Tampilkan postingan dengan label ikhlas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikhlas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Oktober 2017

AHOKER MOVE ON: DEMI KEBAIKAN KALIAN SENDIRI

Move on akan terasa ringan kalau ikhlas memaafkan. Karena memaafkan itu untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Kalau sudah memaafkan hati akan terasa lebih lapang dan tenang, cobain deh ☺

Nah pertanyaannya, salah apa Anies Sandi sama ahoker?
• Bukankah Anies Sandi yang panen bully dan fitnahan dari ahoker? Kenapa malah ahoker yang sewot sama Anies-Sandi?

• Bukankah Ahok yang telah berulang kali bermulut kasar dan bertingkah arogan? Lantas kenapa sewot saat mayoritas masyarakat menginginkan pemimpin lain yang jauh lebih santun dan beradab?

• Bukankah Ahok yang berulang kali menyakiti warga Jakarta terutama yang muslim? Lantas kenapa harus sewot saat muslim taat sama perintah agamanya?

• Bukankah mayoritas orang takut mati? Lantas kenapa sewot saat ada Ayat Al-Qur'an yang mengingatkan umatnya soal kematian? Kenapa malah dituduh mengintimidasi jenazah? Jenazah itu udah selesai urusannya, ga perlu diintimidasi.

• Bukankah negara ini menganut Ketuhanan Yang Maha Esa? Lantas kenapa umatnya tidak boleh bawa-bawa agamanya dalam segala hal?

Nah.. jadii apa yang membuat hati sakit melihat Anies-Sandi memimpin Jakarta? Bukankah Anies-Sandi menang telak secara jujur dan bersih? Kenapa harus ada macam-macam itu saat Anies-Sandi ingin memimpin Jakarta?

Doakan lah Anies-Sandi secara tulus agar kalian didoakan malaikat. 😇

Spread the love❤

Jumat, 18 Agustus 2017

ALHAMDULILLAH KITA BISA BERQURBAN !

"Siapapun yang Belum Berniat Qurban Bisa Menangis Membaca Kisah Ini"

Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan qurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata.

Idul adha kian dekat. Kian banyak orang yang mengunjungi stan hewan qurbanku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewan qurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.

Suatu hari, datanglah seorang ibu ke stanku. Ia mengenakan baju yang sangat sederhana, kalau tidak boleh dibilang agak kumal. Dalam hati aku menyangka ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Aku mengira ia bukanlah tipe orang yang mampu berqurban. Meski begitu, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.

Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapaku seramah mungkin.
Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.

Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. “Harga pasnya berapa?”
Wah, ternyata ibu itu nawar juga. “Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau”!
Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah. Ibu ini benar-benar serius mau berqurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berqurban.

Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.

Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. “Astaghfirullah… Allaahu akbar…” Aku terperanjat. Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah. Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya. Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.

Emak, lihat apa yang Sumi bawa” kata ibu yang ternyata bernama Sumi itu. Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berqurban!”

Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga Emak berqurban. Terima kasih ya Allah…”

Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat qurban atas nama Emak….” kata Bu Sumi.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati, “Ya Allah… Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.

Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.
Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berqurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan. Kita jauh lebih kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan. Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing qurban. Tapi… sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan qurban? Masih ada waktu sekitar satu bulan.

Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita malu kepada Allah ketika Dia membandingkan kesungguhan kita dengan Bu Sumi. Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita takut dengan sabda Rasulullah ini:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)

Siapapun yang Belum Berniat Qurban Sebaiknya Membaca Kisah Ini!
Artikel ini dishare juga di channel telegram
http://telegram.dog/amar_maruf_nahi_munkar
http://telegram.dog/selamatkan_indonesia