Senin, 21 Agustus 2017

SUKARNO MEMILIH 17 AGUSTUS SETELAH KE ULAMA SUFI

Hal yang menarik untuk kita renungkan dan cermati di antaranya adalah mengapa Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia pertama memilih tanggal 17 Agustus 1945 untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia?

Bukan ditanggal lainnya misalnya tanggal 15 atau 16 Agustus 1945. Atas dasar apakah Bung Karno memilih tanggal 17? Tentunya pemilihan tanggal itu tidak hanya kebetulan atau “ujug-ujug”, memproklamirkan bangsa ini.

Selain karena alasan desakan dari pemuda yang tidak ingin mendapatkan kemerdakaan yang“sekedar hadiah” dari penjajah, (baca dialog antara Sukarni dan Bung Karno yang terdapat pada buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ oleh Cindy Adams), ternyata ada fakta lain dibalik pemilihan tanggal 17 Agustus 1945 tersebut.

Fakta ini diungkapkan oleh Kyai Moch. Muchtar bin Alhaj Abdul Mu'thi di Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah di Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur. Apakah fakta itu? Kurang lebih 5 bulan sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno mencari ulama tasawuf yang mempunyai tingkat mukasyafah atau inkisyaf.

Bung Karno berhasil menemukan empat orang ulama tasawuf yaitu :
• Syeikh Musa Sukanegara (Ciamis)
• KH Abdul Mu'thi (Madiun)
• Sang Alif atau R. Sosrokartono (Bandung)
• KH Hasyim Asy'ari Tebuireng Cukir (Jombang).

Kesimpulan dari pertemuan Bung Karno dengan keempat ulama tasawuf tersebut adalah "Tidak lama akan ada berkat rahmat Allah besar turun di Indonesia, di bulan Ramadhan, tanggal 9 (penanggalan Islam), tahun 1364 H, hari Jumat Legi, bila meleset harus menunggu 300 tahun lagi”.

Kelak di tanggal 9 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Selain itu alasan yang juga dikemukakan oleh Soekarno pada Sukarni pada saat peristiwa Rengasdengklok bisa Anda lihat dalam perkataan di bawah ini:
"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-pertama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Quran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia."

Pada tanggal 12 Rajab 1364 H bertepatan dengan 22 Juni 1945 M hari Jumat Kliwon, 9 tokoh bangsa Indonesia, yaitu 4 tokoh Islam Nasionalis (H. Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir Yogyakarta, KH Wachid Hasyim Jombang, Abikoesno Tjokrosoejoso Ponorogo), 4 tokoh Nasionalis yang beragama Islam (Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta, Mr. Achmad Soebardjo, Mr. Muhammad Yamin), 1 tokoh Nasionalis beragama Kristen (Mr. AA. Maramis) menyusun Pembukaan UUD 1945.

Pesan keempat tokoh tasawuf di atas dimasukkan kedalam alinea ketiga Pembukaan UUD 1945. Isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ketiga yaitu:
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dgn didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Inilah kisah dibalik pemilihan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang belum banyak orang mengetahuinya. Jadi kemerdekaan bangsa Indonesia itu atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Namun banyak yang lupa dengan ‘atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa’ ini. Perhatian dan peran ulama tasawuf dibalik pemilihan tanggal 17 Agustus 1945 ini.

Source Duta islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar