahyi hal. 218-219).

Tapi lihat terjemah Tadzkirah dalam bahasa Inggris : Tadzkirah dalam teks Inggris berbunyi seperti ini : “All prise belongs to Allah Who has bestowed upon me in my old age four sons and has thus fulfilled His promise benevolently and has given me the good news of a fifth one, as a grandson, which will be fulfilled at some time,” (Mawahibur Rahman, p. 139, and Haqeeqat-ul-Wahi pp. 218-219).

Segala puni bagi Allah yang telah memberikan empat anak laki-laki di usia tuaku dan Dia akan melaksanakan janji-Nya dari kebaikan-Nya, dan Dia memberikan kabar gembira kepadaku dengan cucu laki-laki di kemudian hari,” (Mawahibur Rahman, hal. 139 dan Haqiqatul Wahyi hal. 218-219).

5. BENTUK-BENTUK PENGHINAAN MIRZA GHULAM

Mirza Ghulam Ahmad menghina Allah SWT (Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa Allah SWT mempunyai banyak tangan seperti gurita).

Kami bisa menggambarkan wujud Allah. Sesungguhnya Allah itu mempunyai banyak tangan dan kaki. Anggota tubuhnya (juga) banyak, tidak bisa dihitung. Besar, panjang dan lebarnya tidak ada batasannya. Allah yang Maha Tinggi seperti gurita. Allah juga mempunyai tubuh yang sangat banyak yang membentang ke seluruh penjuru dunia,” (Taudhih Maram, hal. 90).

Mirza Ghulam Ahmad memanggil Allah SWT dengan Yalasy.

”Allah telah mengajak berbicara kepadaku dan Dia berkata Yalasy. Dan Yalasy ini adalah salah satu nama Allah. Ini adalah kalimat ilham yang baru yang aku tidak menemukan bentuknya di dalam Al-Qur`an dan hadits dan tidak juga di dalam kitab-kitab kamus bahasa. Dan aku telah menemukan artinya (arti kata Yalasy) yaitu, wahai yang tidak ada sekutu. Dan maksud dari pengilhaman nama ini adalah bahwa seseorang itu tidak akan hanya dirinya (khusus) yang menerima sifat baik, atau sebutan dan perbuatan baik, sedangkan yang lainnya tidak menerima semua ini (tidak mempunyai sifat, sebutan dan perbuatan yang baik). Ini semua adalah rahasia bahwa sifat-sifat setiap nabi dan mukjizatnya akan memantulkan kepada umatnya yang terbaik, yaitu orang-orang yang bertabiat dengan tabiatnya yang menyeluruh, agar tidak menipu orang-orang bodoh dari umat ini dengan kekhususan yang dimilikinya dan mereka menjadikannya tidak ada bandingannya. Sikap seperti ini adalah kekufuran yang besar ketika seorang nabi dinamai dengan Yalasy dengan tidak ada mukjizat atau karamah yang luar biasa bagi seorang nabi kecuali ada beribu-ribu orang yang memilikinya juga,” (Ruhani Khazain, jilid 17, hal. 203, kitab Tuhfah Gholarwiyah).  

Nama Mirza Ghulam Ahmad adalah nama tertingginya Allah SWT.

Kamu (Mirza Ghulam Ahmad) adalah nama-Ku yang tertinggi,” (Tadzkirah, hal. 331).

Mirza Ghulam Ahmad menghina Allah SWT (Nama Mirza Ghulam Ahmad sempurna, tapi nama Allah SWT tidak sempurna).
Wahai Ahmad, namamu sempurna, tapi nama-Ku tidak sempurna,” (Majmu’ah Isytaharat, hal. 266).

6. PENYAKIT-PENYAKIT MIRZA GHULAM AHMAD

Mirza Ghulam Ahmad menderita penyakit diare.

”Telah berkata kepadaku dokter Mira Muhammad Ismail (berasal dari Qadian) bahwa hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud AS menderita penyakit diare selama beberapa tahun sebelum kematiannya. Dan dia (Mirza Ghulam Ahmad) mati karena penyakit diare ini,” (Siratul Mahdi, jilid 2 hal. 58, baris ke-376).

Mirza Ghulam Ahmad sering sakit kepala (pening berat).

”Sesungguhnya Hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud AS, pada sebagian besar kesempatannya suka diserang penyakit pusing berat, dan suatu hari hampir saja terjatuh ke tanah,” (Siratul Mahdi, jilid 3, hal. 213 s.d. 214, baris ke-788).

Mirza Ghulam Ahmad menderita penyakit histeria (penyakit saraf).

”Telah berkata kepadaku dokter Muhammad Ismail Al-Qadiani bahwa Hadhrat Al-Masih menderita penyakit histeria (penyakit saraf),” (Siratul Mahdi, jilid 2 hal. 55).

Mirza Ghulam Ahmad menderita penyakit TBC.

”Mirza Ghulam Ahmad menderita penyakit TBC selama 6 bulan,” (Siratul Mahdi, jilid 1, hal. 55, baris ke-66).

Mirza Ghulam Ahmad sering mengonsumsi obat mengandung opium.

”Dokter Mira Muhammad Ismail (berasal dari Qadian) menceritakan bahwa dia pernah meracik obat untuk Hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud yang terdiri dari opium dan al-banju dan selain itu yang termasuk obat-obatan keras (mengandung racun berat). Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa untuk tujuan berobat dibolehkan mengonsumsi segala sesuatu yang haram. Demikian pula fatwanya tentang minum arak (boleh minum arak untuk pengobatan),” (Siratul Mahdi, jilid 3, hal. 3, alinea ke-655).

Mirza Ghulam Ahmad sering memakai baju hangat di akhir hayatnya.

Dokter Mira Muhammad Ismail (berasal dari Qadian) menceritakan bahwa Hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud AS...biasa memakai pakaian hangat sepanjang tahun di akhir hayatnya,” (Siratul Mahdi, jilid 3, hal. 66, baris ke-597).

Mirza Ghulam Ahmad sering dipijat pembantunya (pembantu perempuan).

Dokter Mira Muhammad Ismail (berasal dari Qadian) menceritakan bahwa Hadhrat Ummul Mu’minin (isteri Mirza Ghulam Ahmad) telah berkata kepadaku bahwa pembantunya yang bernama Banu pernah memijat tubuh Mirza Ghulam Ahmad di atas kasurnya,” (Siratul Mahdi, hal. 210, baris ke-780).

Mirza Ghulam Ahmad sering ditunggui ketika sakitnya.

”Abdurrahman dan isterinya bisa menjaga Mirza Ghulam Ahmad di malam hari...dan di hari-hari ini, biasanya Mirza dijaga oleh isterinya, Hinsya Muhammad Din dan isterinya Babusyah,” (Siratul Mahdi, jilid 3, hal. 213, baris ke-786).

7. MIRZA GHULAM AHMAD, “NABI” DARI INDIA YANG BODOH

Mirza Ghulam Ahmad tidak hafal surat-surat panjang Al-Qur`an.

Dokter Mira Muhammad Ismail (berasal dari Qadian) menceritakan bahwa hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud AS tidak hafal surat-surat panjang Al-Qur`an, walaupun dia mengetahui isi Al-Qur`an, tetapi dia tidak hafal banyak (surat-surat) Al-Qur`an,”
(Siratul Mahdi, jilid 3, hal. 44, baris ke-553).

Wahyu Mirza Ghulam Ahmad dalam bahasa Arab dikoreksi oleh orang lain yang pandai berbahasa Arab.

”Telah mengabarkan kepadaku Mawlawi  Syir Ali bahwa Hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud AS -Mirza Ghulam Ahmad- telah berkata, ”Sesungguhnya seluruh karyaku berbahasa Arab adalah merupakan ilham (ilham agar ditulis dalam bahasa Arab). Karena aku menulisnya atas dukungan khusus dari Allah. Terkadang aku tidak mengetahui makna sebagian kalimat-kalimat dan alinea-alineanya yang telah aku tulis sendiri sampai aku harus melihat kamus (kamus bahasa Arab), kemudian aku bisa memahami maknanya. Mawlawi  Syir Ali menambahkan bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  suka memberikan apa yang telah ditulisnya itu kepada Khalifah Pertama dan kepada Mawlawi  Muhammad Ahsan untuk dikoreksi, jika diperlukan. Adapun Khalifah Pertama itu, biasanya dia menulis ulang kalimat-kalimat Arab setelah membacanya tanpa dibetulkan (tidak dikoreksi). Akan tetapi Al-Mawlawi  Muhammad Ahsan suka membetulkan beberapa kalimat supaya susunan kalimatnya menjadi bagus. Al-Mawlawi Syir Ali menambahkan bahwa Hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud suatu hari pernah berkata bahwa Al-Mawlawi Ahsan suka membetulkan beberapa kalimat sesuai pikirannya. Akan tetapi aku menilai bahwa klaimat-kalimat yang telah aku tulis itu sangat sesuai dan (justru) kalimat-kalimat Al-Mawlawi sangat lemah. Akan tetapi aku membiarkan kalimat-kalimat (koreksiannya) di beberapa tempat supaya hatinya tidak merasa sedih bahwa saya telah mengabaikan seluruh koreksiannya,”
(Siratul Mahdi, hal. 104).

