Sabtu, 30 September 2017

TERKAIT PERNYATAAN PANGLIMA TNI

Ini sebuah signal kuat bahwa Panglima sudah tidak percaya lagi terhadap Presiden dan lingkungannya atas berbagai issu keselamatan negara ini. Dan Panglima lebih baik melapor kepada sesepuh TNI ketimbang orang yang selama ini justru menjadi biang masalah bangsa.

Dan oleh karenanya "rakyat harus tahu" bahwa signal dari Panglima itu dimaksudkan agar apabila TNI melakukan "aksi"nya kelak, hal itu semata demi untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Dan Panglima tahu bahwa mayoritas rakyat bangsa ini bukan pengkhianat bangsanya dan akan memberikan dukungan penuh pada TNI, baik moril maupun materil.

Mereka yang "mendukung" G30S PKI adalah kelompok minoritas, tetapi berpotensi kuat menjadi ancaman terhadap kedaulatan bangsa ini,  jika diberi peluang. Dan bukan mustahil bahwa akan terulang  "G30S PKI" dalam versi yang lain. Suka atau tidak suka bangsa ini memang sudah terbelah dua, antara yang pro dan kontra terhadap "G30S PKI".

Sejarah telah memberi contoh kita bahwa ikatan primordial akan mengalami distorsi dan membentuk primordial baru, jangankan persaudaraan dalam HMI dan NU, dan organisasi lainnya. Bahkan Jendral S Parman dan Kirman yang bersaudara kandung pun harus terpisah dan bahkan ada yang terbunuh. Jika ikatan primordial itu lebih bernuansa materil dan kekuasaan semata.

Saya, memilih tetap berpijak pada perjuangan "Aqidah Islam" ketimbang yang sifatnya politis semu dan sesaat dan apalagi hanya sekedar Pilpres dan semacamnya. Walaupun, begitu banyak tuduhan dan fitnah atas perjuangan ummat selama ini.

Dukungan kami terhadap TNI adalah semata karena kepercayaan kami yang lebih kuat kepada TNI dalam membela kedaulatan NKRI dari musuh Islam ketimbang rezim yang terus menerus memperlihatkan indikasi menyimpang dalam berbangsa.

WASPADA SANDIWARA TINGKAT TINGGI

Seolah-olah ada pertentangan antara Gatot Nurmantyo dan Jokowi yang diwakili Wiranto, demikian asumsi kebanyakan kita. Popularitas Gatot terus diikuti elektabilitasnya, mengingat tahun depan Indonesia memasuki tahun politik.

Jokowi tampak nyaman dengan peristiwa ini. Mengapa Jokowi nyaman?

Pernyataan Gatot Nurmantyo sangat jelas dengan terang menunjukkan loyalitasnya pada Jokowi. Sayangnya dari sekian kalimat, kebanyakan hanya fokus pada 5000 senjata yang berencana diimpor secara ilegal. Sesuatu yang jelas-jelas sudah batal dilakukan.

Pandangan saya berkata lain, kegaduhan ini hanyalah sandiwara politik Jokowi-Gatot sebagai pasangan Capres-Cawapres. Sebuah situasi yang merugikan Prabowo yang berencana kembali bertarung pada pilpres 2019.

Pendukung Prabowo ikut larut dalam suasana sandiwara politik tersebut.

Pengkondisian ini sudah dengan matang direncanakan dan dilakukan. Selain itu, pemutaran film klasik G30s/PKI ternyata bukan hanya dilakukan institusi TNI. Kampus yang merupakan institusi dibawah kemendiknas pun melaksanakan hal yang sama, bahkan kampus memberikan sertifikat bagi mahasiswa yang menonton.

Maknanya apa, Jokowi dan Gatot Nurmantyo sejatinya tidak berseteru. Indikasi lainnya ialah terkait isu PKI, Jokowi telah sejak lama menyatakan akan menggebuk PKI. Itu artinya Jokowi dan Gatot sedang berspekulasi dengan isu tersebut. Soetiyoso mantan kepala BIN pun senada dengan mereka terkait isu PKI.

Gatot Nurmantyo pun telah meluruskan bahwa dirinya tak pernah rilis ke media. Pernyataan itu dengan sendirinya bukan pernyataan resmi Panglima TNI. Sebelumnya Panglima TNI ini juga cukup cakap berada disisi umat Islam. Namanya mulai berkibar seiring dukungan retorisnya pada aksi-aksi umat Islam. Melalui Gatot Nurmantyo, Jokowi menjadi Presiden pertama yang berada ditengah jutaan umat Islam.

Pernyataan Gatot Nurmantyo sejatinya harus direspon Jokowi dengan pemanggilan dan bila itu pernyataan ngawur maka aksi pecat harus dilakukan. Namun Jokowi membiarkan kita semua berpolemik melalui dua pernyataan Jenderal. Jokowi sangat cerdik dalam hal ini, sukses mengkotak-kotakan lawan-lawan politik.

Isu krusial seperti bertambahnya hutang, freeport, kreta api cepat, Meikarta, akhirnya lenyap. Masyarakat bahkan intelektual terus fokus pada isu abstrak. Isu PKI dan senjata ilegal, isu yang terlalu dibesar-besarkan. Soal PKI misalnya, TNI dan Polri bisa menangkap mereka tanpa perlu wacana segala.

Terjebaknya masyarakat dan lawan politik Jokowi pada isu abstrak, tentu sangat menguntungkan Jokowi. Mereka yang berpakaian atau bertato palu-arit dianggap PKI, sama halnya ketika bendera berlambang ke-Islaman dianggap ISIS atau Islam Radikal. Sesuatu yang dangkal dalam menilai.

Jokowi dan Gatot Nurmantyo sebaiknya hentikan sandiwara politik, jangan kotak-kotakan rakyat dengan manuver dan isu sensitif.

Lawan-lawan politik Jokowi jangan tidur, lihatlah dengan jernih sandiwara politik yang sedang berlangsung. [jk/krf]

Oleh: Don Zakiyamani Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Tulisan ini dibuat agar umat Islam berhati-hati agar tidak lagi hanya menjadi pendorong mobil dan akhirnya kembali lagi terkecewakan di kemudian hari. Pilpres mendatang akan membuktikan, apakah Jenderal Gatot segerbong Jokowi atau tidak , semoga tidak…
Source : eramuslim

KEBENCIAN MEMBUAT KAKAK MEMBIARKAN ADIKNYA DIBUNUH

Kebencian sebesar apa yang bisa membuat kita membunuh orang lain, lantas dilemparkan ke dalam sumur? Dan kebencian sebesar apa lagi yang membuat seorang kakak kandung membiarkan adiknya dibunuh, dilemparkan ke dalam sumur tua?

Ini adalah kisah seorang Jenderal bernama S. Parman, dan seorang petinggi Politbiro CC PKI bernama Sakirman. Kalian boleh jadi tidak tahu, dua orang ini bersaudara kandung. Yeah, mereka bersaudara, tapi berbeda pemahaman dalam banyak hal.

Siswondo Parman (S. Parman) lahir 4 Agustus 1918, jauh sebelum Indonesia merdeka. Dia anak pintar, masuklah ke sekolah kedokteran Belanda, jika nasib menentukan lain, dia akan jadi dokter yang hebat. Tapi Jepang datang ke Indonesia, mengambil-alih kekuasaan Belanda, keadaan kacau balau, S Parman banting setir akhirnya bekerja untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Tidak lama bekerja, dia ditangkap serdadu Jepang karena diragukan kesetiaannya. Tapi S Parman cerdas, dia dibebaskan, dan justeru dikirim belajar intelijen oleh Jepang.

Setelah kemerdekaan, S Parman bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), karirnya moncer, prestasinya banyak, termasuk yang perlu dicatat, dia pernah menggagalkan rencana pembunuhan yang hendak dilakukan kelompok Raymond Westerling, APRA-Angkatan Perang Ratu Adil. Tahun 1951, S Parman dikirim ke Amerika, sekolah di sana. Juga pernah dikirim ke London, sebagai atase militer Indonesia. S Parman adalah tentara yang brilian dalam urusan intelijen, posisi terakhirnya sebelum meninggal adalah soal intelijen.

Sekarang kita bahas kakaknya. Siapa itu Sakirman? Wah, juga tidak kalah menterengnya, lahir tahun 1911, terpisah 7 tahun dengan adiknya, Sakirman adalah jenius dalam keluarga, dia lulusan "Technische Hooge School" (THS), sekarang ITB. Insinyur Sakirman, adalah elit Politbiro CC PKI. Sejak sebelum masa kemerdekaan, Sakirman terlibat dalam banyak peristiwa penting, meski sipil, seorang insinyur, dia pernah menyandang pangkat Let Kol dalam pemerintahan awal-awal kemerdekaan.

Tapi berpuluh tahun kemudian, dua bersaudara ini ternyata berbeda jalan. Sangat berbeda.

Parman, yang jelas terlatih dalam bidang intelijen, tahun 1960-an, habis-habisan menolak ide pembentukan kekuatan kelima. Dia tidak mau jutaan rakyat, petani dan buruh tiba-tiba diberikan senjata. Menurut S Parman, itu sungguh strategi licik yang amat membahayakan. Ada udang dibalik batu. Itu rakyat yang mana? Sekali jutaan rakyat itu membawa senjata, crazy sekali, Indonesia bisa menjadi lautan perang saudara, darah tumpah di mana-mana. Tidak akan ada yang bisa mengontrol mereka.

Kakaknya, Sakirman, justeru punya pendapat berbeda. Sebagai elit Politbiro CC PKI, dia habis-habisan menggelontorkan ide tersebut agar direstui penguasa. Elit PKI tahu persis, hanya TNI yang masih menjadi penghadang ide besar mereka mengambil-alih kekuasaan, maka apapun harus dilakukan untuk menyingkirkan TNI, termasuk fitnah keji sekalipun, seolah-olah TNI-lah yang hendak mengkudeta pemerintah. Pancasila tidak relevan lagi, itu bisa diganti dengan paham lain.

S Parman dan Sakirman menjadi seteru politik yang nyata. Dua kakak-adik itu menjadi musuh. Satu TNI, satu PKI.

Hari itu, entah kebencian sebesar apa yang membuat seorang kakak kandung tega melihat adiknya masuk dalam daftar Jenderal yang diculik. Hari itu, Jenderal S Parman dibawa hidup-hidup ke sebuah sumur tua, di sana dia ditembak tanpa ampun, kemudian dilemparkan masuk ke dalam sumur dingin itu. Jasadnya yang sudah menyedihkan, ditemukan beberapa hari kemudian. Sungguh, kebencian sebesar apa yang bisa membuat kita memutus tali persaudaraan?

Apakah sama dengan 39 tahun lalu, ketika lebih dari 1,2 juta rakyat negeri seberang, Kamboja juga tewas oleh kekejaman pasukan Khmer Merah. Kelompok KOMUNIS, yang berusaha mengangkangi seluruh negeri, mengambil kekuasaan dari pemerintah di bulan April 1975. Sebagian dari rakyat Kamboja mati karena kelaparan, menderita sakit dalam kecamuk perang yang disebabkan pasukan Khmer Merah, dan tidak sedikit yang tewas karena disiksa, ditembak mati, terserah apa maunya si komunis.

Kenanglah peristiwa ini. Kisah S Parman dan Sakirman, dua saudara kandung, yang berbeda pemahaman, dengan ending menyesakkan. Hari ini, S. Parman menjadi nama banyak jalan besar di negeri ini. Kita boleh jadi lupa sejarahnya, tapi ijinkan saya mengingatkan kalian, agar kita lebih seimbang dalam mengenang sesuatu....

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Sakirman
https://id.wikipedia.org/wiki/Siswondo_Parman [beritaislam24h.info / pii]

JANGAN PERCAYA KEPADA PKI

Sejarawan : "Jangan Percaya Omongan Orang PKI Karena Pasti Bohong"

Satu ciri khas PKI yang kita dengar dari orang - orang tua yang mengalami hidup dan berhadap - hadapan dengan PKI adalah mulutnya selalu berbohong. Omonganya tidak bisa di pegang memutar balikkan fakta dengan cara dramatis hingga lawan bicara terpesona dengan segala bualannya.

Sejarawan dan Guru Besar Universitas Negeri Surabaya [Unesa] Prof DR Aminudin Kasdi menyampaikan bahwa masyarakat harus tetap waspada dan berhati - hati dengan segala isu seolah olah PKI itu tidak kejam, bukan anti agama dan tetap berjuang untuk NKRI.

“Saya menemukan dokumen kecil berupa rencana pemberontakan PKI dengan target untuk mendirikan Negara Komunis IndonesiaDokumen itu berupa buku kecil semacam buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis Comite Central PKI pada 1957 yang isinya menyebut tiga rencana revolusi atau pemberontakan oleh PKI dengan target Negara Komunis Indonesia.” Ujarnya, Selasa, [19/9].

Contoh kecil yang bisa kita saksikan dan publik seluruh Indonesia bisa menyaksikan sekaligus membuktikan kebohongan kader PKI adalah seperti yang di tunjukkan dan diperagakan oleh Ilham Aidit anak kandung DN Aidit.

Ilham Aidit memanfaatkan posisi dia sebagai anak Aidit untuk menghancurkan kepercayaan publik pada Film G/30/S/PKI yang akan di tonton kembali oleh publik nasional dengan bercerita soal DN Aidit yang tidak merokok, publik pasti akan percaya karena Ilham adalah anak kandung DN Aidit, dengan mengkritik fakta kecil bahwa sesungguhnya menurut Ilham dan Ibunya [istri Aidit] DN Aidit tidak merokok seolah - olah dia ingin mengatakan bahwa seluruh film itu tidak benar.

Tapi faktanya apa begitu banyak tersebar bahwa sesungguhnya DN Aidit adalah perokok berat, majalah Intisari yang mewawancari pada 1964 merekam fakta sepanjang wawancara selama 2 jam DN Aidit merokok.

Majalah Tempo membuat laporan bahwa menjelang eksekusi DN Aidit meminta rokok dan fakta yang tidak bisa terbantahkan photo ini memperlihatkan DN Aidit sedang membawa rokok/ cerutu.

Sungguh benar pesan dari para orang tua tentang PKI :
Ojo pisan - pisan Percoyo karo ilate lan Cocote PKI [jangan sekali-kali percaya sama lidah dan mulutnya omongan Orang - orang PKI] demikian setidaknya pesan Prof Dr Aminudin Kasdi Sejarawan sekaligus pelaku sejarah yg berhadap - hadapan dengan PKI.

Sekali lagi PKI adalah pembohong memutar balikkan fakta dan sejarah jangan pernah dengar dan percayai apapun versi cerita mereka kalau anda ingin selamat dari fitnah dunia hingga akhirat,” pungkasnya.

[ Gema Rakyat ]

Jumat, 29 September 2017

KALAU BEGINI SITUASINYA, PANGLIMA TNI MEMANG HARUS BERPOLITIK

By Asyari Usman

Kalau gara-gara membongkar pembelian senjata sebegitu banyak, secara ilegal, ada orang yang mengatakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berpolitik, memang perlulah dia berpolitik. Atau ketika Panglima (siapa pun orangnya, tidak mesti Jenderal GN) membeberkan tentang ancaman teroris, kemudian dia disebut berpolitik, biar sajalah disebut berpolitik. Saya tidak berkeberatan. Saya yakin juga seluruh rakyat tidak keberatan.

Kalau misalnya gara-gara Panglima TNI berkomentar tentang kemunculan komunisme dan PKI, dia disebut berpolitik, tidak masalah. Biarlah dia berpolitik untuk urusan ini.

Kalau perlu kita nobatkan saja “Partai TNI” yang beranggaran dasar “pencegahan pembelian senjata ilegal, pemberantasan teroris, penjagaan kemanan negara, plus (ini yang teramat penting) pencegahan paham komunis dan kebangkitan PKI”. Buatkan saja UU-nya dengan ketentuan bahwa Partai TNI tidak boleh ikut Pemilu dan tidak boleh campur tangan di luar hal-hal yang disebutkan di atas.

Mungkin bisa ditambahi lagi lingkup politik Panglima TNI supaya mencakup soal pemberantasan narkoba yang tampaknya tak kunjung tuntas. Siapa tahu, kalau Panglima TNI ikut “berpolitik” untuk urusan narkoba, bisa cepat diselesaikan.

Sangat setuju kita Panglima TNI berpolitik untuk masalah-masalah serius seperti ini. Tentu tidaklah ikut dalam urus-urusan lain.

Masa iya Panglima TNI membiarkan kebangkitan komunisme dan PKI? Membiarkan pembelian senjata ribuan atau puluhan ribu pucuk secara ilegal? Membiarkan berkapal-kapal narkoba masuk ke Indonesia?

Masya iya Panglima TNI diam saja melihat itu semua?

No way! Tak mungkin! Biarlah Panglima setiap hari disebut berpolitik ketimbang negara dan bangsa ini hancur berantakan karena mendiamkan rencana-rencana jahat. Biarlah Hendardi (ketua SETARA Institute) dan politisi PDIP berteriak-teriak bahwa Panglima TNI berpolitik dalam hal-hal vital dan fatal seperti disebutkan di atas.  

Panglima TNI tidak boleh netral dalam menghadapi ancaman terhadap keamanan negara dan bangsa, baik yang terindikasi datang dari luar maupun dari dalam.

Kalau Panglima TNI netral, berpangku tangan, dalam urusan-urusan yang disebutkan tadi, maka akan ambruklah negara. Akan habislah rakyat dibantai. Akan menjadi zombie-lah generasi muda karena narkoba. Akan muncullah rezim totaliter. Akan tersingkirlah Pancasila.

Jadi, kalau seperti sekarang inilah situasinya, Panglima TNI memang harus “berpolitik”.

Kalau ada yang bilang pak, kan bapak tentara kok ber politik...
Jawaban nya :
*TERSERAH GW,  ELU MAU APA*

SEMAKIN BERANI TAMPILKAN IDENTITAS PKI-NYA

Penayangan kembali film G30S-PKI terus menimbulkan kontroversi di masyarakat. Banyak yang pro, namun banyak juga yang kontra. Baik yang pro maupun yang kontra memiliki argumennya sendiri. Berikut pandangan eks Kepala BIN, Sutiyoso terkait isu penayangan kembali film G30S-PKI;

Anda setuju dengan pemutaran kembali film G30S-PKI?

Tentu saya setuju, karena ini adalah peristiwa yang menyebabkan luka dalam terhadap bangsa. Saat itu PKI telah melakukan pengkhianatan terhadap bangsa, dengan cara kudeta. Kejadian itu menimbulkan korban yang cukup besar, terutama orang-orang penting. Generasi-generasi berikutnya perlu tahu bahwa ada peristiwa seperti itu, supaya semua pihak waspada. Yang namanya generasi itu kan pasti terus berganti. Kalau dia tidak mengerti, nanti bisa terjadi lagi mungkin dalam bentuk yang lain.

Tapi banyak pihak yang enggak setuju jika film itu kembali diputar karena isinya dinilai banyak yang jauh dari fakta?

Saya kira intinya adalah kita perlu ingat telah terjadi peristiwa yang sangat melukai bangsa. Bahwa ada yang tidak setuju, ya tidak apa-apa. Pro-kontra itu kan biasa. Tapi saya kira banyak yang setuju untuk diputar kembali. Bahwa alasannya karena isinya salah, ya dicek dulu secara ilmiah apa betul ada yang salah. Kalau terbukti ada yang salah, yang salah mari kita betulkan. Kalau bagi saya dari semua cerita film itu lebih banyak benarnya. Sutradara film itu kan sudah punya reputasi. Dia juga tidak akan sembarangan pada saat bikin film, dipastikan dia akan cari berbagai sumber. Tapi kalau ada yang salah kan kita masih punya narasumber yang bisa memberikan keterangan kejadian saat itu. Kalau misalnya ternyata Aidit itu tidak merokok, ya adegan merokoknya tinggal dipotong. Jadi mana yang tidak tepat bisa diperbaiki, tapi adanya film itu menurut saya sangat diperlukan

Kenapa sekarang keberadaan film ini diperlukan?

Inget enggak film ini sudah berapa lama berhenti tayang? Kira-kira hampir 10 tahun kan. Apa yang terjadi? Mereka pelan-pelan semakin berani tampil, sampai sekarang sudah nyaris vulgar kan. Sekarang mereka tidak malu-malu lagi mengungkapkan identitas PKI-nya. Jadi memang harus diingatkan kembali pernah terjadi seperti ini.

Maksudnya diingatkan itu untuk mencegah potensi PKI atau paham komunisme bangkit lagi?

Iya. Sekarang PKI itu seperti mau tampil lagi kan. Dari tahun ke tahun trennya terus meningkat sampai vulgar. Bisa pakai kaus PKI dengan bangga tanpa takut-takut. Ngomong juga makin vulgar bahwa mereka PKI atau keturunan PKI. Kalau film itu diputar lagi secara rutin, eksistensi PKI dan ideologinya akan makin pudar. Keturunan PKI ini tentu harus dikembalikan kewajiban dan haknya. Karena sebagai warga negara, mereka punya kewajiban dan hak yang sama dengan warga negara yang lain. Tapi semuanya harus sadar pernah ada pengkhianatan dan tragedi seperti itu. Supaya keturunan kita ini harus waspada betul. Kalau tidak terus diingatkan, PKI bisa merajalela lagi.

PKI ini kan isu sensitif. Enggak khawatir malah bikin situasi enggak kondusif?

Kalau pemutaran film ini konsisten dengan tujuannya untuk mengingatkan generasi muda, saya rasa tidak akan membuat situasi keruh. Yang penting, jangan diplintir, jangan dijadikan provokasi untuk tujuan politik. Lurus-lurus saja. Kita kan hanya ingin mengingatkan generasi penerus, dulu ada kejadian ini. TNI-Polri juga akan terus menjaga agar situasi terus kondusif. Kalau ada yang nyeleweng, yang provokasi, pakai hoaks, pakai ujaran kebencian, ya ditindak saja langsung. TNI-Polri berkewajiban melindungi rakyat siapa saja yang menjadi sasaran provokasi.

Termasuk jika yang jadi target para keturunan PKI?

Iya, mereka juga harus kita lindungi. Kalau mau nyerang keturunan PKI ya salah itu. Niat memutar film ini kan bukan buat menyerang mereka, tetapi untuk mengingatkan semua terutama prajurit. Prajurit yang sekarang ini enggak akan paham karena enggak mengalami. Padahal yang jadi korban kan TNI juga waktu itu. Masalahnya kalau mereka enggak tahu, mereka enggak akan waspada. Akibatnya ke depan bisa berbahaya. Jadi enggak usah khawatirlah. Aparat pasti menindak siapa pun yang membuat masalah. Saya yakin enggak akan ada masalah kalau film itu diputar. Yang tidak setuju ya jangan lihat gitu saja.

