Tampilkan postingan dengan label alhamdulillah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alhamdulillah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

AL AMIN – AL MAJNUN – AL MAIDAH – ALHAMDULILLAH

By Deden Heryana
Ini kisah perjalanan Nabi yang saya cintai, Muhammad SAW. Kisahnya didasarkan pada pemahaman saya terhadap Islam yang saya yakini. “Kenapa ada Al Maidah nya?” siapa itu yang tanya hehe, ya Al Maidah bagi saya merupakan satu masa dalam perjalanan Rasulullah yang sangat penting. Penting untuk didudukkan dalam porsi yang pas. Sekali lagi ini penting ‘bagi saya’…belum tentu penting bagi yang lain

Saya membagi perjalanan Rasulullah dalam 4 masa yang masing-masing masanya saya beri judul yaitu masa Al Amin kemudian Al Majnun lalu Al Maidah dan terakhir Alhamdulillah. Kalau lihat gambarnya maka saya buat dari Al Amin ‘turun’ ke Al Majnun kemudian ‘pindah quadran’ ke Al Maidah lalu ‘naik’ ke Alhamdulillah. Jadinya perjalanan ini menyerupai huruf “U” jadi saya sebut saja ini teori atau konsep “U” yang dilakukan oleh Rasulullah. Biarin lah ya saya kasih nama, ga apa-apa kan ? namanya ga bagus…yaa sementara lah.

Masa AL AMIN

Di masa ini Muhammad belum menjadi Nabi. Dari lahir sampai usia sebelum 40 tahun Muhammad adalah orang biasa, masih memiliki keturunan bangsawan dan hidupnya sederhana bersama pamannya. Muhammad muda terkenal sangat jujur, cerdas, rajin, dan sikap-sikap baik lainnya. Sampai seisi ‘kota’ Mekkah memberinya gelar “Al-Amin” ya Muhammad adalah orang yang sangat bisa dipercaya !. Orang yang sangat bisa diandalkan ! Anak Muda yang keren. Pemuda Idaman.

Ini berarti Muhammad cukup populer di semua kalangan. Popularitasnya sangat positif. Hingga seorang saudagar kaya memberinya ‘kepercayaan’ untuk mengelola bisnisnya. Bisnis besar, menuntut kemampuan manajemen yang hebat, menuntut pergaulan yang lebih luas karena perdagangan dilakukan hingga ke negeri lain. Dan Muhammad mampu melakukannya. Namanya semakin terkenal. Terkenal karena bisnisnya jujur dan terpercaya. Muhammad naik kelas menjadi pengusaha besar, apalagi setelah menikah dengan pemilik usaha yang kaya raya. Muhammad kini orang sukses dengan kepercayaan luar biasa. Al AMIN !

Masa AL MAJNUN

Saya tidak akan menceritakan proses bagaimana Muhammad menjadi Nabi, hanya Malaikat Jibril yang tahu prosesnya. Justru setelah menerima mandat ke-Nabi-an itulah hidup Muhammad SAW berubah 180 derajat. Muhammad yang sebelumnya disebut Al Amin, hingga Tuhan pun memberikan ‘kepercayaan’ kepadanya, ternyata diluar dugaan, warga Mekkah menolak dakwahnya mentah-mentah.

Muhammad GILA !” begitulah respon warga Mekkah. Para petinggi tersinggung. “apa-apaan ini Muhammad ?” Nah, perlu kita cermati. Bila Muhammad membawa agama baru, memperkenalkan Tuhan yang baru mungkin masuk di akal penolakan ini. Padahal tidak ! Tuhan yang Muhammad tawarkan adalah Tuhan yang sama yang disembah oleh mereka sejak nabi Ibrahim membangun Ka’bah, dan saat itu Ka’bahnya masih ada, ibadahnya masih sama. Lalu apa yang ditolak ? yang ditolak adalah seruan Muhammad untuk menjadikan Al Quran (wahyu yang diturunkan kepadanya) sebagai aturan hidup. Ya Aturan Hidup ! mengatur seluruh tatanan kehidupan. Dan petinggi-petinggi Mekkah tidak suka. Entah apa alasannya, hanya mereka yang tahu kan dan Allah tentu saja.