Mirza Ghulam Ahmad belum pernah naik haji; i’tikaf dan mengeluarkan zakat harta.

Dokter Mira Muhammad Ismail (berasal dari Qadian) menceritakan bahwa Hadhrat Al-Masih Al-Maw’ud AS belum pernah naik haji, belum pernah i’tikaf dan belum pernah mengeluarkan zakat hartanya,” (Siratul Mahdi, jilid 3, hal. 119, baris ke-672).

8. SEJARAH MUBAHALAH

Kisah mubahalah Mirza Ghulam Ahmad dengan Syaikh Abul Wafa.

الترجمة العربية

((مجموعة الإعلانات ج3 ص 578
الفصل النهائي في الخلاف مع المولوي ثناء الله الأمرتسري

بســــــم الله الرحمن الرحيم
نحمده و نصلي على رسوله الكريم
يستنبؤنك أحق هو. قل إي وربي إنه لحق

حضرة المولوي ثناء الله، السلام على من اتبع الهدى.
إن سلسلة تكذيبي جارية في جريدتكم "أهل الحديث" منذ مدة طويلة، أنتم تشهدون فيها أنني شخص مفتر و كذاب و دجال وأن دعواي للمسيحية الموعودة كذب وافتراء على الله.

إنني أوذيت منكم إيذاءاً وصبرت عليه صبراً جميلاً، لكن لما كنتُ مأموراً بتبليغ الحق من الله وأنتم تصدّون الناس عني فإنني أقول بإنني إن كنت كذاباً و دجالاً كما تقول أنت عني باستمرار إذاً سيكون موتي خلال فترة حياتك، و ذلك لأنني أعلم أن مدى حياة الفاسد و الدجال ليست طويلة، ففي النهاية لا يلبث أن يموت مخزيا يائساً خلال فترة حياة أعدائه. فمن الأفضل له أن يموت حتى لا يـُهلك عباد الله. وإن لم أكن أنا كذاباً و دجالاً بل كنت مشرّفاً بكلام الله و خطابه و كنت أنا المسيح الموعود فإنني أرجو أنه بفضل الله و حسب سنّته أن لا تفلت من العقوبة التي يستحقها الكذابون.

فإن لم تكن أنت خلال حياتي ضحية عقاب ليس بأيدي الناس بل هو كلياً بيد الله مثل الإصابة بمرض فتاك كالطاعون أو الكوليرا و غيره فإنني لا أكون من عند الله تعالى. هذه ليست نبوءة عن طريق الإلهام لكنها عبارة عن تضرع  لله سبحانه كنت قد دعوت الله تعالى به ليفصل بيننا.  فأنا أدعو الله: يا مالكي البصير القدير العليم الخبير أنت تعلم ما في نفسي، إن كانت دعواي للمسيحية الموعودة افتراء عليك وأنا في نظرك مفسد كذاب والافتراء في الليل والنهار شغلي فيا مالكي أنا أدعوك بالتضرع والإلحاح أن تميتني قبل المولوي ثناء الله وأن تجعله وجماعته مسرورين بموتي، آمين. لكن يا إلهي الكامل الصادق إن لم يكن المولوي ثناء الله على حق في اتهامه لي فإنني أدعوك بتضرع أن تميته خلال فترة حياتي، لكن ليس بأيدي الناس بل بمرض فتاك مثل الطاعون أو الكوليرا و غيره إلا في حالة أنه أعلن توبته - بمواجهتي و حضور جماعتي – عن كل تلك التوصيفات الحقيرة و كل تلك الألفاظ المسيئة التي اتخذها وظيفته الرسمية و التي سببت لي الألم دائماً. آمين يا رب العالمين آمين..))

((إنني أرى أن المولوي ثناء الله يريد أن يقضي على جماعتي من خلال تلك الإفتراءات و أن يهدم ذلك الصرح الذي صنعته بيديك يا إلهي يا مرسلي. لهذا السبب أنا أتضرع إليك مستمسكاً بعظمتك و رحمتك أن تفصل بيني و بين ثناء الله بالحق، فمن كان في نظرك دجالاً و كذاباً فاجعله يغادر هذه الدنيا في حياة الصادق، أو أصبه ببعض المحن التي تكافيء الموت، يا إلهي الحبيب إفصل بيننا بهذه الطريقة. آمين ثم آمين. ربنا افتح بينا و بين قومنا بالحق و أنت خير الفاتحين. آمين.

وأخيرا أرجو من المولوي صاحب أن ينشر هذا الموضوع في دوريته و أن يكتب ما يشاء تحته، و الآن الحكم بيننا بيد الله.

الراقم: عبد الله الصمد ميرزا غلام أحمد المسيح الموعود عافاه الله و أيده
بتاريخ : 15 إبريل 1907م.))

((Dari kitab, Majmu’atul I’lanat, jilid 3 hal. 578.
Bab terakhir dalam persengketaan dengan Mawlawi Tsanaullah Al-Amratsari

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Kami memuji-Nya dan kami berselawat kepada utusan-Nya yang mulia.
Mereka meminta kabar darimu (Mirza Ghulam Ahmad), apakah berita ini haq? Katakanlah, demi Allah, berita ini benar-benar haq.

Hadhrat Mawlawi  Tsanaullah, semoga keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk.
Sesungguhnya rangkaian pendustaan terhadap aku terus berlangsung di koran kalian, ”Ahli Hadits,” sejak lama. Di mana kalian berkata di dalam koran kalian itu bahwa aku seorang pemalsu dan pembohong dan dajjal, dan pengakuan aku bahwa aku Al-Masih yang dijanjikan adalah kebohongan dan penghinaan terhadap Tuhan.

Sesungguhnya aku telah disakiti oleh kalian. Tetapi aku tetap bersabar (menghadapinya) dengan kesabaran yang baik. Akan tetapi, ketika aku diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran dari Allah dan kalian memalingkan manusia dari aku, maka aku katakan bahwa jika aku ini seorang pembohong dan dajjal (penipu), seperti yang kamu katakan tentang aku terus menerus, maka kematian aku akan terjadi di masa hidupmu. Hal ini dikarenakan aku tahu bahwa jatah hidup seorang pembuat kerusakan dan pembohong tidak akan pernah lama. Pada akhirnya, dia (si pembohong) akan segera mati putus asa dan dengan cara yang memalukan di masa musuh-musuhnya masih hidup. Orang seperti itu lebih baik mati agar tidak menyesesatkan hamba-hamba Allah. Jika aku bukan pembohong dan penipu, justru aku mendapat kemuliaan dengan firman Tuhan dan perintah-Nya, dan aku benar-benar Al-Masih yang dijanjikan, maka aku berharap dengan karunia Allah dan sesuai dengan sunnah-Nya, agar tidak luput dari hukuman yang layak diterima oleh para pembohong.

Jika kamu selama aku hidup tidak menjadi korban hukuman yang bukan disebabkan oleh tangan manusia, tetapi sepenuhnya dikarenakan tangan Allah, misalnya tertimpa penyakit mematikan seperti penyakit pes atau kolera atau penyakit yang lainnya, artinya aku bukan utusan Allah Ta’ala. Hal ini bukan merupakan ramalan atas dasar ilham, tetapi hal ini merupakan bentuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT, karena aku telah berdoa kepada Allah SWT agar memutuskan hal ini di antara kita. Aku berdoa kepada Allah : Wahai Tuhanku yang Maha Melihat, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Engkau tahu apa yang ada di dalam diriku. Jika pengakuanku sebagai Al-Masih Al-Maw’ud (Al-Masih yang dijanjikan) merupakan kebohongan kepada-Mu, dan menurut-Mu bahwa aku ini adalah seorang pembohong dan penipu, di malam dan siang hari. Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada-Mu dengan penuh rendah diri, agar Engkau mematikan aku sebelum Mawlawi  Tsanaullah dan jadikan dirinya (Mawlawi  Tsanaullah) dan jemaahnya merasa senang atas kematianku, amin. Wahai Tuhanku, Yang Maha Sempurna dan Maha Jujur, jika Mawlawi  Tsanaullah tidak berada di atas kebenaran atas tuduhannya terhadap aku, maka aku berdoa dengan penuh rendah diri kepada-Mu agar Engkau mematikannya selama aku masih hidup. Kematiannya ini bukan atas campur tangan manusia, tetapi dengan penyakit yang mematikan seperti penyakit pes atau kolera atau yang lainnya. Kecuali apabila dia (Tsanaullah) mengumumkan taubatnya di hadapan aku dan dengan disaksikan oleh jemaatku atas semua caci makinya dan semua kata-kata buruk yang menjadi pekerjaan sehari-harinya yang selalu membuat aku kesakitan. Amin, wahai Tuhan semesta alam ..)).