Menurut anda film ini perlu diputar rutin di sekolah kayak dulu enggak?

Menurut saya perlu. Kan tujuannya supaya anak muda sekarang tahu, supaya mereka ngerti kejadian saat itu seperti apa. Bahwa perlu diperbaiki saya setuju saja. Mari kita perbaiki kalau memang ada yang enggak bener. [rmol]

Kamis, 28 September 2017

TAKTIK UMPAN PACING, SIPATISAN PKI PADA KELUAR

Alhamdulilh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo telah menggunakan taktik “umpan pancing” untuk memaksa “keluar” simpatisan PKI di hadapan rakyat, tanpa harus menunjuk orangnya, yakni dengan cara mengajak nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G 30S PKI.

"Setelah adanya perintah nobar film G 30S PKI, muncul dengan sendirinya orang-orang yang menentangnya. Patut diduga, orang-orang ini simpatisan PKI. Rakyat bisa menilai sendiri siapa saja mereka, tanpa harus Panglima TNI menunjukkan orangnya," Analisis pengamat politik Ahmad Baidhowi.

Taktik Panglima TNI sangat efektif untuk memberikan informasi kepada rakyat pihak-pihak yang menjadi simpatisan PKI saat ini. Kalau Panglima menuduh simpatisan PKI tanpa bukti bisa saja dituntut. Tetapi, dengan orang-orang yang protes terhadap nobar, maka rakyat bisa menilai siapa saja simpatisan PKI itu.

Antusiasme nobar film G 30S PKI menunjukkan rakyat Indonesia percaya penuh kepada Panglima TNI. Langkah yang dilakukan Panglima TNI dengan mengajak nobar sudah sangat tepat di tengah krisis ideologi masyarakat.

Nobar film G 30S PKI mewujudkan hubungan yang baik TNI dan rakyat. Rakyat bersama-sama dengan TNI nobar. Dan rakyat dengan antusias bergotong royong untuk nobar.

Cara Panglima TNI sangat efektif menumbahkan rasa cinta NKRI dan Pancasila tanpa harus menyatakan diri “Saya Pancasila, Saya Indonesia”. “Yang biasa mengakui paling ber-Bhinneka Tunggal Ika dan membela Pancasila, tak ada suaranya untuk mendukung nobar film ini,” pungkas Baidhowi.

Rabu, 27 September 2017

19 FILM BARU KEBIADABAN PKI

Assalamualaikum wr.wb

FILM BARU PKI.. Biar Puas. Saya dukung Pak Jokowi untuk buat film versi baru. Ini beberapa judul yang mungkin bisa dipakai. Silahkan kalau teman-teman ada usulan revisi judulnya 😑

1. TERROR at TEGAL
Medio Oktober 1945 : AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan Kutil menteror, menangkap dan membunuh sejumlah pejabat pemerintah di Tegal.

2. BLOODY BANTEN
Tanggal 17 Oktober 1945 : Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan kekuatan massanya.
Tanggal 9 Desember 1945 : PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak.

3. BLOODY BLACK SQUAD OF TANGERANG
Tanggal 18 Oktober 1945 : Badan Direktorium Dewan Pusat yang dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yang diberi nama Ubel-Ubel dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara
Tanggal 12 Desember 1945 : Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata.

4. COUP de PEKALONGAN
Tanggal 4 November 1945 : API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang

5. CIREBON UNDER SIEGE
Tanggal 12 Februari 1946 : PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti TRI.
Tanggal 14 Februari 1946 : TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.

6. LANGKAT DOWNFALL
Tanggal 3 – 9 Maret 1946 : PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura dan membunuh Sultan bersama keluarganya serta menjarah harta kekayaannya.

7. INDEPENDENCE DAY FIREWORK at SURAKARTA
Tanggal 19 Agustus 1948 : PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.

8. JATIM EXECUTIVE EXECUTION
.Tanggal 10 September 1948 : Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya dibuang di dalam hutan.

9. SOLO MADIUN KIDNAPPING
Medio September 1948 : Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI, begitu juga Kol. Marhadi diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di alun-alun Kota Madiun.

10. BURRIED ALIVE at MAGETAN
Tanggal 17 September 1948 : PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.

11. SEPARATISM DECISION
Tanggal 18 September 1948 : Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir Syarifoeddin Harahap sebagai Perdana Menteri.

12. LONGEST DAYS at MADIUN
Tanggal 19 September 1948 : PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu serta kota-kota lainnya.
Tanggal 20 September 1948 : PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa serta membantainya.

13. BLOODY BLITAR
Tanggal 21 September 1948 : PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr. Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya yaitu Dr.Susanto, Abu Umar dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.

14. SEVEN HELL WELL
Tanggal 18 – 21 September 1948 : PKI menciptakan 2 (Dua) Ladang Pembantaian / Killing Fields dan 7 (Tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua jenazah korban yang mereka siksa dan bantai :a. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit. b. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit. c. Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan. d. Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan. e. Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan. f. Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan. g. Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan. h. Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan. i. Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.

Awal Januari 1950 : Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi para korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yang 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

15. DUNGUS BLOODY ESCAPE
Tanggal 30 September 1948 : Panglima Besar Sudirman mengumumkan bahwa tentara pemerintah RI berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI yang lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan membantai semua tawanan yang terdiri dari TNI, Polisi, pejabat pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Ulama serta Santri.

16. JATENG PRISONER
Tanggal 4 Oktober 1948 : PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah

17. SLEEPING WITH THE ENEMY
Tahun 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

Tanggal 6 Januari 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI.

Tanggal 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

18. BASTARD of KEDIRI
Tanggal 13 Januari 1965 : Dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mush-haf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

19. TEARS OF THE SUMUT
Tanggal 14 Mei 1965 : Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

Monggo Dipilih.. Dan Jangan Merubah Sejarah

Wassalamualaikum wr. wb

Siaran Radio RRI pada 1 Oktober 1965

RRI yang sudah dikuasai pasukan G30S/PKI:

7.00: Pengumuman (fitnah) adanya Dewan Jenderal yang melakukan kup (kudeta) dan sudah dikalahkan oleh Letkol Untung (pimpinan G30S/PKI) dari resimen Tjakrabirawa.

13.00: Pengumuman susunan Dewan Revolusi yang dipimpin Letkol Untung, kekuasaan negara berada pada Dewan Revolusi, Kabinet Dwikora dinyatakan demisioner, dan MPRS dibubarkan.

RRI yang sudah direbut dan dikuasai pasukan RPKAD (Kopassus) atas perintah Pangkostrad:

19.00: Pengumuman bahwa terjadi Gerakan 30 September, penculikan jenderal-jenderal, Presiden Soekarno dan Menhankam/ KSAB Jenderal Nasution selamat, situasi keamanan akan dipulihkan dan rakyat diharap tenang.

Pengumuman ini membuat G30S/PKI gagal, Aidit dan Letkol Untung kabur

Senin, 25 September 2017

30 BUKTI KEBANGKITAN PKI

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab membeberkan sejumlah indikasi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak reformasi 98 lalu.

Berikut  indikasi yang disampaikan Habib Rizieq melalui pesannya, Jumat (9/12/2016).

[1]. Tuntutan Pencabutan TAP MPRS NO. XXV Thn 1966 tentang Pembubaran dan Pelarangan PKI.
[2]. Peniadaan LITSUS (Penelitian Khusus) bagi Pejabat Publik untuk buktikan bersih diri dari unsur PKI.
[3]. Tanpa LITSUS banyak anak keturunan PKI yang masih mengusung ideologi Komunis lolos menjadi Pejabat Publik di berbagai Daerah.
[4]. Tanpa LITSUS kini di DPR RI ada banyak turunan Keluarga PKI yang masih mengusung ideologi Komunis.
[5]. Penghapusan Sejarah Pengkhianatan PKI dari Kurikukum Pendidikan Nasional di semua jenjang pendidikan.
[6]. Penghentian Pemutaran Film G30S/PKI di semua Televisi Nasional.
[7]. Maraknya film yang mengundang simpatik untuk PKI seperti film SENYAP dan GIE serta lainnya.
[8]. Munculnya Ormas dan Orsospol serta LSM yang berhaluan PKI seperti PRD dan PEPERNAS serta PAKORBA.
[9]. Terbitnya buku-buku yang membela PKI secara meluas tanpa batas dan dijual bebas.
[10]. Maraknya pembelaan terhadap PKI di berbagai Media Cetak dan Elektronik serta Medsos secara demonstratif dan provokatif.
[11]. Pagelaran Seminar/ Temu Kangen/ Dialog/ Simposium/ Diskusi Publik untuk Bela PKI.
[12]. Posisi KOMNAS HAM dan berbagai LSM LIBERAL yang mati-matian membela PKI atas nama Hak Asasi Manusia.
[13]. Usulan penghapusan kolom agama dalam KTP sehingga memberi ruang kepada pengikut PKI untuk memiliki KTP tanpa beragama.
[14]. Desakan dan Tekanan terhadap Presiden Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi agar MINTA MAAF kepada PKI.
[15]. Dibangun dan diresmikannya MONUMEN LASKAR CHINA yang tidak lain dan tidak bukan adalah Laskar Komunis China POH AN TUI.
[16]. Partai Penguasa di Indonesia resmi kerja sama secara terbuka dengan PARTAI KOMUNIS CHINA dalam berbagai bidang.
[17]. Muncul kembali Jargon-Jargon PKI seperti 'REVOLUSI MENTAL' dan 'SAMA RATA SAMA RASA' serta 'MASYARAKAT TANPA KELAS'.
[18]. Marak kembali logo PKI yaitu PALU ARIT yang dibuat di kaos dan kalender serta lainnya.
[19]. Munculnya foto-foto Tokoh PKI dalam Parade HUT RI di sejumlah daerah dan di Baliho Bandara Soekarno Hatta.
[20].  Pengguliran RUU KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) untuk mencari pembenaran bagi PKI.
[21]. Pengalihan Kiblat Pembangunan Ekonomi Indonesia ke China.
[22].  Peningkatan Kerja Sama dengan Negara China secara berlebihan, sehingga membuka pintu masuk imigran China ke Indonesia secara besar-besaran.
[23]. Pertemuan-pertemuan PKI sering dilaksanakan di Hotel Aryaduta karena berada di depan Patung Tani Mengusung Bedil yang merupakan Patung Angkatan ke-V Buruh dan Tani di Era Kejayaan PKI.
[24]. Pagelaran Simposium Pemerintah ttg PKI di tahun 2016 yang memposisikan PKI sebagai KORBAN.
[25]. Muncul Lambang PKI yaitu PALU ARIT di atas uang kertas resmi RI dipecahan rupiah 100 ribuan dan 20 ribuan serta 5 ribuan.
[26]. Presiden RI melarang TNI dan POLRI melakukan Razia atau pun Sweeping Lambang PKI.
[27]. Usulan pencarian dan penggalian kubur massal anggota PKI dengan mengabaikan korban pembantaian yang dilakukan PKI.
[28]. Sejumlah Tokoh Pendukung PKI galang dukung internasional untuk menggelar Pengadilan Internasional membela PKI.
[29]. Arahan Presiden RI agar memakai mata uang China YUAN sebagai standar bisnis dan perdagangan Indonesia di dunia internasional.
[30]. Lagu-Lagu PKI mulai didendangkan, penyebaran photo - photo dan sutus-situs Porno termasuk manusia bejat tdk berahlak alias PKI.

Sebarkan untuk seluruh warga negara Indonesia!!

PKI ITU DITULUNG MENTHUNG

Gus Dur yang terkenal humanis, bahkan menyebut PKI itu “ditulung menthung” (sudah ditolong malah memukul). Demikian ditegaskan Gus Dur atas perilaku eks tapol yang menuduh dan mensomasi perlawanan Banser dan Kiai Nahdlatul Ulama (NU) serta pihak militer (TNI) yang dianggap melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap orang-orang PKI dalam rentang waktu antara tahun 1948-1965.

Saya menjadi Presiden karena mandat dari MPR, dan tidak ada sama sekali mandat untuk membantu eks Tapol. Namun demikian secara kemanusiaan saya membela mereka bahkan sejak tahun 1970 saya telah membela PKI.

Sudah ditolong malah mensomasi,” kata Gus Dur seperti dikutip dari buku “Benturan NU-PKI 1948-1965” karya H. Abdul Mun’im DZ dan diterbitkan PBNU untuk menjawab berbagai tuduhan PKI terhadap NU dan umat Islam Indonesia pada umumnya.

Sungguh, sebetulnya itu bukan karakter Gus Dur mengungkit-ungkit kebaikan-kebaikan dirinya atau komunitasnya. Hal ini terpaksa dikemukakan Gus Dur lantaran NU justru berusaha menyelamatkan akidah dan NKRI dari pemberontakan (bughot) atau sikap subversif PKI sendiri yang diikuti serangkaian teror, ancaman dan penyerangan serta pembantaian sehingga mau tidak mau semua pihak melakukan perlawanan.

Selain itu, Gus Dur juga mengungkapkan demikian karena faktanya banyak dari Kiai NU yang berbesar hati dengan merawat, membesarkan dan mendidik anak-anak PKI korban serangkaian konflik horisontal yang telah terjadi, bahkan sebagian diantara mereka telah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan berperan di banyak bidang.

Pemberontakan secara brutal oleh PKI memakan banyak korban tidak hanya dari pihak PKI, tetapi juga dari pihak TNI, sipil, dan kiai-kiai pesantren.

Aksi massa yang cukup berbahaya dari manuver politik PKI adalah usaha-usaha memobilisasi massa untuk melakukan berbagai tindak kekerasan yang dikenal dengan nama “aksi sepihak”.

Dalam tindak-tindak kekerasan yang dinamakan aksi sepihak itu, PKI tidak segan-segan mempermalukan pejabat pemerintah dan bahkan melakukan perampasan-perampasan hak milik orang lain yang mereka golongkan borjuis-feodal.

PKI tidak malu mengkapling tanah negara maupun tanah milik warga masyarakat yang mereka anggap borjuis.

Sejumlah aksi massa PKI yang dimulai pada pertengahan 1961 itu adalah peristiwa Kendeng Lembu, Genteng, Banyuwangi (13 Juli 1961), peristiwa Dampar, Mojang, Jember (15 Juli 1961), peristiwa Rajap, Kalibaru, dan Dampit (15 Juli 1961), peristiwa Jengkol, Kediri (3 November 1961), peristiwa GAS di kampung Peneleh, Surabaya (8 November 1962), sampai peristiwa pembunuhan KH Djufri Marzuqi, dari Larangan, Pamekasan, Madura (28 Juli 1965).

Source : Pribuminwes

Sabtu, 23 September 2017

LATAR BELAKANG SEMINAR BELA PKI

 16-17 September 2017 Di Gedung Kantor LBH Jakarta

Tokoh Peserta :

1. Bejo Untung (YPKP 65)
2. Eyang Sri (Korban 65)
3. Boni Setiawan (Forum 1965 / 66)
4. Nining Elitos (KASBI)
5. Surya Anta (FRI-WEST PAPUA)
6. Dolorosa Sinaga (IPT 65)
7. Reza Muharam (IPT 65)

Organisai & LSM Pendukung :

1. LBH Jakarta
2. Kontras
3. ICW
4. AMNESTY
5. ESLAM
6. WALHI
7. KASBI
8. ARUS PELANGI
9. YPKP 65
10. IPT 65
11. PSHK
12. Solidaritas Perempuan
13. JPPK
14. INGAT 65
15. SANGGAR SUARA
16. FRI-WEST PAPUA
17. FORUM 65
18. FBLP
19. PEREMPUAN MAHARDIKA
20. TUTUR PEREMPUAN
21. AJAR
22. TWRS
23. PEMBEBASAN
24. GKA (Gereja Komunitas Anugerah)
25. SERIKAT PEKERJA MEDIA UNTUK DEMOKRASI
26. KOMNAS HAM

Penjaga dan Pelindung Seminar : POLRI

Isi Seminar Bela PKI :

1. Sejarah tentang Pengkhianatan PKI adalah Kebohongan.
2. PKI adalah korban Tentara dan Orde Baru.
3. PKI tidak membantai Umat Islam mau pun para Jenderal.
4. Forum akan berjuang terus untuk memulihkan nama baik PKI.
5. PKI harus bangkit kembali.

Syarat Rekonsiliasi menurut Seminar Bela PKI :
1. Pemerintah harus mengakui bahwa benar ada pembantaian terhadap PKI.
2. Pemerintah harus minta maaf kepada PKI dan meluruskan sejarah PKI.
3. Pemerintah harus menegakkan hukum thd semua pihak yg terlibat dlm Pembantaian PKI.
4. Pemerintah harus mencabut semua larangan thd PKI dan membantu sosialisasi PKI di semua daerah.
5. Pemerintah harus memberikan kompensasi dan rehabikitasu serta repaprasi kepada Keluarga PKI.

Di hari pertama Seminar Polisi pura-pura membubarkan seminar agar warga Anti PKI membubarkan diri. Setelah warga bubar ternyata acara seminar tetap jalan bahkan dijaga dan dilindungi Polisi.

SEJARAH LENGKAP PKI

Data kronologis tentang PKI Mulai 1945

A. KRONOLOGIS

1. Tanggal 8 Oktober 1945: Gerakan Bawah Tanah PKI membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).

2. Medio Oktober 1945: AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan Kutil meneror, menangkap, dan membunuh sejumlah Pejabat Pemerintah di Tegal.

3. Tanggal 17 Oktober 1945: Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan kekuatan massanya.

4. Tanggal 18 Oktober 1945: Badan Direktorium Dewan Pusat yg dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yg diberi nama Ubel-Ubel dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.

5. Tanggal 21 Oktober 1945: PKI dibangun kembali secara terbuka.

6. Tanggal 4 November 1945: API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yg meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang.

7. Tanggal 9 Desember 1945: PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak R. Hardiwinangun di Jembatan Sungai Cimancak.

8. Tanggal 12 Desember 1945: Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Otto Iskandar Dinata.

9. Tanggal 12 Februari 1946: PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti TRI.

10. Tanggal 14 Februari 1946: TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.

11. Tanggal 3 - 9 Maret 1946: PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, membunuh Sultan bersama keluarganya, dan menjarah harta kekayaannya.

12. Tahun 1947: Kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi PM Republik Indonesia dan membentuk kabinet.

13. Tanggal 17 Januari 1948: PM Amir Syarifuddin Harahap menggelar Perjanjian Renville dengan Belanda.

14. Tanggal 23 Januari 1948: Presiden Soekarno membubarkan Kabinet PM Amir Syarifuddin Harahap dan menunjuk Wapres M Hatta untuk membentuk Kabinet baru.

15. Bulan Januari 1948: PKI membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) yg dipimpin oleh Amir Syarifuddin untuk beroposisi terhadap Kabinet Hatta.

16. Tanggal 29 Mei 1948: M. Hatta melakukan ReRa (Reorganisasi dan Rasionalisasi) terhadap TNI dan PNS untuk dibersihkan dari unsur-unsur PKI.

17. Bulan Mei 1948: Muso pulang kembali dari Moskow – Rusia setelah 12 (dua belas) tahun tinggal disana.

18. Tanggal 23 Juni – 18 Juli 1948: PKI Klaten melalui SARBUPRI (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) melakukan pemogokan massal untuk merongrong Pemerintah RI.

19. Tanggal 11 Agustus 1948: Muso memimpin FDR / PKI dan merekonstruksi Politbiro PKI, termasuk DN Aidit, MH Lukman, dan Nyoto.

20. Tanggal 13 Agustus 1948: Muso yg bertemu Presiden Soekarno diminta untuk memperkuat Perjuangan Revolusi. Namun dijawab bahwa dia pulang untuk menertibkan keadaan, yaitu untuk membangun dan memajukan FDR / PKI.

21. Tanggal 19 Agustus 1948: PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.

22. Tanggal 26 – 27 Agustus 1948: Konferensi PKI

23. Tanggal 31 Agustus 1948: FDR dibubarkan, lalu Partai Buruh dan Partai Sosialis berfusi ke PKI.

24. Tanggal 5 September 1948: Muso dan PKI-nya menyerukan RI agar berkiblat ke UNI SOVIET.

25. Tanggal 10 September 1948: Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya dibuang di dalam hutan.

26. Medio September 1948: Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI, begitu juga Kol. Marhadi diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di alun-alun Kota Madiun.

27. Tanggal 13 September 1948: Bentrok antara TNI pro pemerintah dengan unsur TNI pro PKI di Solo.

28. Tanggal 17 September 1948: PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.

29. Tanggal 18 September 1948: Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin Harahap sebagai Perdana Menteri.

30. Tanggal 19 September 1948: Soekarno menyerukan rakyat Indonesia untuk memilih Muso atau Soekarno – Hatta. Akhirnya, pecah perang di Madiun: Divisi I Siliwangi pimpinan Kol. Soengkono menyerang PKI dari Timur dan Divisi II pimpinan Kol. Gatot Soebroto menyerang PKI dari Barat

31. Tanggal 19 September 1948: PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, dan Cepu, serta kota-kota lainnya.

32. Tanggal 20 September 1948: PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa serta membantainya.

33. Tanggal 21 September 1948: PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr.Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya, yaitu Dr.Susanto, Abu Umar, dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.

34. Tanggal 18 – 21 September 1948: PKI menciptakan 2 (dua) Ladang Pembantaian / Killing Fields dan 7 (tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua jenazah korban yang mereka siksa dan bantai:

a. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
b. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
c. Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan.
d. Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
e. Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
f. Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan.
g. Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
h. Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan
i. Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.

35. Tanggal 30 September 1948: Panglima Besar Jenderal Sudirman mengumumkan bahwa tentara Pemerintah RI berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI yg lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan membantai semua tawanan yg terdiri dari TNI, Polisi, Pejabat Pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Ulama, serta Santri.

36. Tanggal 4 Oktober 1948: PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri – Jawa Tengah.

37. Tanggal 30 Oktober 1948: Para pimpinan Pemberontakan PKI di Madiun ditangkap dan dihukum mati, adalah Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maruto Darusman, Sajogo, dan lainnya.

38. Tanggal 31 Oktober 1948: Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH Lukman dan Nyoto pergi ke pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

39. Akhir November 1948: Seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan seluruh daerah yg semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain: Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.

40. Tanggal 19 Desember 1948: Agresi Militer Belanda II ke Yogyakarta.

41. Tahun 1949: PKI tetap tidak dilarang; sehingga tahun 1949 dilakukan rekonstruksi PKI, dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

42. Awal Januari 1950: Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yg datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi para korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yg semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

43. Tahun 1950: PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

44. Tanggal 6 Agustus 1951: Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.

45. Tahun 1951: Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yg sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno; sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

46. Tahun 1955: PKI ikut Pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

47. Tanggal 8 – 11 September 1957: Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang – Sumatera Selatan mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

48. Tahun 1958: Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat; karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI

49. Tanggal 15 Februari 1958: Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun pemberontakkan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

50. Tanggal 11 Juli 1958: DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

51. Bulan Agustus 1959: TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

52. Tahun 1960: Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yg didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

53. Tanggal 17 Agustus 1960: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

54. Pertengahan Tahun 1960: Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.

55. Bulan Maret 1962: PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno. DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

56. Bulan April 1962: Kongres PKI.

57. Tahun 1963: PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yg terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.

58. Tanggal 10 Juli 1963: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

59. Tahun 1963: Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain: KH. Buya Hamka, KH. Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

60. Bulan Desember 1964: Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yg didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

61. Tanggal 6 Januari 1965: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI

62. Tanggal 13 Januari 1965: Dua
sayap PKI, yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

63. Awal Tahun 1965: PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain: SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat), dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

64. Tanggal 14 Mei 1965: Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI, dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

65. Bulan Juli 1965: PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.

66. Tanggal 21 September 1965: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

67. Tanggal 30 September 1965 pagi: Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

68. Tanggal 30 September 1965 malam: Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh):

a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan, dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.

c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.

d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yg berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.

e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yg membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu: Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.

f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain:

- Angkatan Darat: Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo, dan Kolonel Infantri A. Latief

- Angkatan Laut: Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi, dan Komodor Laut Soenardi

- Angakatan Udara: Men / Pangau Laksdya Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo, dan Mayor Udara Sujono

- Kepolisian: Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

69. Tanggal 1 Oktober 1965: PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yg telah mengambil alih kekuasaan.

70. Tanggal 2 Oktober 1965: Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal, dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.

71. Tanggal 6 Oktober 1965: Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

72. Tanggal 13 Oktober 1965: Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.

73. Tanggal 18 Oktober 1965: PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yg menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yg dibantai, dan ada beberapa pemuda yg selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Peristiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

74. Tanggal 19 Oktober 1965: Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

75. Tanggal 11 November 1965: PNI dan PKI bentrok di Bali.

76. Tanggal 22 November 1965: DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.

77. Bulan Desember 1965: Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

78. Tanggal 11 Maret 1965: Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yg memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.

79. Tanggal 12 Maret 1965: Soeharto melarang secara resmi PKI.

80. Bulan April 1965: Soeharto melarang Serikat Buruh pro PKI yaitu SOBSI.

81. Tanggal 13 Februari 1966: Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan, ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

82. Tanggal 5 Juli 1966: Terbit TAP MPRS No.XXV th.1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme, dan Leninisme.

83. Bulan Desember 1966: Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.

84. Tahun 1967: Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea, dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.

85. Bulan Maret 1968: Kaum Tani PKI di selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.

86. Pertengahan 1968: TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

87. Dari tahun 1968 s/d 1998: Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV th.1966.

88. Dari tahun 1998 s/d 2015: Pasca Reformasi 1998 pimpinan dan anggota PKI yang dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yg masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka merajalela melakukan aneka gerakan pemutarbalikan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN.

Semoga kita semua Waspada terhadap kebangkitan PKI. Aamiin.

KENA PROPAGANDA MASYUMI !!!

Di era Orde Lama, tahun 1957, Bung Karno pernah menyusun sebuah kabinet yang dinamakan "Kabinet Kaki Empat". Dinamakan demikian krna kabinet itu terdiri dri empat partai besar Pemilu 1955 yakni: PNI, NU, Masyumi, PKI.

PNI, Murba, dan PKI sepakat dgn konsep itu, tpi partai2 seperti Masyumi, NU, PSII, dan Partai Katolik menolak. Salah satu respon penolakan paling keras adalah dri kubu NU. Sebabnya adalah trauma masa lalu ketika PKI melakukan pembantaian terhadap para kiai NU di Madiun dan sekitarnya tahun 1948 silam.

Sikap keras NU membuat Bung Karno gusar. Maka diundanglah para pembesar NU seperti KH Wahab Chasbullah, KH Zainul Arifin, dan KH Idham Chalid untuk bertemu dengan Bung Karno hingga terjadilah dialog berikut ini:

Bung Karno (BK): "Kenapa (NU) menolak Kabinet Kaki Empat?"

KH Idham (KI): "Karena banyak kiai NU yg disembelih (PKI) pda waktu peristiwa Madiun, itu blm trlupakan oleh kami".

BK: "Kalau kamu brlelum bisa melupakan bgmna kita bernegara?"

KI: "Itulah, Pak. Saya ini membawa bukan hanya suara saya pribadi, tapi suara semua orang (NU)."

BK: "Tuan tuan ini keras kepala betul!"

KI: "Memang pak. Jikalau PKI ditaruh di bahu, dia akan naik kepala, itu pengalaman di negara-negara komunis."

BK: "Itu kan di negara lain."

KI: "Buktinya, pak, sewaktu di Madiun kan (PKI) sudah menimbulkan korban banyak di kalangan rakyat."

BK: "Ya itu kan lain, nanti saya yang menghadapi kalau mereka berani (memberontak) lagi."

KI: "Lebih baik PKI jangan diberi angin saja. Kami punya keyakinan suatu saat PKI akan memberontak lagi. Kalau seandainya NU tidak pantas di Kabinet, saya dengan sukarela akan mengundurkan diri."

BK: "Tidak. Ini prinsip saya. Kita harus kerja di satu meja, juga harus makan bersama di meja yang sama."

KI: "Tidak bisa pak. Saya hanya satu di antara sekian juta orang NU yang memutuskan tidak bisa bekerjasama dengan PKI."

BK: "Saudara tahu saya ini bukan PKI? Saya ini orang Islam, tapi kita ini harus mengurus dunia. Ada 6 juta suara (PKI) tidak diikutkan. Ini berbahaya."

KI: "Kami berpendapat justru kalau (PKI) diikutkan berbahaya."

BK: "Itu berarti saudara "kena propaganda Masyumi"!!
---------- selesai ---------

Jika sikap tegas yang ditunjukkan para kyai masa silam dicap BK sebagai "kena propaganda Masyumi" maka jangan heran jka sikap tegas Anda menolak infiltrasi paham merah dan liberal skarang akan dicap orang sebagai "kena paham Islam radikal"

Sumber :
Dialog disarikan dri buku "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah", editor Arief Mudatsir Mandan, yg dikutip H Abdul Mun'im DZ dalam buku "Benturan NU PKI 1948-1965"

MENGAPA REZIM JOKOWI DAN KRONINYA MENOLAK PEMUTARAN FILM G 30 S/PKI?

Mengapa rezim Jokowi dan kroninya menolak pemutaran film G 30 S/PKI? Ada Apa Ini? Inilah kumpulan bukti beritanya:

1. Anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto Minta Pemutaran Film G 30 S/PKI Tak Dilakukan.
https://www.google.co.id/amp/amp.kompas.com/nasional/read/2017/09/18/13524941/anggota-wantimpres-minta-pemutaran-film-dan-seminar-terkait-pki-tak

2. Jokowi Menolak Dengan Halus Pemutaran Film G 30 S/PKI Dengan Minta Film PKI Versi Baru Untuk Generasi Milenial
https://m.tempo.co/read/news/2017/09/18/078910378/pemutaran-kembali-film-g-30s-pki-begini-tanggapan-jokowi

3. Jokowi : PKI Tidak Salah Sepenuhnya Tapi Hanya Terkena Fitnah Zaman Itu
http://www.seputar-indonesia.top/2017/09/presiden-jokowi-di-dalam-dokumen-asli.html?m=1

4. Ryamizard Ryacudu Ditanya Pemutaran Film G 30 S/PKI, Jawabannya Tidak Jelas
https://m.tempo.co/read/news/2017/09/18/078910272/ditanya-pemutaran-film-g-30-s-pki-ryamizard-ryacudu-jawab-ini

5. Ahmad Syafii Maarif : Kekhawatiran PKI Bangkit Hanya Kegenitan
http://m.viva.co.id/berita/nasional/773611-syafi-i-maarif-kekhawatiran-pki-bangkit-lagi-itu-kegenitan

6. Panglima TNI : Soal Nobar Film G 30 S/PKI Itu Perintah Saya, Mau Apa?
https://m.detik.com/news/berita/d-3647737/soal-nobar-film-g30spki-panglima-tni-itu-perintah-saya-mau-apa

KENAPA PAK HM. SOEHARTO MEMBUBARKAN PKI..?

Ketika Tomy bertanya tentang PKI kepada bapaknya dan kenapa Bapak mengambil inisiatif untuk Membubarkan PKI padahal Bung Karno tetap Bertahan tidak Mau Membubarkan PKI ?

Ini jawaban Bapak Soeharto:

Sebagai Bawahan bapak wajib melindungi Harga Diri bung Karno karena Kapasitas nya sebagai pemimpin besar dan juga di akui sebagai pemimpin besar dunia, bung Karno sudah mengucapkan pemikirannya kepada dunia tentang menyatukan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme Melalui sidang Umum PBB. Bung Karno menyebut Gagasannya itu "to build a new world".

Setelah melontarkan di forum internasional, Bagai mana mungkin Kemudian Bung Karno mau membubarkan Partai Komunis Indonesia PKI?..
"Jadi Bapak berpikir biarlah Bapak yang membubarkan PKI yang semakin merajalela saat itu"
"Kadang kala Bawahan Harus mengerti keteguhan seorang pemimpin, karena saat itu jika sampai bung Karno Membubarkan PKI dan menjilat ludah sendiri maka akan di cap Apa negara kita ini di mata internasional....

Bapak mengambil inisiatif karena bapak juga sudah menyadari Risikonya"
Tidak masalah bapak disalahkan kelak, namun pasti suatu hari anak cucu bangsa ini akan mengerti dengan sendirinya Apa arti kebenaran dan kesalahan di masa - masa perjuangan"...
"Itu jawaban yang saya dengar langsung dari Almarhum Soeharto"

Sumber FB
Hutomo Mandala Putra.

PAHLAWAN REVOLUSI MUDA KAPTEN CZI PIERRE TENDEAN

Pahlawan Revolusi Muda ini bernama Kapten CZI Pierre Tendean (Anumerta). Usianya baru 26 thn saat diculik disiksa dan dibunuh PKI. Dia diculik oleh PKI Cakrabirawa di rumah Jenderal A.H. Nasution. Pada subuh 30 September 65.

Saat rumah Sang Jenderal diamuk tembakan membabi buta Perwira muda ini terbangun dan berusaha melawan penyerbu namun akhirnya terpojok oleh todongan senjata Cakrabirawa.
Secara ksatria dia mengaku bahwa dialah Jenderal A.H.Nasution kepada PKI yang bodoh dan kejam itu.

Sang Jenderal akhirnya selamat setelah melompat tembok belakang rumah dan masuk ke halaman rumah Kedubes Iraq. Namun perwira muda itu diculik lalu tewas dibantai para anggota PKI yang meliputi Pemuda Rakyat, Sukwan Sukwani, Gerwani dan Cakrabirawa di daerah Lubang Buaya. Beliau adalah Ajudan Jendral Nasution, Jenderal pimpinan tertinggi TNI yang keras melawan setiap pergerakan PKI.