Tidak cuma ditolak dengan kata-kata, Muhammad juga diancam dibunuh, pegikutnya disiksa, dikucilkan, dicaci maki, dan dihina, yang tidak pernah sekalipun dibalas. Situasi mencekam. Tidak jelas yang “benar” ini milik siapa. Sebagian orang bingung, kenapa Al-Amin sekarang dipanggil Al-Majnun ?. Sebagian lagi takut untuk bersikap.

Muhammad pun merubah cara dakwah, yang tadinya terbuka, kemudian menjadi gerakan bawah tanah. Muhammad mengumpulkan pengikutnya, menyebarkan pikiran-pikirannya, sambil tetap sembunyi-sembunyi karena kalau ketahuan pasti ditangkap orang-orang Abu Jahal penguasa Mekkah saat itu. Muhammad dianggap pemberontak. Muhammad menganggap penguasa Dzalim !. Seandainya saya dibolehkan menggambar wajah Nabi, mugkin saya akan dengan bangga memakai kaos dengan wajah Nabi Muhammad SAW dengan gaya gambar seperti Che Guevara, sebagai bentuk kekaguman dan kecintaan saya sayangnya ga boleh.

Nah kondisi masa ini saya gambarkan sebagai situasi Muhammad “menghilang” dari peredaran. Muhammad tak lagi populer di kalangan Mekkah, bahkan namanya hancur. Tapi disisi lain Muhammad ‘hidup’ dengan dunia barunya di ‘kegelapan’. Inilah masa AL MAJNUN ! masa penuh ke’gila’an.

Selama 13 tahun upaya ‘perjuangan’ Muhammad SAW gagal total. Pengikutnya sangat sedikit. Anehnya kan Tuhan maha kuasa, mestinya gampang saja, tinggal dirubah seluruh isi hati warga Mekkah untuk langsung bisa menerima ‘konsep hidup’ yang ditawarkan Muhammad SAW toh semua ciptaannya. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain. Tuhan menyerahkan ‘konsep hidup’ manusia di dunia ini menjadi urusan manusia. Biar manusia memiliki pilihan, kemudian manusia dibekali akal dan nurani untuk memilih, tergantung sekarang kepandaian Muhammad menerjemahkan ‘mandat’ ini.

Muhammad harus mencari cara yang tepat untuk mensosialisasikan ‘konsep hidup’ yang dibawanya. Kepada siapa harus disampaikan, kapan, dan dimana, lalu bagaimana cara menyampaikan, menjadi hal-hal yang penting untuk diperhatikan. Kenapa begitu ? ya Muhammad seorang ‘pedagang’ handal, betul ? punya pengalaman banyak untuk menawarkan ‘dagangannya’. Lalu apa yang dilakukannya kemudian ?

Masa AL MAIDAH

Akhirnya Muhammad menemukan cara ‘membangun’ ISLAM. Cara yang dipilihnya adalah pergi ‘pindah’ membawa pengikutnya ke kota lain. Sempat beberapa kali pindah kota hingga menemukan satu kota bernama “Yastrib” yang penduduknya menerima dengan sukacita kedatangan beliau. Penduduknya beragam, berlainan suku, dan keyakinan. Di Kota itulah Muhammad membuat kesepakatan dengan semua penduduk. Kesepakatan yang kemudian berlaku menjadi semacam ‘konstitusi’ yang harus dipatuhi oleh semua pihak.

Di Kota inilah Muhammad benar-benar membangun ISLAM dalam arti yang sebenar-benarnya. Dalam waktu 10 tahun Muhammad membangun baik fisik, rohani, dan sistemnya. ISLAM menjadi ‘berwujud’. Aturannya ditegakkan, kehidupan damai, dan perekonomian maju pesat. Saat sudah dalam kondisi inilah, semua orang menjadi paham “Ooh begini toh maksudnya Muhammad, kalau begini sih saya mau, sudahlah beliau saja yang memimpin !’. Pengikut pun bertambah banyak, Islam disebarkan dengan menunjukkan bukti nyata kehidupan yang maju dan harmonis.

Nah, di kota inilah Surat Al-Maidah itu turun. Makanya surat ini digolongkan surat–surat Madaniyah (surat yang turun di Madinah). Surat yang isinya menegaskan pentingnya melaksanakan Hukum Islam, surat yang menyatakan pentingnya mengangkat pemimpin dari kalangan Muslim. Saya tidak akan berdebat soal pengertian pemimpin, awliya, pelayan, panutan dsb. Karena bagi saya, seorang pemimpin ya harus jadi awliya, harus jadi pelayan, jadi panutan dsb itu.