((Saya melihat bahwa Mawlawi Tsanaullah ingin menghancurkan jemaatku melalui fitnah-fitnahnya dan ingin menghancurkan bangunan yang telah aku bangun oleh kedua tangan-Mu, wahai Tuhanku, yang telah mengutus aku. Oleh sebab itu, aku merendahkan diri di hadapan-Mu dengan memegang keagungan-dan rahmat-Mu, agar Engkau memutuskan antara aku dan antara Tsanaullah dengan benar. Barangsiapa yang menurut pandangan-Mu bahwa dia itu seorang penipu dan pembohong, maka jadikanlah dia harus meninggalkan dunia ini (mati) pada saat si jujur masih hidup. Atau Engkau menimpakan kepadanya dengan berbagai macam ujian (kesulitan) yang berujung kepada kematian. Wahai Tuhanku yang Tercinta, putuskanlah di antara kami ini dengan cara seperti ini. Amin, amin. Wahai Tuhan kami, bukalah antara kami dan antara kaum kami dengan benar, sesungguhnya Engkau lah sebaik-baik pembuka. Amin.

Akhirnya, aku berharap dari Mawlawi agar menyebar luaskan pernyataan ini di dalam kegiatannya, dan menuliskan kalimat apa saja di bawah surat ini. Sejak saat ini, keputusan di antara kita berada di tangan Allah.

Penulis: Abdullah Ash-Shamad, Mirza Ghulam Ahmad Al-Masih Al-Maw’ud, semoga Allah menjaga dan mengokohkannya.

Tanggal: 15 April, 1907)).

9. PARA SAKSI KEMATIAN MIRZA GHULAM AHMAD

Mirza Ghulam Ahmad mati karena kolera pada 26 Mei 1908 atau 13 bulan 11 hari dari penandatanganan surat mubahalahnya dengan Syaikh Abul Wafa tertanggal 15 April 1907. Siapakah orangnya yang menjadi saksi kematian Mirza Ghulam Ahmad itu?

Para pengikut Mirza Ghulam Ahmad meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad mati dengan penuh ketenangan dan di akhir hayatnya, dia mengucapkan kalimat sebagai berikut,

يَا حَبِيْبِيْ، يَا حَبِيْبِيْ، يَا اللهُ، يَا حَبِيْبِيْ، َا اللهُ، يَا حَبِيْبِيْ.

“Wahai kekasihku, wahai kekasihku, wahai Allah, wahai kekasihku, wahai Allah, wahai kekasihku,”

Akan tetapi, marilah kita lihat, sejauh mana kejujuran mereka (para pengikut Mirza Ghulam Ahmad) dalam pengakuan mereka ini. Mari kita bandingkan dengan pengakuan orang-orang dekat Mirza Ghulam Ahmad yang menyaksikan detik-detik terakhirnya.

Saksi Pertama ; Mira Nashir Nuwab, pengikut Mirza Ghulam Ahmad, yang merupakan mertuanya. Dia telah menulis sebuah buku yang berjudul, ”Hayat Nashir; Kehidupan Nashir” yang menceritakan tentang detik-detik terakhir kehidupan Mirza Ghulam Ahmad, menantunya. Dia telah menulis di halaman 14 dari bukunya sebagai berikut, ”Sampai pada saat Mirza Ghulam Ahmad dibawa ke Lahore, yang merupakan tempat di mana dia menuju akhirat, sampai detik itu, aku terus menemaninya. Pada malam harinya di mana Mirza Ghulam Ahmad mengeluh sakit, pada saat itu aku telah pergi dari tempatku (menemani Mirza Ghulam Ahmad) dan pergi ke kamar untuk tidur. Kemudian aku terbangun pada saat Mirza Ghulam Ahmad mengerang kesakitan. Ketika aku tiba di hadapannya, aku pun bisa melihat keadaannya. Pada saat itu, dia berkata kepadaku, ”Tuan Mira, aku terserang wabah kolera!” Setelah Mirza Ghulam Ahmad mengatakan hal itu, aku tidak bisa mengerti lagi apa yang dia katakan. Keadaannya terus seperti ini sampai pukul 10 pagi besok harinya di mana dia meninggal dunia.”
Inilah buktinya, di dalam kitab Hayaat-e-Naasir hal. 14 :

Saksi Kedua ; Mirza Basyir Ahmad, anak Mirza Ghulam Ahmad yang telah menerangkan keadaan bapaknya, Mirza Ghulam Ahmad di dalam kitabnya, Siratul Mahdi, jilid 1, hal. 9 sampai hal. 11. Inilah petikannya, ”Mirza Basyir Ahmad menceritakan bahwa sampai tanggal 25 Mei 1908, keadaan Mirza Ghulam Ahmad terlihat baik-baik saja, maksudnya di hari Senin sore. Pada malam harinya, setelah shalat Isya, aku (Mirza Basyir Ahmad) pulang ke rumah dan aku lihat bapakku (Mirza Ghulam Ahmad) sedang duduk di kursi bersama ibunda saya tercinta, keduanya sedang makan malam. Terus aku pun pergi ke kamar untuk tidur. Tetapi di akhir malam, sebelum subuh, aku terbangun. Aku terbangun dengan sendirinya karena mendengar suara derap kaki orang-orang dan suara gaduh mereka di sekitarku. Kemudian aku melihat bapakku sedang sakit parah; terserang wabah kolera. Keadaannya terlihat gelisah dan para dokter dan orang-orang yang hadir di sekelilingnya, disibukkan dengan menyiapkan segala sesuatu di semua penjuru ranjangnya. Akan tetapi, keadaannya tetap gelisah sampai terbit fajar (Subuh). Ketika fajar Subuh telah menyingsing, bapakku bertanya, ’Apakah waktu Subuh telah tiba?’ Kemudian bapakku bertayamum sambil berbaring di atas kasurnya, kemudian shalat Subuh. Akan tetapi, baru beberapa saat, bapakku jatuh pingsan, sehingga tidak bisa menyelesaikan shalatnya. Setelah siuman, bapakku bertanya kembali, ’Apakah waktu shalat Subuh telah tiba?’ Maka orang-orang pun menjawab bahwa waktu shalat Subuh telah tiba. Kemudian bapakku berniat shalat kembali. Akan tetapi, aku tidak tahu, apakah bapakku bisa menuntaskan shalatnya, ataukah tidak. Pada saat itu, keadaanya semakin parah. Pada pukul 8:00 atau 8:30 pagi, dokter menanyakan rasa sakit yang sedang dirasakan bapakku. Akan tetapi, bapakku tidak kuasa untuk menjawabnya. Akhirnya, bapakku diberi sehelai kertas dan balpoin. Bapakku berusaha untuk menuliskan sesuatu dan berusaha untuk bangun dari kasurnya. Bapakku bertelekan dengan tangan kirinya, akan tetapi bapakku tidak kuasa untuk menulis sesuatu, walau hanya dua atau empat kata sampai balpoinnya terpeleset di atas kertas tersebut karena rasa lemah yang sangat yang sedang menderanya. Kemudian bapakku kembali berbaring di atas kasurnya. Pada pukul 09:00 pagi, keadaan bapakku bertambah parah, terlihat sedang sakaratul maut. Tetapi, sakaratul maut bapakku ini tidak mengeluarkan suara, hanya nafas bapakku seperti tertahan, kemudian berhembus. Pada saat itu, aku berada di ranjang bagian atas (dekat kepala). Pada saat itu, dokter Muhammad Husein Syah Al-Lahore telah memberinya obat. Akan tetapi, keadaan bapakku tetap tidak membaik. Kemudian bapakku kembali sakaratul maut dan nafasnya yang terputus-putus terasa lama, sampai akhirnya bapakku menghembuskan nafasnya yang terakhir dan bertemu dengan Allah.”
Inilah buktinya, di dalam kitab Siratul Mahdi, hal. 9, 10 dan 11 :

Saksi Ketiga ; Nushrat Jihan, isteri Mirza Ghulam Ahmad. Mirza Basyir Ahmad menambahkan di dalam kitabnya, Siratul Mahdi jilid 1 hal. 11 sebagai berikut, ”Ketika isteri Mirza Ghulam Ahmad menggambarkan detik-detik terakhir dari kehidupan Mirza Ghulam Ahmad (MGA), maka istri Mirza berkata tentang toilet darurat yang disiapkannya untuk Mirza di samping tempat tidur kematiannya, di mana Nushrat Jihan (isteri MGA) berkata sebagai berikut, ”Sejenak kemudian, Mirza Ghulam Ahmad terserang lagi kolera. Tapi kali ini, badannya sangat lemah, sehingga ia tidak kuat untuk pergi ke WC. Maka aku (Nushrat Jihan) berdiri di dekat ranjangnya, di mana ia (MGA) berjongkok di sana untuk buang air besar (di toilet darurat). Lalu dia pun bangkit dan berbaring (kembali) di atas ranjangnya, dan kemudian aku memijati kakinya. Tetapi, badannya sangat lemah. Sejurus kemudian, MGA terkena serangan kolera lagi (rasa mulas yang menyakitkan), dan kemudian muntah. Setelah dia (MGA) selesai dari muntahnya, dia mencoba untuk berbaring kembali. Tetapi, karena badannya sudah lemah, dan kelemahan kali ini sangat-sangat lemah, sehingga kedua tangannya tidak kuat lagi (berpegangan), maka MGA pun terjengkang ke belakang dan kepalanya membentur kayu ranjangnya,’ ” (Siratul Mahdi, jilid 1, hal. 11).