Turut juga tewas dibunuh PKI pada tragedi subuh itu adalah Ade Irma Suryani (5 tahun) putri dari sang Jenderal. Bahkan Polisi Pengawal rumah Waperdam J.Leimena seorang Anak Muda bernama Aiptu Karel Satsuit Tubun juga mereka habisin dengan puluhan tembakan karena melawan penyerbuan itu. Di tempat lain pada waktu yang sama di rumah Mayjen TNI (Anumerta) D.I. Panjaitan seorang mahasiswa Albert Naiborhu yang merupakan kemenakan sang Jenderal juga gugur ditembak Cakrabirawa setelah melawan para penyerbu.

Kalian jangan sok tau sok pintar untuk membela PKI dengan alasan PKI yang jadi korban HAM. Komunis PKI wajar dilarang karena mereka berkhianat terhadap Negara dan Agama. Kalian sudah dibodohi oleh propaganda yang mengatakan bahwa kejadian G30S/PKI itu mesti diusut tuntas dan nama PKI harus dibersihkan karena PKI telah jadi korban akibat giat militer pemerintah Soeharto. Yang harus dibersihkan itu adalah Komunis karena mereka yang selalu mengacau membunuh!

Sadarlah wahai Anak Muda Indonesia.
PKI selalu berkhianat dan sangat membenci kalangan militer, umat beragama apapun terutama umat muslim karena selalu menentang mereka.  (Catatan: Almarhum Pierre Tendean beragama Nasrani)

Tujuan utama PKI adalah mengubah haluan negara ini menjadi Komunis! Anda jangan lengah lagi karena karena dari fakta sejarah Pemuda TNI , Pemuda Polisi, mahasiswa kemenakan Jenderal bahkan anak Jenderal-pun mereka bunuh, apalagi anda yang cuma sekedar jadi anak muda biasa. Baru seumur jagung masuk organisasi dan berpolitik praktis mending jangan ikut-ikutan tolol mendukung Neo Komunis.

Kalo anda sebagai mahasiswa maka jadilah mahasiswa yang membela negara, bukan membela faham komunis. Belajarlah dari sejarah bung muda! Kecuali kalo anda pengen menjadi tumbal dan martir mati anjing karena membela faham komunis, lalu mati sia-sia di jalan yang sesat. Sudah 3 kali PKI memberontak dan sejarahnya PKI tidak pernah menang di negeri ini karena selalu dihabisi oleh pemerintah.

Sadarlah Pemuda Indonesia!
Buktikan bahwa anda mencintai bumi pertiwi ! Sekarang Neo Komunis mengancam negeri kita. Komunis adalah musuh TNI dan Negeri ini. Kalau anda tidak berani memberantas PKI lebih baik diam saja dan paling tidak jangan anda dukung segala pergerakan mereka. Apa anda tidak malu pada pendahulumu pejuang-pejuang muda yang sudah berkorban nyawa untuk negara ini ?

PKI bukan korban, mereka pelaku pembunuhan anak bangsa, mereka selalu menikam dari belakang seperti pada kejadian kejadian silam di tahun 1948 dan 1965. Mereka selalu memberontak dan membantai. Senjata mereka adalah fitnah dan memutar balik fakta. Berpura-pura baik adalah cara mereka untuk mengambil simpati. Menyusup ke pemerintahan dan memecah belah adalah usaha mereka agar faham komunis bisa ter-anasir. Mereka pasti akan memfitnah TNI dan ulama serta para tokoh agama apapun yang menolak ideologi komunis. Percuma kalian sekolah tinggi kalo masih bodoh dungu termakan omongan mereka.

Hidup cuma sekali jangan salah jalan dan salah dukungan bung. Sekarang, pada anda sejarah kelam pemberontakan Komunis dibelokkan oleh PKI masa kini.

#anakmudaharuscerdas
#kitalengahkitadibabat !
#DukungTNITumpasPKI
#GanyangPKI

KESAKSIAN DR. AMOROSO KATAMSI DAN PUTRI D.I. PANDJAITAN

Di acara AKI (Apa Kabar Indonesia) Pagi, sekitar jam 06.40 wib, TV One menghadirkan dr. Amoroso Katamsi, pemeran Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S PKI. Pak Amoroso Katamsi ditanya, umur berapa beliau ketika memerankan Soeharto. Dijawabnya ketika dimulai shooting tahun 1981 beliau berumur 43 tahun.

Lalu ditanya lagi umur berapa saat peristiwa G30S PKI terjadi. Beliau menjawab spontan "umur 27 tahun". Ini artinya sinkron, beliau lahir tahun 1938. Menurutnya saat itu dia sudah mahasiswa hampir selesai, tinggal menunggu pengambilan sumpah dokter saja.

Beliau lalu ditanya, apa yang diingatnya seputar kejadian tanggal 30 September  1965 dan sesudahnya.
Pak Amoroso menjelaskan bahwa dia ingat betul saat itu di pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 sekitar jam 7 pagi, RRI menyiarkan pidato Letkol Untung yang mengklaim bahwa ada gerakan 30 September serta pembentukan Dewan Revolusi,  kemudian mendemisionerkan kabinet, dll. Pokoknya seperti yang ditulis dalam buku-buku sejarah.
Baru pada sore/malam harinya, dari RRI ada pidato Pak Harto.

Ketika dikonfirmasi apakah cerita yang ada dalam film yang dirinya ikut berperan di dalamnya sesuai/ sama atau tidak dengan kejadian sebenarnya di saat itu, tegas dr. Amoroso Katamsi menjawab "SAMA! Sama dengan yang saya tahu".
Apalagi beliau saat itu adalah yang berhadapan dengan PKI, karena dia tergabung dalam HMI.

Nah, kesaksian dari seorang Amoroso Katamsi yang saat itu sudah berusia 27 tahun, pemuda yang berpendidikan baik, cerdas (djaman doeloe bisa sekolah sampai jadi dokter di saat sebagian besar orang sebangsanya cuma tamat SD/SMP, tentu tidak sembarangan lho!), seorang aktivis mahasiswa saat itu,  semestinya lebih layak dipercaya ketimbang kesaksian seseorang yang kala itu masih bocah usia 6 tahun yang cuma tahu bahwa bapaknya tidak merokok. Tanyalah apa yang disiarkan RRI, pasti dia tidak tahu. Anak kecil mana mudheng siaran berita serius.

Cerita seorang berpendidikan dokter, asli tidak aspal, yang sepanjang hidupnya tidak bermasalah soal integritas dirinya, juga lebih layak untuk dipertimbangkan ketimbang cerita seseorang yang pernah melakukan tindakan kebohongan.

*** *** ***

Dua tahun lalu, September 2015, ketika ramai issu bahwa negara akan meminta maaf kepada PKI, plus adanya "pengadilan/gugatan" yang digelar di negeri Belanda, mengadili negara Republik Indonesia, dimana pak Todung Mulya Lubis dan ibu Nursyahbani Katjasungkana ikut hadir di sana, acara ILC TV One juga mengupas seputar kejadian 30 September 1965. Saat itu dihadirkan putera-puteri jendral korban G30S dan juga anak tokoh PKI. Putri para jendral yang  hadir saat itu ibu Amelia Yani dan ibu Catherine Pandjaitan.

Putri jendral Ahmad Yani, ibu Amelia Yani bercerita apa yang dia alami, lihat dan dengar sendiri malam itu. Pak Yani yang dibangunkan oleh pasukan Tjakra Bhirawa dan diminta segera ikut mereka dengan alasan dipanggil Paduka Jang Mulia (PJM) Presiden. Pak Yani meminta waktu untuk mandi dulu, namun tidak diijinkan karena harus cepat. Akhirnya Pak Yani menawar, setidaknya cuci muka dan ganti baju, namun anggota Tjakra Bhirawa yang sudah tidak sabar kemudian menembak Jendral Ahmad Yani dari belakang.

Apa yang diceritakan ibu Amelia Yani sama dengan yang ada dalam adegan film G30S PKI. Saat itu bu Amelia Yani usianya sudah belasan tahun. Artinya keterangan beliau cukup bisa dianggap valid.

Putri Jendral DI Pandjaitan, ibu Catherine, juga bercerita bagaimana beliau menyaksikan sendiri bagaimana proses ayahnya dibunuh dengan sadis. Saat itu usianya 17-18 tahun, dia melihat dari atas balkon rumahnya, ketika bapaknya dipukul dengan popor senjata kemudian ditembak tepat di kepala oleh Tjakra Bhirawa. Kemudian tubuhnya diseret sampai ke depan rumah. Lalu ketika di depan pagar rumah, tubuh jendral DI Pandjaitan dilemparkan lewat pagar kemudian dimasukkan ke dalam truk.

Catherine muda saat itu berusaha mengejar bapaknya yang diseret, tapi tentu saja tak terkejar. Dalam keputus-asaan dia histeris dan meraupkan ceceran darah bapaknya ke wajahnya. Catherine mengakui memang itu yang dilakukannya saat itu, sama persis dengan yang digambarkan dalam adegan film.

Kesaksian Catherine 2 tahun lalu, diulang tadi malam sekitar jam 8 di iNews TV. Ibu Catherine diwawancarai secara live by phone oleh host iNews, dan ditanya pendapatnya soal nyinyiran sebagian masyarakat yang mengatakan film G30S PKI adalah TIDAK SESUAI dengan kejadian sebenarnya alias TIDAK BENAR.
Catherine balik mempertanyakan : bagian mana yang tidak benar?!

Beliau kembali mengulang cerita kejadian 52 tahun lalu, sama persis dengan yang diceritakannya saat diundang hadir di ILC, 2 tahun lalu. Sampai pada bagian dia melihat bapaknya dipukul dengan senjata lalu ditembak di kepala hingga otaknya berceceran, Catherine mengaku dia masih merinding saat menceritakan itu. Shocknya tidak mudah hilang bertahun-tahun karena dia menyaksikan sendiri kejadiaan malam itu, saat usianya 17 tahunan.

*** *** ***

Jajang C. Noor, istri almarhum Arifin C. Noor sang sutradara film G30S PKI, malam ini juga dihadirkan di iNews TV. Saat pembuatan film tersebut, Jajang menjadi pencatat adegan. Dia bercerita bahwa suaminya melakukan riset selama 2 tahunan untuk membuat film itu. Semua istri para pahlawan revolusi diminta menceritakan kejadian yang mereka alami saat rumah mereka mendadak didatangi pasukan Tjakra Bhirawa. Para ibu itu didampingi putra dan putrinya yang ikut menjadi saksi hidup. Khusus ibu Ahmad Yani yang malam itu tidak sedang berada di rumah, karena sedang di rumah dinas, kesaksian diberikan oleh anak-anak beliau. Bahkan ibu Ahmad Yani sampai nyaris pingsan ketika mengetahui bagaimana kematian suaminya.

Menurut Jajang, setiap peristiwa penculikan jenderal shootingnya selama 1 minggu. Misalnya serangkaian shooting peristiwa penculikan dan pembunuhan Jendral Ahmad Yani, waktunya satu minggu. Shooting kejadian di rumah Pak Nasution juga satu minggu, begitu pula shooting di rumah korban yang lainnya.

Uniknya,  shooting schene penculikan secara tidak sengaja selalu tepat pada malam Jum'at. Sama dengan kejadian sebenarnya yang terjadi pada Kamis malam Jum'at.