Jadi isinya sangat jelas, tak terbantahkan. Dan surat ini menjadi sangat masuk di akal dalam kondisi kota Yastrib saat itu. Warganya sudah sepakat menggunakan aturan Islam, jadi wajar ketika aturan yang dipakai lalu pelaksanaannya dipimpin oleh orang yang paling paham dengan aturan tersebut. Siapa orang itu ? ya Muhammad SAW. Akan sangat berbeda kalau surat ini turun di Mekkah, lalu Muhammad memaksakan isi surat tersebut disana. Entah bagaimana nasibnya. Muhammad SAW adalah representasi AL MAIDAH yang paling pas, di tempat dimana semua orang sepakat dengan aturannya.

Masa ALHAMDULILLAH

Ini menjadi masa puncak keberhasilan perjuangan Muhammad SAW. Madinah menjadi satu ‘pilot project’ dimana bila Islam ditegakkan sebagai aturan maka peradaban kota berubah. Orang-orang Mekkah yang tadinya menolak ‘konsep’ Muhammad kemudian bisa menerima tanpa paksaan, tanpa perlawanan, tanpa ada korban jiwa. Ini satu peristiwa besar luar biasa. Kekuasaan diraih dengan cara menunjukkan bukti bahwa Islam itu memang keren, “tuh lihat saya sudah membangun Madinah yang bersinar (Madinah Al Munawaroh). Begitulah Islam sesungguhnya, bagaimana kamu mau ?” dan ketika Mekkah menerimanya jadilah kota Mekkah yang dimuliakan (Mekkah al Mukaromah). ALHAMDULILLAH.

Saya sedang membayangkan sesungguhnya pada suatu masa, mungkin orang tidak perlu melihat kamu itu Apa, atau Siapa, ketika kamu datang dengan bukti “kebaikan”mu maka semua golongan akan menerimanya dengan senang hati. Sebaliknya seandainya Muhammad tidak membangun "proyek Madinah" dan hanya berteriak memaksa orang melaksanakan Al Maidah apakah Islam akan mendunia seperti sekarang ?

Maka menjadi penting BAGAIMANA CARA itu…sekali lagi ini penting bagi saya…mungkin buatmu juga

Jumat, 18 Agustus 2017

ALHAMDULILLAH KITA BISA BERQURBAN !

"Siapapun yang Belum Berniat Qurban Bisa Menangis Membaca Kisah Ini"

Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan qurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata.

Idul adha kian dekat. Kian banyak orang yang mengunjungi stan hewan qurbanku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewan qurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.

Suatu hari, datanglah seorang ibu ke stanku. Ia mengenakan baju yang sangat sederhana, kalau tidak boleh dibilang agak kumal. Dalam hati aku menyangka ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Aku mengira ia bukanlah tipe orang yang mampu berqurban. Meski begitu, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.

Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapaku seramah mungkin.
Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.

Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. “Harga pasnya berapa?”
Wah, ternyata ibu itu nawar juga. “Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau”!
Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah. Ibu ini benar-benar serius mau berqurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berqurban.

Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.

Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. “Astaghfirullah… Allaahu akbar…” Aku terperanjat. Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah. Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya. Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.

Emak, lihat apa yang Sumi bawa” kata ibu yang ternyata bernama Sumi itu. Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berqurban!”

Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga Emak berqurban. Terima kasih ya Allah…”

Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat qurban atas nama Emak….” kata Bu Sumi.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati, “Ya Allah… Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.

Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.
Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berqurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan. Kita jauh lebih kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan. Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing qurban. Tapi… sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan qurban? Masih ada waktu sekitar satu bulan.

Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita malu kepada Allah ketika Dia membandingkan kesungguhan kita dengan Bu Sumi. Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita takut dengan sabda Rasulullah ini:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)

Siapapun yang Belum Berniat Qurban Sebaiknya Membaca Kisah Ini!
Artikel ini dishare juga di channel telegram
http://telegram.dog/amar_maruf_nahi_munkar
http://telegram.dog/selamatkan_indonesia