Inilah buktinya, di dalam kitab Siratul Mahdi, jilid 1, hal. 11 :

Sekianlah, sedikit kutipan mengenai kesesatan ajaran Ahmadiyah. Mudah-mudahan, terjemahan ini bisa dimanfaatkan untuk berdakwah ke kalangan Ahmadiyah. Mudah-mudahan, saudara-saudara kita yang sudah menjadi pengikut Ahmadiyah bisa segera bertaubat dan kembali ke ajaran Islam yang benar yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Amin yaa rabaal ’aalamiin.
Salam,

Source : Ar-Risalah Institute

Sabtu, 16 September 2017

SEJARAH MUNCULNYA SEKTE AHMADIYAH

Banyak sisi kelam dari kisah hidup para nabi palsu yang terkubur oleh puja dan puji para pengikutnya. Mirza Ghulam Ahmad adalah contoh yang amat layak diketengahkan. Bagaimana sesungguhnya akhlak dari “nabi” orang-orang Ahmadiyah ini?

Sekilas Sejarah Munculnya Sekte Ahmadyiah

Dengan menengok –walau sekilas– tentang sejarah munculnya sekte Ahmadiyah ini, diharapkan kita akan mengenal dengan jelas jati diri mereka dan pimpinan mereka. (1) Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan di daerah Qadiyan, salah satu daerah di wilayah Punjab, di sebuah keluarga yang bekerja dengan setia pada penjajah Inggris. Dahulu ayahnya adalah salah satu pengkhianat muslimin.

Membantu Penjajah Inggris

Dia melakukan makar terhadap muslimin serta membantu penjajahan Inggris guna memperoleh kedudukan. Ini sebagaimana disebutkan sendiri oleh Ghulam Ahmad dalam bukunya Tuhfah Qaishariyyah (hal. 15): “Sesungguhnya ayahku Ghulam Murtadha dahulu termasuk orang yang memiliki hubungan baik dan mesra dengan pemerintah Ingris. Ia punya posisi di kantor pemerintah. Ia membantu pemerintah (Inggris) saat orang-orang sebangsa dan seagamanya melawan Inggris, dengan bantuan yang baik pada tahun 1851 M. Dia bahkan membantu Inggris dengan 50 tentara dan 50 kuda darinya sendiri….”

Di masa remajanya, Ghulam Ahmad belajar sebagian buku-buku bahasa Urdu dan bahasa Arab dari ustadz-ustadz yang kurang dikenal. Juga belajar sedikit dari ilmu perundang-undangan, kemudian bekerja menjadi pegawai di Siyalkot dengan gaji hanya 15 Rupee per bulannya (hal. 278-279).

Menjadi Pengangguran, Mempelajari Buku Hindu dan Nasrani

Lalu dia meninggalkan pekerjaannya tersebut, sehingga menjadi pengangguran. Saat itu ia mulai mempelajari buku-buku agama Hindu dan Nashrani, karena dialog antar agama saat itu tengah ramai di India. Mayoritas muslimin menghormati ulama dan munadzir (ahli dialog) mereka serta membantu mereka sesuai kemampuan, dengan segala yang mereka miliki baik harta maupun jiwa. Sehingga Ghulam Ahmad di awal munculnya menampakkan bahwa dirinya adalah seorang pembela Islam. Dia pandang pekerjaan ini mudah baginya dan mulia. Ia juga bisa memperoleh harta dengan cara ini yang tidak dia peroleh dengan menjadi pegawai.

Mengumumkan Perlawanan Terhadap Hindu

Maka yang pertama kali dia lakukan adalah mengumumkan perlawanannya terhadap agama Hindu. Iapun menulis beberapa makalah di sebagian surat kabar, disusul dengan memproklamirkan perlawanannya terhadap Nashrani. Sontak kaum muslimin mengarahkan perhatiannya kepadanya. Ini terjadi pada tahun 1877 M dan 1878 M.

Lalu ia mengumumkan bahwa dirinya telah memulai menulis kitab sebanyak 50 (lima puluh) jilid, membantah segala sanggahan orang kafir terhadap Islam. Oleh karenanya, hendaknya kaum muslimin segera menyumbangkan dananya agar segera tercetak. Saat-saat itu juga, ia mulai mengumumkan tentang karamah-karamahnya yang palsu, sehingga orang-orangpun menganggap ia bukan hanya sekadar orang berilmu tapi juga seorang wali. Maka segeralah muslimin mengirimkan dana yang cukup besar untuk mencetak kitab tersebut (2).

Pujian Pujian Terhadap Inggris

Kemudian ia menerbitkan Juz pertamanya dengan judul Barahin Ahmadiyah pada tahun 1880 M. Tetapi isinya justru dipenuhi dengan pengumuman-pengumuman serta karamah-karamahnya. Lalu keluar juz kedua tahun 1882 M dan isinya tidak jauh dari yang pertama. Kemudian ia keluarkan juz ketiga tahun 1884 M, lalu juz keempat. Sesampainya kitab-kitab tersebut di tangan muslimin, mereka heran dan kecewa. Karena bukannya mengisi lembaran kitabnya dengan sanggahan orang-orang kafir dan bantahannya, tapi justru dengan karamah-karamah dan puja-pujian terhadap penjajah Inggris.

Menipu Kaum Muslimin

Ketika itu, para ulamapun paham bahwa sesungguhnya ia hanya menipu kaum muslimin. Yang patut disebutkan juga bahwa kitab yang dia janjikan 50 jilid itu ternyata tidak terbit kecuali hanya 5 jilid. Ketika ditanya tentang orang-orang yang telah menyumbang untuk mencetak kitabnya tersebut, ia hanya menjawab: “Tidak ada bedanya antara lima dan lima puluh kecuali hanya satu titik.” (3)

Alhasil, penjajah Inggris telah memanfatkannya dan menyuguhkan kepadanya segala yang istimewa dan berharga, sehingga iapun berkhianat sebagaimana ayahnya berkhianat. Namun pengkhianatan ayahnya hanya terhadap bangsa dan rakyat negaranya, tapi si anak ini berkhianat terhadap agamanya dan pemeluk agamanya. Akhirnya iapun bekerja atas gaji penjajah Inggris dan dengan bimbingan mereka.

Mengaku Sebagai Mujadid, Al Masih Al Mau'ud, Nabi

Awal proklamasinya pada tahun 1885 M dengan pengakuan bahwa dirinya adalah seorang Mujaddid (pembaru). Lalu pada tahun 1891 M dia mengaku bahwa dirinya adalah Mahdi yang dijanjikan akan muncul. Pada tahun yang sama juga, dia mengaku bahwa dirinya Al-Masih Al-Mau’ud (yang dijanjikan), namun ia adalah nabi yang mengikuti nabi sebelumnya. Setelah itu, pada tahun 1901 M dia menyatakan bahwa dirinya adalah Nabi yang berdiri sendiri, yakni memiliki syariat tersendiri, bahkan lebih para Nabi dan Rasul.

Orang-orang yang berilmu sesungguhnya telah menduga kuat sebelum penobatan dirinya sebagai Nabi bahwa hal itulah sebenarnya yang dia inginkan. Akan tetapi Ghulam mengingkari hal itu dengan sekuatnya dan mengatakan: “Aku meyakini semua yang diyakini Ahlus Sunnah, sebagaimana aku meyakini bahwa Muhammad adalah penutup para nabi, dan barangsiapa yang mengaku kenabian setelahnya berarti dia kafir, dusta. Karena aku mengimani bahwa kerasulan dimulai dari Adam dan berakhir sampai Rasulullah.” (4)

Mengaku Sebagai Muhaddats dan Kaliim

Lalu sedikit meningkat dengan motivasi dari penjajah, sehingga dia mengatakan:
“Aku bukan nabi, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan aku muhaddats dan kaliim (yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) agar memperbarui agama Al-Mushthafa.”(5)

Mengaku Berkekuatan Nabi

Lalu meningkat lagi secara bertahap, katanya: “Aku bukan Nabi, akan tetapi Muhaddats, dan Muhaddats itu berkekuatan nabi, bukan benar-benar Nabi.” (6)

Lalu, “Muhaddats itu adalah Nabi yang kurang… seolah jembatan antara para Nabi dan umat-umat mereka.” (7)

Lebih dari itu, dia mengatakan: “Aku bukan Nabi yang menyerupai Muhammad atau aku datang dengan syariat yang baru, bahkan seluruh yang ada, aku adalah Nabiyyun muttabi’ (Nabi yang mengikuti).” (8)

Mengaku Almasih dan Nabi

Lalu “Aku adalah Al-Masih yang Rasul beritakan tentangnya.” (9)
Pada akhirnya mengatakan: ”Demi Allah Yang rohku pada genggaman-Nya, Dialah yang mengutus aku dan menamaiku dengan Nabi… dan menampakkan untuk kebenaran pengakuanku, ayat-ayat nyata yang jumlahnya mencapai 300 ribu bukti.” (10)

Padahal dia yang mengatakan sebelum itu: “Tidaklah ada yang mengaku sebagai Nabi setelah Muhammad kecuali dia adalah saudara Musailamah Al-Kadzdzab, kafir, orang yang jelek” (11)

Dia juga mengatakan: “Kami melaknat orang yang mengaku nabi setelah Muhammad.”(12)

Dengan demikian Mirza Ghulam Ahmad adalah terlaknat, kafir, pendusta dan sangat jelek, berdasarkan persaksiannya sendiri.

