Tampilkan postingan dengan label pura pura bodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pura pura bodoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 September 2017

MEIKARTA: ITU BUKAN PENJUALAN, CUMA BOOKING FEE. HEHE

Oleh: Asyari Usman (Wartawan Senior)

Judul tulisan ini adalah inti dari isinya. Dan, layak dibuat dalam format komunikasi medsos yang sering disertai “Hehe”. Sebab, kutipan-kutipan yang akan Anda baca di bawah nanti adalah rangkaian buah pikiran yang memang cukup pantas disebut banyolan. Lawakan. Hehe!

Ada yang mau membodohi, dibodohi, terbodohi, pembodohan, pura-pura bodoh, dan menyangka semua orang bodoh. Itulah hasil diskusi antara Ombudsman RI dan Lippo Group berkenaan dengan proyek Meikarta yang dikatakan melakukan pelanggaran hukum. Kota baru di Cikarang ini dibangun tanpa izin lengkap. Hehe!

Jumat, 8 September 2017, Ombudsman RI, yang diwakili oleh Ahmad Alamsyah Saragih, mengadakan acara ini untuk menanyakan langsung kepada manajemen Lippo Group tentang banyak hal terkait kegiatan pembangunan di areal kota baru itu. Sekaligus juga memberikan peringatan bahwa mereka melanggar peraturan-perundangan kalau menjual properti yang dibangun tanpa izin.

Ada penjelasan yang sangat melecehkan nalar orang-orang yang mendengarkannya, bahkan nalar yang terendah sekali pun. Di pertemuan diskusi ini, Direktur Komunikasi Lippo Group, Danang Kemayan Jati, menolak anggapan bahwa Lippo melakukan pemasaran (penjualan). Hehe!

Dia membantah telah melakukan transaksi jual beli di Meikarta. Dikatakannya, seperti dikutip sejumlah media cetak dan online, sejauh ini yang diambil hanya “booking fee” atau uang tanda pemesanan dari konsumen. Uang tersebut tidak digunakan untuk kegiatan pembangunan, namun disimpan khusus di rekening berbeda dan sewaktu-waktu bisa dikembalikan ke konsumen.

"Booking fee itu normal dalam bisnis properti. Itu belum transaksi, masih pemesanan. Supaya antriannya tertib dan bisa dikembalikan," kata Danang. Hehe!

Waduh, Pak Danang, “booking fee” bukan transaksi? Anda anggap ini bukan bagian dari proses jual-beli? Luar biasa! Kamilah yang bodoh. Hehe!

Anda tidak salah juga, sebenarnya. Sebab, divisi komunikasi di mana juga memang berusaha melakukan macam-macam cara agar orang menjadi terbodohkan, tanpa sadar. Hehe!

Dan, memang ada pula orang yang rela dibodohi. Atau, terbodohi. Bisa jadi juga pura-pura bodoh. Hehe!

Sebagai contoh, begini jawaban komisaris Ombudsman RI, Alamsyah Saragih, setelah mendengarkan penjelasan Pak Danang. “Syukur, di Lippo ini belum ada transaksi. Jadi yang sekarang dibayarkan ini hanya booking fee. Belum ada transaksi jual beli.”

Komisaris Saragih kelihatan pura-pura bodoh mengulangi pernyataan yang bersifat pembodohan oleh pihak Danang. Pak Ombudsman, yang semula mengeluarkan peringatan bahwa Meikarta bisa dikenai pasal pidana kalau menjual properti yang tidak punya izin, malah terkesan akan “membantu” Meikarta agar bisa mendapatkan izin secepatnya. Hehe!

Alamsyah Saragih akan menanyakan kepada Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Bekasi tentang mengapa izin Meikarta terlalu lama terbitnya.

Seperti disebutkan tadi, Danang Kemayan Jati cukup piawai melaksanakan tugasnya sebagai direktur komunikasi Lippo. Secara umum, jabatan seperti ini memang selalu berfungsi untuk membolak-balik persoalan. Sampai orang lain terbodoh-bodoh. Hehe!

Tetapi, di dalam setiap proses pembodohan, rupanya tetap ada saja orang yang luput dari kebodohan. Karena, memang, tidak semua orang bodoh. Hehe!

Sebelum “closing statement” (hehe, supaya agak keren sedikit, dan tak kelihatan bodoh meskipun ikut juga terbodohkan), saya ingatkan Anda sekalian tentang dua berita yang dimuat di Kompas.com, edisi 6 Juli 2017, segmen “Properti”.

Begini judulnya, “Dari Penjualan 16,800 Apartemen Meikarta, Lippo Raup Rp8 Triliun”. Barangkali Pak Danang sudah lupa berita ini. Atau, bisa jadi beliau punya tafsiran sendiri tentang judul berita ini. Hehe!

Kemudian, pada 17 Agustus 2017, di segmen yang sama, Kompas.com membuat judul “Penjualan Meikarta Tembus 99,300 Unit”. Media lain juga rata-rata menggunakan kata “penjualan”. Kata yang saat ini sedang tidak disukai oleh Meikarta.