Setiap shooting film, anggota keluarga jendral yang bersangkutan selalu hadir untuk menyaksikan adegan demi adegan, untuk memastikan akurasinya. Apalagi lokasi shooting memang di rumah kediaman tempat kejadian sebenarnya berlangsung.

Jadi, di mana letak ketidakbenarannya?!

Kalau soal Aidit merokok, diakui oleh Jajang bahwa itu memang tafsiran Arifin untuk menggambarkan seseorang yang sedang mencari ketenangan di tengah ketegangan, biasanya merokok. Efek asap diperlukan oleh sutradara untuk memberikan efek dramatisasi suasana. Hal ini dibenarkan oleh Prof. Salim Said Selasa malam di acara ILC, bahwa tafsiran sutradara itu sesuatu yang LUMRAH untuk memberikan dampak dramatis dalam suatu adegan.

Jadi tidak layak diributkan, hanya karena adegan Aidit merokok maka semua adegan dalam film itu bohong. Lagipula, Ilham Aidit hanya meributkan soal  bapaknya yang tidak merokok, bukan? Tapi dia tidak bisa membantah alur gerakan 30 September malam itu.  Anak umur 6 tahun mana tahu hal-hal  serius? Sesuai dengan usianya yang dia tahu hanyalah bermain, makan dan mungkin ingatan tentang kenangan manis bersama keluarga terdekat.

Ade Irma Suryani Nasution saat itu juga berumur 6 tahun. Dia juga tidak paham apa yang sedang terjadi malam itu. Itu sebabnya dia tertembak. Kalau saja dia sudah dewasa atau minimal remaja, tentu nalurinya akan merasa takut dan logikanya pasti akan menuntunnya untuk berlindung, cari aman. Justru karena dia bocah cilik lugu yang tak tahu apa-apa, maka malam itu dia menjadi martir.

*** *** ***

Soal dipilihnya Arifin C. Noor sebagai sutradara, Jajang bercerita saat itu Pak Dipo (G. Dwipayana), Direktur PPFN (Pusat Produksi Film Negara), mencari sutradara yang akan diminta untuk membuat film sejarah tentang peristiwa G30S PKI. Goenawan Mohammad menyarankan nama Arifin C. Noor dan Teguh Karya sebagai sutradara kawakan saat itu. Pak Dipo kemudian memilih Arifin.

Jadi, kalau akan dibuat film baru soal peristiwa G30S PKI, sanggupkah menghadirkan saksi mata yang masih hidup dari setiap pelaku dan korban?! Istri para Jendral pahlawan revolusi, setelah 52 tahun berlalu, saya yakin sudah banyak yang wafat (atau malah sudah wafat semuanya?). Putera puteri para pahlawan revolusi yang saat peristiwa itu terjadi berusia setidaknya 17 tahun, sekarang mestinya berusia 69 tahun.

Masa iya yang akan dijadikan rujukan adegan adalah anak usia 5-6 tahun saat itu? Malah jadi meragukan dan konyol. Alih-alih membuat film yang lebih akurat, bisa jadi malah makin banyak meleset dari aslinya. Jangan sampai nanti para jendral yang sudah mengorbankan nyawanya itu justru jadi tokoh antagonis dan para anggota PKI justru jadi "korban" yang layak diberi simpati.

PKI kan bukan hanya 30 September 1965 saja melakukan pemberontakan keji dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Bukankah tahun 1926-1927 dan tahun 1948 PKI juga memberontak??!

Anehnya, mereka yang ngotot PKI tidak bersalah dan hanya jadi korban, biasanya tidak mampu menjawab kalau disodorkan fakta pemberontakan PKI tahun 1948. Itu sebabnya mereka hanya berputar-putar di seputar peristiwa G30S PKI saja. Tak ada argumen apapun yang mampu menyanggah kekejaman PKI tahun 1948.

Kalau mau membuat film tentang PKI, sekalian saja dibuat panjang, mulai pemberontakan tahun 1926-1927 dan tahun 1948. Agar generasi muda sekarang lebih bisa memotret sejarah secara utuh dan mendapat gambaran tentang PKI dengan lebih komplit.

Embie C. Noor,  adik almarhum Arifin C Noor, yang menjadi ilustrator musik di film G30S PKI, mengatakan senang sekali jika film bisa dibalas dengan film juga. Tapi yang terpenting jangan ada pemutarbalikan sejarah!

PIDATO SOEKARNO KUTUK PENGKHIANATAN PKI

Presiden Soekarno menyampaikan terimakasih kepada Jenderal Soeharto yang telah berhasil menumpas PKI dan mengembalikan keamanan negara pasca pengkhianatan 30 September 1965.

Hal ini ditegaskan Presiden Soekarno dalam pidatonya pada peringatan HUT RI 17 Agustus 1966.

"Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu (super semar) dengan baik. Saya mengucap terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal ini," kata Soekarno.

"Gestok kita kutuk! Dan saya.. saya mengutuk pula," tegas Soekarno.

Gestok adalah istilah yang dipakai Presiden Soekarno untuk menamakan peristiwa pengkhianatan PKI. Gestok = Gerakan Satu Oktober. Merujuk pada penculikan dan pembunuhan para jenderal oleh PKI yang terjadi pada dini hari 1 Oktober 1965 yang dilanjut dengan pengumuman PKI membubarkan kabinet dan MPRS (alias kudeta).

Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Super Semar), yang merupakan surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu pasca pengkhianatan PKI pada 30 September 1965.

Setelah mendapat Surat Perintah 11 Maret 1966, besoknya pada tanggal 12 Maret 1966, atas nama Presiden Soekarno, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966 perihal pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).

Isinya, membubarkan PKI termasuk bagian-bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai ke daerah beserta semua organisasi yang seasas, berlindung, dan bernaung di bawahnya.

Kedua, Soeharto menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuasaan negara Republik Indonesia.

Keputusan presiden tersebut dikeluarkan dengan memperhatikan hasil pemeriksaan serta putusan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) terhadap tokoh-tokoh PKI yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Keputusan tersebut kemudian diperkuat dengan Ketetapan MPRS Nomor XXV/1966 tanggal 5 Juli 1966.

Langkah ini merupakan kebijakan pertama Soeharto setelah menerima Surat Perintah 11 Maret sebagai upaya mengembalikan stabilitas negara.

Atas keberhasilan Soeharto ini, pada peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agutus 1966 Presiden Soekarno menyampaikan terima kasih kepada Jenderal Soeharto.

Jadi, kalau ada anak Soekarno yang malah menuding Soeharto dalam peristiwa G30S/PKI, silakan dengarkan kembali pidato Soekarno ini yang masih tersimpan videonya...

*Video Pidato Presiden RI Ir Soekarno 17 08 1966:

Linknya

https://youtu.be/-a7lMcfoKpA

MURKANYA BUNG KARNO ATAS KEPUTUSAN MUKTAMAR ULAMA 1957

Tulisan Ulama Besar BUYA HAMKA Untuk Menyegarkan Kembali Ingatan Kita Menyambut Tahun Baru 1439 Hijriah
======================

Mari kita segarkan kembali ingatan kita bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang benar itu tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya.  Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. 

Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi. semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang.  “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. 

Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.

Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :

1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya

2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.

3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu.  Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. 

Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. 

Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi. 

Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil.  Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno.  Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. 

Dan ulama yang dipandang kontra revolusi dan yang telah memutuskan komunis sebagai "paham kafir" sebagai pihak yang harus diperangi dan dihina dan setiap pidato dan setiap tulisan.  Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia.  Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya.  Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulamanya itu hampir sepuluh tahun lalu.

Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :

Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang  mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno?  Insya Allah para alim-ulama kita sudah dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. 

Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan. Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.

Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.

Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya.  Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah kurang dari 10 tahun yang lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319)

KEBIADABAN KOMUNIS/ PKI

1.Tegal dan sekitarnya
Kekejian pertama PKI yaitu pada penghujung tahun 1945, tepatnya Oktober. Di kota ini, ada seorang pemuda PKI di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, berjuluk Kutil (nama asli Sakyani), telah menyembelih seluruh pejabat pemerintah disana. Kutil juga melakukan penyembelihan besar-besaran di Brebes dan Pekalongan. Si Kutil mengarak Kardinah (adik kandung RA Kartini) keliling kota dengan sangat memalukan, syukurlah ada yg sempat menyelamatkan Kardinah, tepat beberapa saat sebelum Kutil memutuskan mengeksekusi Kardinah.

2. Kota Lebak, Banten
Kekejian datang dari Ce' Mamat, pimpinan gerombolan PKI dari Lebak (Banten) yg merencanakan menyusun pemerintahan model Uni Soviet. Gerombolan Ce' Mamat berhasil menculik dan menyembelih Bupati Lebak R. Hardiwinangun di jembatan sungai Cimancak pada tanggal 9 Desember 1945.

3. Jakarta, Oto Iskandar Dinata
Di selatan kampung melayu. Ingatlah kisah pembunuhan tokoh nasional Oto Iskandar Dinata yg dihabisi secara keji oleh laskar hitam ubel - ubel dari PKI, pada Desember 1945.

4. Sumatera Utara
Ternyata banyak menyimpan kisah miris. Sebab PKI juga menumpas habis seluruh keluarga (termasuk anak kecil) Istana Sultan Langkat Darul Aman di tanjung pura, pada Maret 1946, serta merampas harta benda milik kerajaan. Dalam peristiwa ini, putra mahkota kerajaan Langkat, Amir Hamzah (banyak dikenal sebagai penyair), ikut tertumpas. Tak ada lagi penerus kerajaan Langkat.

5. Di Sumatra, Pematang Siantar
PKI menunjukkan kebrutalannya. Pada 14 mei 1965, PKI melakukan aksi sepihak menguasai tanah-tanah negara. Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) melakukan penanaman secara liar di areal lahan milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi. Pembantu Letnan Dua yg sedang ditugaskan di perkebunan kebetulan menyaksikan aksi perilaku anggota PKI tersebut. Sudjono pun memberi peringatan agar aksi dihentikan. Anggota PKI bukannya pergi, justru berbalik menyerang dan menyiksa Sudjono. Akibatnya, Sudjono tewas dengan kondisi yg amat menyedihkan.

6. Berbagai kota di jawa timur
Kekejian di jawa timur, yaitu saat Gubernur Jawa Timur RM Soerjo, pulang dari lawatan menghadap Soekarno. Di tengah jalan, mobil Gubernur Soerjo bersama dua pengawalnya dicegat pemuda rakyat PKI, lalu diseret menggunakan tali sejauh 10 kilometer hinga meregang nyawa, lalu mayatnya dicampakkan di tepi kali.

7. Madiun
PKI menusuk dubur banyak warga desa Pati dan Wirosari (Madiun) dengan bambu runcing. Lalu, mayat mereka ditancapkan di tengah-tengah sawah, hingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah C diantaranya wanita, ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan ke tengah sawah.

8. Magetan
Algojo PKI merentangkan tangga melintang di bibir sumur, kemudian Bupati Magetan dibaringkan diatasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo mengggergaji badannya sampai putus dua, lalu langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

9. Kyai Sulaiman dari Magetan ditimbun di sumur Soco bersama 200 orang santri lainnya, sembari tetap berdzikir, pada September 1948.

10. Kisah Kyai Imam Musyid Takeran
Yang hilang tak tentu rimbanya, genangan darah setinggi mata kaki di pabrik gula Gorang Gareng, ayah dari Sumarso Sumarsono yang disembelih dibelakang pabrik gula, baru ketemu rangka tubuhnya setelah 16 tahun. Bahkan para PKI mengadakan pesta daging bakar Ulama dan santri di lumbung padi.