Satu Contoh Kenabian Ghulam Ahmad

Seorang Nabi tentu membawa berita-berita kenabian, karena Nabi berarti pembawa berita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (lihat Al-Qamus Al-Muhith). Berita tersebut sebagai bukti akan kebenaran kenabian yang dia klaim. Itulah pula yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad bin Abdillah Al-Qurasyi. Sebagai salah satunya adalah berita akan munculnya para pendusta yang mengaku Nabi, dan itu telah terbukti. Berita tersebut hanya salah satu dari sekian banyak berita kenabian beliau. Para ulama telah membukukannya dalam karya-karya mereka yang mereka beri judul Dala`il An-Nubuwwah, semacam yang ditulis oleh Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah

Lalu bagaimana dengan Nabi Ahmadiyah ini? Kami akan berikan salah satu contoh berita kenabiannya, yang ia jadikan sebagai tolok ukur kebenaran kenabian atau kedustaannya.
Alkisah, salah seorang kerabat Ghulam Ahmad bernama Ahmad Bik suatu saat memerlukan bantuan Ghulam karena suatu masalah yang dia alami. Ghulam pun mengatakan: “Aku akan membantumu dengan syarat kamu nikahkan aku dengan anak perempuanmu, Muhammadi Baijum.”

Usia Ghulam ketika itu di atas 50 tahun dan dalam kondisi banyak mengidap penyakit. Ahmad Bik pun tidak menerima syarat tersebut, sehingga beranglah Ghulam Ahmad karena penolakan itu. Mulailah ia mengancam Ahmad Bik. Begitu kasmarannya terhadap si wanita tersebut sampai ia mengatakan: “Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku dalam bentuk (wahyu) kenabian, bahwa anak perempuan Ahmad Bik menikah denganku. Padahal keluarganya tidak setuju dan melarang. Akan tetapi Allah menikahkannya denganku dan menghilangkan segala penghalang. Tidak seorangpun yang dapat menghalangi terwujudnya pernikahan ini.” (Izalatul Auham hal. 396 karya Ghulam Ahmad)

Lebih dari itu bahkan dia mengatakan: “Bila berita kenabian ini tidak terwujud, maka aku menjadi yang terjelek dari orang-orang yang jelek, wahai orang-orang yang dungu.”

Dalam masa penantian terwujudnya “berita kenabian” itu, Ghulam terus berusaha merayu Ahmad Bik dengan berbagai macam janji dan pengharapan. Sehingga ia menulis surat kepada Ahmad Bik yang berisi: “Saudaraku yang mulia Ahmad Bik, semoga Allah berikan keselamatan kepadamu. Saat ini aku baru saja selesai dari amalan muraqabah, sehingga aku tidur dan aku melihat bahwa Allah memerintahkan aku agar memperlihatkan kepadamu dengan syarat kamu nikahkan aku dengan anak perempuamu yang besar dan masih perawan, agar kamu berhak mendapatkan kebaikan-kebaikan dari Allah, barakah-barakah-Nya, nikmat-nikmat-Nya serta kemuliaan dari-Nya, serta memberikan kepadamu jalan keluar dari kesulitan dan musibah. Tapi, jika kamu tidak memberikan anak perempuanmu kepadaku maka engkau akan menjadi sasaran peringatan dan hukuman.

Aku sampaikan juga kepadamu apa yang Allah perintahkan kepadaku agar kamu mendapat nikmat Allah dan pemuliaan-Nya, dan agar Ia bukakan untukmu perbendaharaan-perbendaharaan nikmat… Aku juga siap untuk menandatangani perjanjian yang kamu bawa kepadaku. Lebih dari itu, seluruh milikku untukmu dan untuk Allah. Demikian juga, aku siap membantu anakmu Aziz Bik untuk mendapatkan pekerjaan di kepolisian, sebagaimana aku akan nikahkan dia dengan anak perempuan seorang yang kaya raya dari muridku.”(13)

Ketika ia melihat bahwa rayuan-rayuan tersebut tidak membuahkan apapun maka ia mulai merendah dan meminta-minta belas kasihan Ahmad Bik. Ia tuliskan dalam surat berikutnya: “Aku berharap darimu dengan penuh adab dan segala kelemahan, agar kamu terima pernikahanku dengan anak perempuanmu, karena pernikahan ini pasti menyebabkan keberkahan dan membukakan untuk kalian pintu-pintu rahmat, yang tidak tergambar oleh kalian. Barangkali kalian juga tahu bahwa berita kenabian ini telah tersebar luas di kalangan ribuan manusia bahkan ratusan ribu manusia. Dunia pun melihat realisasi dari kenabian ini. Ribuan orang-orang Kristen juga berharap agar kenabian ini tidak terealisasi, sehingga mereka menertawakan kita. Namun Allah akan menghinakan mereka dan menolong aku. Oleh karena itu, aku berharap darimu agar membantu aku dalam merealisasikan kenabian ini.”

Ternyata upaya inipun tidak membuahkan hasil. Maka ia berusaha mencari jalan lain dengan cara memaksa dua anaknya untuk membantu memaksa Ahmad Bik, yaitu Sulthan Ahmad dan Fadhl Ahmad. Bila tidak, maka mereka berdua diharamkan dari warisan.

Bahkan istrinya juga diancam untuk diceraikan bila tidak membantu. Dia katakan: “Bila anak perempuan Ahmad Bik menikah dengan seseorang selainku, maka hari itu juga Sulthan Ahmad haram dari warisanku, dan dia tidak lagi punya hubungan denganku serta ibunya kuceraikan. Adapun anakku Fadhl Ahmad, ia juga haram dari warisanku bila ia tidak menceraikan istrinya, yaitu anak perempuan dari saudara perempuan Ahmad Bik, dan tidak ada lagi hubungan denganku seperti halnya saudaranya, Sulthan Ahmad.” (14)

Allah Membuktikan Imitasi Kenabian

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak lain untuk membuktikan imitasi kenabiannya. Gadis dambaan Ghulam Ahmad itupun akhirnya menikah dengan seorang militer bernama Sulthan Bik. Akhirnya, kesedihan yang dalam dan penyesalan yang tiada terukur menyelimuti pembawa berita kenabian palsu itu. Laknat dan doa jelek pun dia tuai karena dia sendiri yang menanamnya: “Bila berita kenabian ini tidak terwujud maka aku menjadi yang terjelek dari orang-orang yang jelek, wahai orang-orang yang dungu.”

Namun tanpa rasa malu, ia tetap bersikukuh akan kebenaran berita kenabian itu. Sehingga ia menuliskan: “Aku memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya, sehingga aku diberi ilham, ‘Niscaya aku akan perlihatkan kepada mereka ayat-ayatku, bahwa wanita ini akan menjanda dan suaminya akan mati, demikian pula ayahnya. Dalam kurun waktu 3 tahun lagi, wanita itu akan kembali kepadaku dan tidak seorangpun mampu menghalangi.” (15)

Dia juga mengatakan: “Demi Allah yang mengutus Muhammad dengan kebenaran. Ini jujur, ini benar, bahwa wanita itu menikah denganku, DAN AKU JADIKAN BERITA INI SEBAGAI TOLOK UKUR KEJUJURAN ATAU KEDUSTAANKU. Tidaklah kukatakan ini melainkan setelah Allah beritakan kepadaku tentangnya.”

Sulthan Bik Tak Kunjung Mati

Waktu berjalan. Hari berganti hari. Namun sampai waktu yang dijanjikan bahkan melebihinya, sang suami tak kunjung mati walau hidupnya di bawah desingan peluru dan mortir. Suatu keadaan yang membuat pengaku nabi ini semakin gundah. Tertuang padanya berbagai laknat dan cercaan, sehingga ia berdoa: “Akhirnya aku memohon kepada Allah, wahai Ilah, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, jika berita kenabian tentang pernikahan dengan anak perempuan Ahmad Bik ini dari sisi-Mu maka wujudkanlah, agar menjadi hujjah atas makhluk-Mu, dan agar Engkau bungkam dengannya mulut-mulut orang yang hasad dan jelek. Jika KENABIAN INI BUKAN DARI-MU ya Allah, maka binasakan aku dalam keadaan hina dan merugi. Dan jadikan aku terlaknat dalam pandangan-Mu.” (16)

Sungguh-sungguh terjadi, doa itu bagai bumerang buatnya. Sampai ajal menjemput Ghulam Ahmad dalam keadaan yang menghinakan, suami Muhammadi Baijum masih tetap menghirup udara dan tetap berada di samping sang istri, bahkan hidup sampai lebih dari 40 tahun sepeninggal Nabi palsu yang terbongkar kepalsuannya dengan persaksiannya sendiri. Sungguh ini merupakan pukulan telak bagi Ahmadiyah, yang mereka tidak mendapatkan jalan keluar darinya.