Agaknya, kata “penjualan” di sini beliau tafsirkan menjadi “booking deal”. Atau, boleh jadi Pak Danang lupa berpesan kepada para penulis berita agar tidak menggunakan kata “penjualan”. Atau, bisa juga beliau tak menyangka “penjualan” produk Meikarta yang tak lengkap izin itu, bakal dipesoalkan di kemudian hari, sekarang ini. Hehe!

Itulah, kawan! Kalau dalam satu misi pembodohan ternyata didapati tidak semua orang bodoh, maka seperti kata orang tua-tua, “kebodohan” itu biasanya akan kembali kepada orang-orang yang menyangka orang lain bodoh. Kata orang Australia, “boomerang”.(*)

Source : Teropongsenayan

Jumat, 11 Agustus 2017

KEBODOHAN ATAU PURA PURA BODOH

Seorang menteri bercerita dengan bangganya soal investasi Pabrik Nikel oleh investor Cina di Morowali sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 65 Triliun.

Dia juga bangga karena investor Cina itu mengekspor dari Indonesia ke Amerika nikelnya. Lalu apa yang diperoleh Indonesia atas investasi sebesar itu? Tenaga kerja yang jumlahnya sekitar 500 orang pada saat pabrik tersebut beroperasi. Kok hanya 500 orang? Lha pabriknya sudah komputer semua, jadi gak perlu tenaga kerja banyak. Sedangkan saat pembangunan semua tenaga dari Cina.

Selain tenaga kerja apa yang diperoleh Indonesia? Ya pajak-pajak semacam PPN dan pajak ekspor yang tidak besar.

Lalu apa keuntungannya Cina? Wow tentu kekayaan alam Indonesia (Nikel) yang di ekspor ke Amerika, dan duitnya langsung masuk ke Cina, bukan ke Indonesia.

Di luar itu ada modus baru Cina mengapa mereka sekarang mengincar Indonesia? Karena kalau dia ekspor dari Indonesia ke Amerika seperti Investasi Nikel di atas, maka mereka tidak dikenakan pajak ekspor alias pajaknya 0 % oleh Amerika, karena dianggap Indonesia sebagai negara berkembang (padahal yang ekspor investor Cina yang ngeruk kekayaan alam Indonesia). Sebaliknya kalau Cina bangun Pabrik Nikel di negaranya sendiri dan ekspor ke Amerika maka akan dikenakan Pajak ekspor oleh Amerika sebesar 16 %, karena Cina dianggap sebagai negara maju.

Sumpah kalau orang waras nggak bangga dengan investasi Cina di Indonesia, tapi nangis darah!! Bagaimana tidak? Saat membangun pabrik dengan alasan 'turnkey project' mereka bawa tenaga kerja dari negaranya, saat pabriknya jadi ternyata bukan tipe pabrik yang padat karya karena semua sudah sistim komputer jadi cuman sedikit nyerap tenaga kerja kita, dan saat ekspor karena berangkat dari Indonesia dapat bonus pajak ekspor 0 % ke negara-negara maju, karena dikira ekspornya bangsa Indonesia yang dianggap sebagai negara berkembang. Dan yang jelas kekayaan alam kita yang dikeruk dan diekspor duitnya bukan kembali ke Indonesia tetapi ke negaranya.

Saya jadi ingat Iran (tolong jangan dilihat syi'ahnya, tapi lihat bagaimana dia mengelola ekonominya). Iran yang tidak dicampuri Amerika dalam kebijaksanaan ekonominya sejak tahun 1979 dan malah diembargo oleh Amerika dan sekutunya, ternyata luar biasa maju ekonominya. Hutang luar negeri 0 %, dan rakyat miskin di jamin negara. Kenapa? Karena semua kekayaan alam dan perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dipegang atau dikuasai oleh BUMN-nya atau dikuasai negara.

Saya jadi mikir kenapa kita yang punya kekayaan alam yang LUAR BIASA dari tambang batubara, emas, nikel, minyak, hutan, kebun dll selalu mengundang asing????? Mengapa kita punya BUMN malah cuman jadi ATM politik, tapi tidak diberdayakan untuk mengelola kekayaan alam kita??? Apa susahnya mengambil Nikel, Minyak atau Emas kita??? Lha wong kita punya SDM Geolog, sampai Ir Perminyakan, Ir Perkebunan dan Ir Kehutanan, Ir Pertanian, ahli-ahli IT serta tenaga lainnya yang tidak kalah dengan negara lain.

Sedih dan gemes serta marah lihat pengelolaan negara ini dari waktu ke waktu, jaman Orba kita di jajah Amerika dll, dan di jaman sekarang ganti Cina yang menjajah. Mengapa bisa begitu? Karena 72 tahun MERDEKA kita hanya punya pejabat-pejabat bermental CALO dan jadi KAKI TANGAN asing yang lebih senang dapat tip sedikit masuk kantongnya, lalu dia dengan mudah menjual kekayaan alam dan aset negara ke asing, dari pada berpikir bagaimana Merdeka di atas kaki sendiri!!!

Kalau lihat kenyataan kita ini negara kaya tapi dililit hutang hingga ribuan triliunan dan rakyat miskin makin merajalela, rasanya naik darah banget!!! (Mungkin karena saya waras dan punya hati nurani ya? Seperti yang sepakat dengan tulisan saya ini).

By Nanik Sudaryanti