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menyebutkan sampai 10 berita kenabian palsu semacam ini dalam makalahnya Al-Mutanabbi Al-Qadiyani wa Tanabbu`atuhu. Tentunya jumlah itu bukan sebagai pembatas. Namun, adakah bukti kepalsuan ini mendapatkan tempat di hati pada pengikut Ahmadiyah?
Ternyata tidak, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang buta sesungguhnya bukanlah mata mereka, tapi kalbu mereka.

footnote/ referensi :

1. Pembahasan berikut ini diringkas dari kumpulan makalah Asy-Syaikh Prof. Ihsan Ilahi Zhahir, seorang ulama besar di Pakistan.
2. Bisa dilihat pengumuman-pengumuman tersebut dalam Tabligh Risalat kumpulan pengumuman Ghulam Al-Qadiyani juz 1 hal. 25 dan Tabligh Risalat Juz 2 hal: b dan Juz 1 hal. 13.
3. Yakni angka nol dalam tulisan Arab adalah titik. Hanya itu bedanya. Pernyataannya tercantum dalam ﻳﻘﺪﻣﻪ ﺑﺮﺍﻫﻴﻦ ﺃﺣﻤﺪ juz 5 hal 7.
4. I’lanul Ghulam, pernyataan Ghulam tanggal 12 Oktober 1891, dalam kumpulan Tabligh Risalat juz 2 hal. 2.
5. Mir`aat Kamalaat Al-Islam hal. 383
6. Himayat Al-Busyra, karya Ghulam hal. 99
7. Izalatul Auham, karya Ghulam hal. 529
8. Titimmatu Haqiqatul Wahyi, karya Ghulam hal. 86
9. Izalatul Auham, karya Ghulam hal. 683
10. Titimmatul Wahyi, karya Ghulam hal. 68
11. Anjam Aatsim, karya Ghulam hal. 28
12. Pernyataan Ghulam dalam Tabligh Risalat juz. 6 hal. 2.
13. Surat Ghulam Al-Qadiyani kepada Ahmad Bik, dinukil dari ﻏﻴﺐ ﻧﻮﺷﺘﻪ hal. 100 tanggal 20 Februari 1888 M.
14. Pengumuman Ghulam Ahmad 2 Mei 1891 dinukil dari Tabligh Risalat, 2/9.
15. Ilham Ghulam Ahmad, dinukil dari ﻏﻴﺐ ﻧﻮﺷﺘﻪ
16. Pengumuman Ghulam Ahmad pada 27 Oktober 1894 M dalam Tabligh Risalat, karya Qasim Al-Qadiyani, 3/186.
17. Al-Ustadz Qomar ZA
18. https://abihumaid.wordpress.com/2008/06/14/sejarah-munculnya-ahmadiyah/

Sabtu, 19 Agustus 2017

SEKTE AHMADIYAH BUATAN INGGRIS

Apa Itu Ahmadiyah ?

Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/ bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah “Majalah Al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris.

Siapakah Mirza Ghulam Ahmad ?

Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1839-1908M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.

Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908M.

Pada awalnya Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para da’i Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi Al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel sebagai hasil karya palsunya. Karena banyak penulis inggris yang mengatasnamakan/ memakai nama Mirza Ghulam Ahmad dalam menulis bukunya. Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I’jaz Ahmadi, Barahin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I’jazul Masih, At-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.

Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

1. Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih yang dijanjikan.
2. Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan dan berjimak. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
3. Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
4. Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana Al-Qur’an.
5. Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur’an.
6. Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
7. Membolehkan khamer, opium, ganja dan apa saja yang memabukkan.
8. Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
9. Mereka mengatakan bahwa tidak ada Al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada Al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam Ahmad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
10. Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama Al-Kitab Al-Mubin, bukan Al-Qur’an Al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin.
11. Mereka meyakini bahwa Al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah Al-Munawarah dan Mekkah Al-Mukarramah ; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji.
12. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang indenpenden, dengan syarat yang indenpenden pula, seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

1. Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.
2. Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluaga bangsawan.
3. Pada tahun 1953M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai menteri luar negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.
4. Pada bulan Rabiul Awwal 1394H, bertepatan dengan bulan April 1974M dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Mekkah Al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan “Kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak bermu’amalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum Muslimin”.
5. Majelis Rakyat (Parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah bernama Nasir Ahmad. Debat ini berlangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/ tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis parlemen mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.

Hal-Hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad

1. Pengakuannya sebagai nabi.
2. Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
3. Meniadakan berhaji ke Mekkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
4. Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
5. Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan).
6. Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan.
7. Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membuka pintu bagi siapa saja yang menginginkannya.

Penyebaran dan Aktifitas Ahmadiyah

1. Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka berada.
2. Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5000 mursyid dan da’i yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.
3. Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintah Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki
4. Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khsusnya media massa. Mereka adalah orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pandai, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat stasiun pemancar TV dengan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah.

Pemimpin-Pemimpin Ahmadiyah

1. Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad bernama Nuruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiyah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul “Fashlb Al-Khithab“.
2. Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Lahore. Keduanya adalah corong dan ahli debat kelompok Ahmadiyah. Muhammad Ali telah menulis terjemah Al-Qur’an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain. Haqiqat Al-Ikhtilaf An-Nubuwah Fi Al-Islam dan Ad-Din Al-Islami. Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul Matsal Al-A’la Fi Al-Anbiya serta kitab-kitab lain. Jamaah Ahmadiyah Lahore ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.
3. Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Di antara tulisannya berjudul Khatam An-Nabiyyin.
4. Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul Anwar Al-Khilafah, Tuhfat Al-Muluk, Haqiqat An-Nubuwwah.
5. Dzhafrilah Khan, menteri luar negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadopsi dari ayat Al-Qur’an: “Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Qs. Al-Mukminun: 50)

Kesimpulan

Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kuffur.

Referensi :
1. Al-Mausu’ah Al-Muyassarah Fi Al-Adyan Wa Al-Madzahib Wa Al-Ahzab Al-mu’ashirah, oleh DR Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani
2. Tabshir Al-Adhan bi Ba’di Al-Madzahib wa Al-Adyan, oleh Muhammad As-Sabi’i
3. Majalah Fatawa Vol. 06. Th. II 1425H/2004M.
4. almanhaj.or.id
5. muslim.or.id

Kamis, 10 Agustus 2017

WASPADA, AHMADIYAH MENGAKU ISLAM!!!

FAKTANYA YANG TERJADI ADALAH :

1. Jika memang ahmadiyah Islam, kenapa harus mempunyai organisasi sendiri? dan tata peribadatan yang lain?
Jika anda menganggap ini sama dengan NU atau Muhammadiyah tentu lain. Sebab NU dan Muhammadiyah hanyalah sebagai organisasi politik di indonesia. Adapun masjid, ibadah dan kitabnya islam juga dan lagi tidak ada masjid nya NU atau masjidnya Muhammadiyah semua sama aja yang berbeda hanya pemikiran politiknya saja. Jadi jelas sekali Ahmadiyah adalah sebuah aliran baru yang meng”obok obok” islam.

2. Jemaat Ahmadiyah selama ini membuat komunitas sendiri bahkan masjid sendiri. apakah ini ciri umat muslim ? Jelas sekali berarti mereka berbeda.

3. Jika memang ajarannya (aqidahnya) seperti yang tertulis disamping kiri forum ini, mengapa mereka tetap mengatasnamakan ahmadiyah? mengapa tidak mengakui saja bahwa anda muslim/islam tanpa embel2 “ahmadiyah” lagi?
Jelas sekali ini hanyalah sebuah pengaburan identitas agar tidak dijauhi masyarakat, sementara mereka tetap meyakini Mirza Gulam Ahmad yang begitu diagungkan.

4. Kalau benar Mirza Gulam Ahmad hanya dianggap seperti seorang wali songo atau penyebar islam, mengapa dijadikan sebuah nama aliran?
Di Jawa sekalipun tidak seperti begitu mengangungkan para wali ko.

5. Apakah ahmadiyah merupakan sebuah refleksi ketidakpuasan terhadap ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw? apakah ada yang belum sempurna? Sementara Al Quran sendiri telah mengatakannya. Mengapa malah membuat aliran ahmadiyah yang notabene justru memecah Islam?

6. Bukankah umat Islam itu diperintahkan Nabi Muhammad Saw supaya bersatu?

7. Bukankah musuh dalam selimut itu pasti lebih berbahaya dibandingkan dengan musuh yang sudah jelas kita tahu dan datang dari luar? Ada apa dibalik misi Ahmadiyah? Mengapa dia harus dikendalikan dari London?

8. Ahmadiyah membuat keyakinan tersendiri yang mengatakan Isa As telah mati. Apakah ini ada dalam Al Qur’an?
Sementara kita tahu hingga saat ini salah satu keyakinan yang sama-sama di antara islam dan kristen adalah sama-sama menanti kedatangan Isa As di akhir jaman nanti.

9. Kalau memang Ahmadiyah ajarannya sama dengan Islam, kenapa harus masuk aliran ahmadiyah? toh selama ini kan umatnya islam juga kan… Jadi kenapa harus memakai kata ahmadiyah lagi? Bukankah islam cuma ada satu yaitu pengikut Allah dan Muhammad rasulnya? Jadi benar kecurigaan selama ini bahwa Ahmadiyah ini sebenarnya adalah bentukan orang-orang Kristen yang berada di London. Kalau. memang benar Mirza Ghulam Ahmad itu, kenapa orang India sendiri atau Pakistan tidak mau mengikutinya? Kita tahu bahwa agama yang besar di India adalah Hindu dan Sikh justru. Karena itu sadarlah hai orang-oran Indonesia yang mengikuti Ahmadiyah, jika anda mengikuti 12 butir kesepakatan yang ditulis pengurus Ahmadiyah tersebut berarti anda tidak perlu lagi masuk jamaah Ahmadiyah karena 100 % anda sudah penganut Islam tanpa embel-embel Ahmadiyah lagi !

Ingat kisah ini sama halnya dengan kisah Paulus yang mengaku mendapat perintah dari Yesus untuk menyebarkan keyakinannya yang salah satunya merumuskan trinitas yang mengakui ketuhanan Yesus. Padahal jelas-jelas kita tahu Yesus atau Nabi Isa as adalah nabi pembawa Al Kitab yang juga diyakini di Al Qur’an. Jadi kesimpulannya Paulus-lah yang merusak ajaran Yesus dengan mengaku-ngaku sebagai utusan terakhirnya.

Contoh yang paling dekat lagi, masih ingat dengan seorang Ahmad Mossadeq yang mengaku sebagai Al Masih Al Mawu'ud ? Apa bedanya orang ini dengan Mirza Ghulam Ahmad? Dia juga seorang manusia yang mengaku diutus sebagai pembawa ajaran terakhir alias nabi. Tapi tujuannya sebenarnya hanya satu, memecah belah Islam agar pengikut islam bingung.

Ketika sudah diteror sedemikian rupa, jemaat Ahmadiyah malah melakukan kompromi dengan mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukanlah nabi bagi mereka. padahal silahkan buka website mereka di ahmadiyah.org atau ahmadiyahinfo . Di situ jelas-jelas mereka menyebut Mirza Ghulam Ahmad dengan menambahi embel-embel “as” selayaknya seorang nabi. Yang dilakukan sekarang ini hanyalah bukti dari ketakutan mereka karena sudah terpojok. Tetapi sebenarnya mereka tetap menjalankan keyakinan seperti itu. Tetapi yang lebih anehnya lagi mengapa pemerintah gampang dapat dikibulin seperti itu? Apakah mereka tidak meneliti situs-situs ataupun data-data Ahmadiyah? Sepert yang dilakukan tim pencari fakta MUI ? pemerintah hanya menilai atas dasar pengakuan. mana ada maling ngaku maling? ataukah pemerintah menganggap ahmadiyah telah bertobat? tapi adakah sebuah keyakinan dasar bisa diubah apalagi ahmadiyah ini sudah mendunia? dinegaranya saja ditolak itulah mengapa mereka pindah ke london ( negara non muslim ). seandainya saya bukan seorang muslim sekalipun tentu akan muntah, jijik dan tidak simpati lagi dgn ahmadiyah, sebab ini adalah bukan sebuah agama melainkan akal akalan politik yg bertujuan merusak sebuah agama lain (islam) karena mereka tidak konsisten terhadap agamanya sendiri. mana ada agama yang bisa berkompromi terhadap akidahnya? coba kita analisa ada apa dibalik ini semua? saya tidak menyalahkan jamaah ahmadiyah indonesia, karena mereka adalah saudara2ku yang menjadi korban penipuan orang2 london yang ingin merusak islam.
wahai umat Islam indonesia, kita janganlah terlalu terpancing emosi terhadap munculnya aliran yang mengaku2 islam sebagaimana ahmadiyah ini. sebab alqur’an sendiri telah menuliskan hal ini jauh sebelum hari ini. disitu telah di ramalkan bahwa islam akan terpecah, dan ketika dunia akan kiamat akan banyak bermunculan orang2 yang mengaku sebagai nabi ataupun perpecahan dalam islam sendiri. jadi sebenarnya umat islam tidak perlu marah melainkan bersyukur bahwa apa yang telah dituliskan di alqur’an ternyata semuanya telah terbukti dimasa kini dan itu semakin menguatkan aqidah kita pada keislaman kita bahwa inilah kitab yang benar. JIKA AHMADIYAH TIDAK ADA MAKA YANG DIKATAKAN QUR’AN SELAMA INI TENTU SALAH. BAHWA MEMANG AKAN DATANG RANG2 YANG AKAN MENGHANCURKAN ISLAM DAN MEREKA TIDAK AKAN RELA SAMPAI AGAMA ISLAM ITU HANCUR, SEKALIPUN HARUS MENYARU ( MENYAMAR ) MENJADI AGAMA YANG SEAKAN AKAN ISLAM BUNGKUSNYA TETAPI SEBENARNYA DIBUAT OLEH ORANG KAFIR SENDIRI UNTUK MEMECAH BELAH DAN MENGHANCURKAN ISLAM YG DIBAWA OLEH RASULULLAH SAW !
KESIMPULANNYA :

Ahmadiyah lebih berbahaya dari agama lain diluar Islam, karena banyak orang akan menyangka ini islam dan akan masuk ke dalamnya tetapi setelah masuk ke dalamnya, mereka akan dirusak aqidahnya. Kalau seandainya agama lain selain Islam (misalkan Ahmadiyah membuat agama sendiri), tentu orang sudah jelas tahu sehingga tinggal memilih mana yang ingin diikutinya dan itu hak azasi orang tidak boleh dilarang. tetapi Ahmadiyah…..Siapakah jamaah yang ingin kalian tarik masuk ke agama kalian? Apakah dari kaum muslim sendiri? Kalau benar begitu maka memang kalian lah yang lebih patut diwaspadai oleh umat Islam dan lebih berbahaya dibandingkan Yahudi dan Nasrani. Dan cara-cara seperti Ahmadiyah ini sama seperti cara-cara yang biasa dilakukan kaum Nasrani yaitu menyaru sebagai Islam guna mendekati orang Islam lalu kemudian setelah orang itu masuk barulah mereka mendoktrin ajaran mereka yang tujuannya merusak aqidah umat Islam. Karena prinsip umat Nasrani saat ini adalah “Cukup dengan membuat umat Islam melenceng dari aqidahnya saja” itu sudah berarti dia keluar dari Islam dan umat Nasrani pun puas.
Kalau memang benar Ahmadiyah itu sama dengan Islam dan mereka hanya menganggap Mirza Gulam Ahmad hanya sebagai mujaddid, maka : seharusnya mereka menjadi umat Islam seperti umat Islam lainnya. dan tidak perlu menggunakan lagi kata-kata Ahmadiyah……tetapi saya tidak yakin Ahmadiyah akan seperti di atas karena toh memang mereka hanya bersandiwara kan? Dan itu juga otomatis berarti mereka tidak sama dengan Islam !

Bukankah umat islam itu diperintahkan Nabi Muhammad Saw supaya bersatu? Mengapa harus bangga sebagai jamaah Ahmadiyah jika anda benar-benar pengikut Allah dan Rasulullah? Harusnya banggalah anda sebagai seorang muslim yang meyakini Islam sebagai agamamu.

1. Turunkebumi
2. Komentar Irhambahtiar di Turunkebumi

KEMATIAN TRAGIS NABI PALSU MIRZA GHULAM AHMAD

MASA KELAHIRAN

Mirza Ghulam Ahmad lahir di Qadian, Punjab, India. Lahir tanggal 13 Februari 1835 dan meninggal 26 Mei 1908. Dia adalah pendiri sekte Ahmadiyah. Dia mengaku sebagai Yesus/ Isa yang kedua kalinya Mesias yang dijanjikan, Imam Mahdi, begitu juga sebagai Mujaddid diabad ke 14 Islam. Bagaimanapun, pengakuannya tidak begitu saja diterima oleh sebagian umat Muslim dan sebagian besar melihatnya sebagai nabi palsu.

Ketika MGA berumur 40 tahun, ayahnya wafat. Waktu itu MGA mengaku bahwa Tuhan telah berkomunikasi dengannya melalui wahyu. Sejak saat itu MGA menulis untuk melawan apa yang menurutnya sebagai tulisan-tulisan anti Islam dari berbagai kelompok misionaris Kristen. Dia juga fokus dalam melawan berbagai dampak yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Brahma Samaj.

Selama periode ini dia sangat diterima oleh berbagai golongan Islam yang ada saat itu. Tidak sedikit para ulama yang menentang dan berusaha menasehati MGA agar ia bertaubat dan menghentikan dakwah sesat yang di bawanya. Namun, MGA tetap menyebarkan dakwahnya.

Salah satu keberatan yang dialamatkan kepada MGA telah mengajukan sebuah doa untuk menantang (Mubhalah) Maulvi Sanaullah yakni jika di antara mereka berdua salah satunya adalah orang yang sesat dan palsu. Saat itu MGA berumur 62 tahun dan Maulvi Sanaullah dari Amritsar berusia 29 tahun. Daftar nama-nama ulama yang diajak ber-mubahalah oleh MGA telah dilampirkan dalam buku Anjam-e-Aatham (1897).

Maulvi Sanaullah diam beberapa tahun lamanya tidak menanggapi tantangan tersebut. Setelah sekitar 5 tahun lamanya, para pendukungnya mulai menekannya untuk menanggapi mubhalah itu. MGA menanggapinya dengan menulis dalam buku Ijaz Ahmadi yang diterbitkan pada tahun 1902 sebagai berikut:
"Saya telah melihat pemberitahuan Maulvi Sanaullah dari Amritsar yang mana ia menyatakan memiliki keinginan yang tulus suatu keputusan, bahwa ia dan saya seyogyanya berdoa sehingga salah seorang di antara kita yang berdusta akan menemui ajal semasa hidup orang yang benar."

Jelas dikatakan pada ayat: Qs Al Ahzab 40:
"Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi".
Dalam hadits di bawah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya Nabi terakhir, tapi juga Rasul terakhir. Rasulullah SAW menegaskan:
"Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku."

5 dalil berikut menjelaskan tak ada Nabi baru setelah Muhammad dan tak ada nabi baru lagi setelah Rasulullah :
1. Qs Al Ahzab 40:
"Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi".
2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka takjuk lalu berkata: kenapa kamu tidak taruh batu ini.? Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi."
3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mutim RA bahwa Nabi SAW bersabda:
"Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya."
4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW:
"Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku."
5. Khutbah terakhir Rasulullah.
"Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat."

DI BALIK KONSPIRASI DENGAN INGGRIS

Hubungan Inggris dengan MGA dan keluarganya memang mesra. MGA berjasa menyerukan penghapusan jihad saat India dijajah Inggris. Berikut bukti-buktinya:

1. Hasan bin Mahmud Adah (mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Ahmadiyah Pusat di London) menilai :
"Hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya."

2. Di Ruhani Khazain, hlm 36, MGA menyatakan: ”Tidak samar lagi, atas pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya, para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.”

3. Di Ruhain Khazain, hlm 155, MGA menulis:
‘‘Sungguh aku telah menghabiskan kebanyakan umurku dalam mengokohkan dan membantu pemerintahan Inggris. Dan dalam mencegah jihad dan wajib taat kepada pemerintah (Inggris), aku telah mengarang buku-buku, pengumuman-pengumuman, dan brosur-brosur yang apabila dikumpulkan tentu akan memenuhi 50 lemari.”

4. Di Ruhani Khazain hlm 28:
Sungguh telah dibatalkan pada hari ini hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari ini. Barang siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka dia telah menentang Rasulullah… sesungguhnya saya ini adalah Al Masih yang ditunggu-tunggu. Tidak ada jihad dengan senjata setelah kedatanganku ini.”

5. MGA yang mengaku sebagai nabi, rasul, almaasih, almahdi, brahman avatar, krishna, dan titisan nabi-nabi, teryata tunduk belaka di hadapan Ratu Victoria.
Audah menegaskan dalam bukunya Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan pengalaman-pengalaman : ”Perbuatan tidak bermalu Mirza Ghulam ‘sang nabi’ merendahkan diri depan Ratu Victoria… tak bisa saya terima, bahkan saat saya masih sebagai seorang Ahmadi sejati.”

6. Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur MGA sejak tahun 1830-an.
Saat itu, India masih dikuasai Muslim, menghadapi dua kekuatan: Inggris dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua kekuatan itu, keluarga Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris. Fakta tersebut diungkap Bashiruddin Mahmud Ahmad, anak MGA yang juga khalifatul masih II dalam bukunya, Riwayat Hidup MGA. "Leluhur MGA merupakan pemimpin tentara yang membantu Maharaja Ranjit Singh, Jenderal Nicholson, dan Jenderal Ventura."
Dalam bukunya, Bashiruddin tak menjelaskan konteks pemberian bantuan itu. Dia mengungkapkannya, "Layaknya sebuah kehormatan besar bagi keluarganya. Namun fakta sejarah memang tak bisa ditutupi, betapa yang diserang Ranjit Sing, Nicholson, dan Ventura, adalah umat Islam."

7. Kesimpulan Abdullah Hasan Alhadar dalam bukunya "Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah".
Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak bisa dielakkan lagi.”

8. Saat masalah pertentangan soal Ahmadiyah mencapai puncaknya di Pakistan dan konstitusi negara itu akhirnya mencantumkan bahwa penganut Ahmadiyah merupakan non-Muslim, terjadilah ketegangan. Buntutnya, kekhalifahan Ahmadiyah yang mirip ‘dinasti’ itu hengkang dari Pakistan. Sejak tahun 1985, kekhalifahan tersebut berkedudukan di London, Inggris. Di sana, sejak tahun 1994, Ahmadiyah memiliki sebuah corong untuk menyebarkan ajarannya, yaitu Muslim Television Ahmadiyyah (MTA). Perlu dana luar biasa besar untuk melakukan siaran empat bahasa itu. Audah yang merupakan mantan orang dalam di markas pusat Ahmadiyah, berkomentar tak mungkin televisi itu dijalankan dengan biaya dari sumbangan orang-orang Ahmadiyah. ”Kami tidak mendapat informasi akurat mengenai identitas orang yang memberi dana proyek itu.”

MASA MENJELANG "MIRZA GHULAM" WAFAT

Ajaran Ahmadiyah banyak mendapat penentangan dari para ulama di India. Di antara ulama yang terdepan menentangnya adalah Asy-Syaikh Tsana`ullah Al-Amru Tasri. Karena geram, MGA akhirnya mengeluarkan pernyataan pada tanggal 15 April 1907 yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Tsana`ullah. Namun anehnya tantangan mubahalah ini justru dialami oleh Ghulam ahmad sendiri.

Ini buktinya :
1. Mubahalah MGA:
“…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang…

Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah.

Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti aku bukan rasul dari Allah…

Aku berdoa kepada Allah, wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–.

Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya…. Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah.
Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)

2. Apa yang terjadi? Setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu, justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.
Putranya Basyir Ahmad menceritakan:
"Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke sana 2 atau 3 kali tanpa memberitahu aku. Kemudian dia bangunkan aku, maka aku melihatnya lemah sekali dan tidak mampu untuk pergi ke ranjangnya. Oleh karenanya, dia duduk di tempat tidurku. Mulailah aku mengusapnya dan memijatnya. Tak lama kemudian, ia butuh ke WC lagi. Tetapi sekarang ia tidak dapat pergi ke WC, karena itu dia buang hajat di sisi tempat tidur dan ia berbaring sejenak setelah buang hajat. Kelemahan sudah mencapai puncaknya, tapi masih saja hendak buang air besar. Diapun buang hajatnya, lalu dia muntah. Setelah muntah, dia terlentang di atas punggungnya, dan kepalanya menimpa kayu dipan, maka berubahlah keadaannya.” (Siratul Mahdi hal. 109 karya Basyir Ahmad)

3. Mertuanya menerangkan:
Malam ketika sakitnya Hadhrat (Ghulam Ahmad), aku tidur di kamarku. Ketika sakitnya semakin parah, mereka membangunkan aku dan aku melihat rasa sakit yang dia derita. Dia katakan kepadaku, ‘Aku terkena kolera.’ Kemudian tidak bicara lagi setelah itu dengan kata yang jelas, sampai mati pada hari berikutnya setelah jam 10 pagi.” (Hayat Nashir Rahim Ghulam Al-Qadiyani hal. 14)

4. Hartono Ahmad jaiz bertanya kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali ke Islam. “Apakah benar, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India 15 Februari 1835 dan mati pada 26 Mei 1906, itu matinya di kakus (WC)?”
Dr. Hasan bin Mahmud Audah pun menjawab, “Ha…, ha…, haa… itu tidak benar. Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa ke WC. Dia meninggal di tempat tidur. Tetapi berminggu-minggu sebelum matinya dia berak dan kencing di situ. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti WC. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Makanya, tanyakanlah kepada orang Ahmadiyah, maukah kamu mati seperti nabimu?”

Dr Hasan bin Mahmud Audah adalah mantan Muballigh Ahmadiyah dulunya dekat dengan Thahir Ahmad (Khalifah Ahmadiyah) yang mukim di London. Pertanyaan di atas diajukan Hartono Ahmad Jaiz seusai berlangsungnya Seminar Nasional tentang Kesesatan Ahmadiyah dan Bahayanya yang diselenggarakan LPPI di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad 11 Agustus 2002.wa Akhirnya dia mati tanggal 26 Mei 1908.
Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematiannya selama hampir 40 tahun. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala singkap tabir kepalsuannya dengan akhir kehidupan yang menghinakan, sebagaimana dia sendiri memohonkannya kepada Allah Subhanahu wa taala.

Selain masalah kematiannya yang menjijikkan, Mirza Ghulam Ahmad menurut Audah punya dua penyakit:
• Sakit jasmaninya : sudah jelas, berminggu-minggu menjelang matinya tak bisa beranjak dari tempat tidur, hingga kencing dan berak di tempat tidurnya.
• Sakit akalnya : MGA mengaku menjadi Maryam, lalu karena Allah meniupkan ruh kepadanya, maka lahirlah Nabi Isa. Dan yang dimaksud dengan Nabi Isa itu tak lain adalah diri Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri. “Apakah tidak sakit akal itu namanya,” ujar Dr Hasan Audah yang dulunya mempercayai MGA, sehingga sempat membeli sertifikat kuburan surga di Rabwa.
Kini siapa yang sadar dan bertobat setelah tersingkap kedustaannya?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:
Moslemgen
Catatan Fb