11. Kisah Isro
Yang sekarang menjadi guru di Jawa Timur. Ketika dulu masih berumur 10 tahun pada tahun 1965, Isro hanya bisa memunguti potongan-potongan tubuh ayahnya yg sudah hangus dibakar PKI di pinggir sawah dan hanya bisa dimasukkan ke dalam kaleng.

12. Blora
Pasukan PKI menyerang markas Kepolisian Distrik Ngawen pada 18 September 1948. Setidaknya, 20 orang anggota polisi ditahan. Namun, ada 7 polisi yg masih muda dipisahkan dari rekan-rekannya. Setelah datang perintah dari Komandan pasukan PKI Blora, mereka dibantai pada tanggal 20 September 1948. Sementara, 7 orang polisi muda dieksekusi secara keji. Ditelanjangi, kemudian leher mereka dijepit dengan bambu. Dalam kondisi terluka parah 7 orang polisi dibuang ke dalam kakus/jamban (WC) dalam kondisi masih hidup, baru kemudian ditembak mati.

13. Desa Kresek, Kecamatan wungu, Dungus
PKI membantai hampir semua tawanannya dengan cara keji. Para korban dtemukan dengan kepala terpenggal dan luka tembak. Di antara para korban, ada anggota TNI, polisi, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan Ulama.

14. Wonogiri, Jawa Tengah
Ternyata akrab dengan amis darah kekejian PKI yang menculik pejabat pemerintahan, TNI, Polisi, dan Wedana. Semua dijadikan santapan empuk PKI di sebuah ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomoyo. Saat itu PKI menyekap 212 orang, kemudian dibantai satu per satu dengan keji pada 4 Oktober 1948.

15. Kecamatan Kras, Kediri
Training Pelajar Islam Indonesia tanggal 13 Januari 1965, diserang oleh PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia). Massa komunis ini menyiksa dan melakukan pelecehan seksual terhadap para pelajar islam perempuan. Tidak hanya sampai disitu, massa PKI pun menginjak-injak al-Qur'an. Mereka pun memiliki pertunjukan Ludruk dari LEKRA dengan lakon "Matinya Gusti Allah", dan berbagai lakon lain yang biadap dan tak bisa dimaafkan.

16. Lubang Buaya Jakarta
Adalah bukti otentik aksi kejam PKI dengan Gerakan 30 September 1965. Tidak tanggung-tanggung 6 orang Jenderal (Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI MT Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI DI. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomiharjo), ditambah Lettu Piere Andries Tendean, dimasukkan kedalam sumur. Para Gerwani dan Pemuda Rakyat bersorak dan bergembira ria melihat para Jenderal dimasukkan ke dalam sumur lubang buaya di Jakarta Timur.

Semua negara Komunis di dunia ini melakukan pembantaian dan penyembelihan kepada rakyatnya sendiri.
500.000 rakyat Rusia dibantai Lenin (1917-1923),
6.000.000 petani kulak Rusia dibantai Stalin (1929),
40.000.000 dibantai Stalin (1925-1953),
50.000.000 penduduk rakyat China dibantai Mao Tse Tung (1947-1976)
2.500.000 rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979),
1.000.000 rakyat eropa timur diberbagai negara dibantai rezim Komunis setempat dibantu Rusia Soviet (1950-1980),
150.000 rakyat Amerika Latin dibantai rezim komunis disana,
1.700.000 rakyat diberbagai negara di Afrika dibantai rezim Komunis, dan
1.500.000 rakyat Afghanistan dibantai Najibullah (1978-1987).

Barangkali, jika waktu itu komunisme berhasil menguasai negeri ini, kita tak akan bisa membaca karya - karya sastra relijius milik Hamka, Taufiq Ismail, dan lain-lain. Karena, Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang dikomandani oleh Pramoedya Ananta Toer, sempat menuding Hamka sebagai plagiator atas novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Tekanan politik terhadap karya - karya non-komunis dilakukan oleh LEKRA. Hujatan-hujatan terhadap sastrawan anti-LEKRA terus dilakukan. Penyair Chairil Anwar (pelopor angkatan 45) juga digugat dan dinilai sudah tidak punya arti apa-apa. Bahkan, buku-buku sastra karya sastrawan anti-LEKRA dibakar.

Bagaimanapun, kelompok Palu Arit ini telah dua kali melakukan kudeta dengan keji. Mereka menyembelih para santri, para Kyai, para agamawan, para penjaga NKRI yg menolak paham kiri.

(Diambil dari buku Ayat - ayat yang Disembelih, Sejarah Banjir darah para Kyai, Santri, dan penjaga NKRI oleh aksi-aksi PKI. Penerbit Cordoba, tahun 2015. Anab Afifi dan Thowaf Zuharon).

KRONOLOGI SINGKAT PERISTIWA G30S PKI

(Hari ke 232)
Sukarno dan PKI Dalang Di balik Peristiwa G30S.

Peristiwa G30S berawal dari informasi yang dibawa oleh Subandrio dari Mesir pada tgl 15 Mei 1965 tentang adanya Dewan Jenderal (Dokumen Gilchrist). Sukarno menanggapi isu ini dgn serius. Pada tanggal 25 Mei 1965, Sukarno memanggil para Menteri Panglima Angkatan untuk meminta kejelasan tentang adanya Dewan Jenderal. Pada kesempatan tersebut, Letjen Ahmad Yani selaku Menpangad dengan tegas menyatakan bahwa Dewan Jenderal tidak ada, yang ada adalah Dewan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yang bertugas memberi masukan atau pendapat kepada Menpangad tentang kepangkatan dan jabatan Perwira Tinggi di tubuh angkatan darat. Bahkan Jenderal Nasution juga memastikan bila Dewan Jenderal memang tidak ada.

Merasa kurang puas dengan penjelasan Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution, Sukarnopun berusaha mencari kejelasan lebih lanjut. Sukarno memberi perintah pada Brigjen Sjafiudin (Pangdam Udayana) untuk mencari tahu nama-nama yang dimaksud, lalu didapat 9 nama.
Inilah ke 9 nama yang disodorkan Brigjen Sjafiudin :
1 Jenderal AH Nasution (Menko Pangap/KASAB),
2 Letjen Ahmad Yani (Menpangad),
3 Mayjen R Soeprapto (Deputy II Menpangad)
4 Mayjen MT Haryono (Deputy III Menpangad)
5 Mayjen S Parman (Asisten I Menpangad bidang Intelejen)
6 Mayjen Djamin Ginting (Asisten II Menpangad bidang Operasi)
7 Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Menpangad bidang Logistik)
8 Brigjen Sutoyo (Inspektur Kehakiman AD)
9 Brigjen Sukendro (Asintel Mayjen S Parman).

Akhirnya Sukarno memberi sinyal untuk menindak mereka tapi bulan berganti bulan tak ada perkembangan. Lalu atas bisikan PKI, Sukarno menemukan ide yang dianggapnya cemerlang (menurut pikirannya berdasarkan pengalaman Lenin, Stalin, Mao Tse). Berdasarkan rekomendasi dari Brigjen Sabur, Sukarno memberi perintah kepada Letkol Untung  untuk menindak para Jenderal. Ditentukanlah tanggalnya dan dipilihlah bulan Oktober dgn alasan Sukarno ingin mensejajarkan diri dengan Sovyet dan China yang sudah lebih dahulu terkenal dengan Revolusi Oktobernya. Dalam beberapa kesempatan Sukarno selalu menyebut peristiwa G30S  dengan istilah “GESTOK”. Sukarno menolak penggunaan istilah Gestapu atau G30S.

Sesuai perencanaan, Operasi penindakan para jenderal mulai dijalankan. Supply persenjataan diperoleh dari Marsekal Oemar Dhani yang merupakan Menpangau waktu itu. (TNI AU baru melaporkan kehilangan senjata setelah senjata-senjata tersebut disita lewat pertempuran di wilayah Lubang Buaya).

Berdasarkan kesaksian keluarga para jenderal yang menjadi korban, ternyata pada malam kejadian telepon selalu berdering tiap jam hanyak untuk menanyakan keberadaan para jenderal, apakah ada di rumah atau tidak. Pada dini hari pukul 4.00 Wib operasi penindakan para jenderal pun dijalankan. Satu persatu para jenderal diculik dari rumah mereka masing-masing.

Namun operasi penindakan para jenderal ini Gagal Total karena ternyata Nasution berhasil meloloskan diri. Walau tahu kalo operasi penindakan para jenderal Gagal, namun operasi tetap dijalankan. Pada pagi harinya Letkol Untung mengumumkan berita sebaliknya melalui RRI. Letkol Untung memberitakan kesuksesan Dewan Revolusi menghabisi para jenderal yang dianggap menghalangi Revolusi yang dicanangkan Sukarno. Pengumunan ini ternyata mendapat sambutan diberbagai daerah, seperti Jogjakarta, dimana Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono diculik dan dibunuh. Bahkan dibeberapa daerah, para anggota PKI dan simpatisan PKI mulai menebar ancaman yang membuat rakyat menjadi kian ketakutan.

Dalam persembunyiannya, jenderal Nasution mengakui kalo dirina merasa gamang dalam menentukan siapa kawan dan siapa lawan yang sebenarna. Akhirnya Nasution memilih KOSTRAD sebagai tempat berlindung walau diketahui sebetulnya sebagai Benteng Pengendali Keamanan Ibukota adalah KODAM JAYA.

Menjelang sore sekitar pukul 4 lewat akhirnya jenderal Nasution masuk ke Markas KOSTRAD. Jenderal Nasution pun memberi perintah kepada Mayjen Suharto untuk mengambil alih komando TNI AD. Menindak lanjuti perintah jenderal Nasution, Mayjen Suharto mengirim telegram ke seluruh Kodam memberitahukan tentang selamatnya jenderal Nasution dan memerintahkan untuk bersiaga penuh. Mayjen Suhartopun memberi perintah kepada Kolonel Sarwo Edhie untuk segera merebut RRI dan menguasai Halim (daerah Lubang Buaya yang merupakan tempat pelatihan militer para Pemuda Rakyat). 

Sejarah mencatat, dari 3 Menteri Panglima yang tersisa hanya Menpangal Laksamana RE Martadinata yang menjenguk Jenderal Nasution saat berada di Kostrad pasca kejadian. Usai mendengar kesaksian Jenderal Nasuton, Laksamana RE Martadinata menyatakan sikap TNI AL yang mendukung TNI AD untuk melawan PKI. Namun sayang, sikap ini justru membuat karier militernya tamat, karena pada tgl 21 Februari 1966, Laksamana RE Martadinata dicopot jabatannya sebagai Menpangal.

Ternyata selamatnya Jenderal Nasution waktu itu, menjadi petaka bagi Sukarno dan PKI, apalagi saat ditangkap, Letkol Untung memberi daftar 60 nama prajurit Cakrabirawa yang terlibat langsung. Harap diingat, pada malam peristiwa Letkol Untung memberi memo kepada Sukarno saat seminar para Arsitek. Setelah membaca memo tersebut Sukarno menyelipkan ucapan yang dikutip dari kisah Ramayana/Mahabrata tentang membunuh saudara kandung demi pencapaian tujuan. 

Perlu diketahui, sehari sebelum peristiwa terjadi ternyata Sukarno sudah menjanjikan posisi Menpangad kepada Mayjen Mursjid yang merupakan orang nomor 2 di Kemenpangad waktu itu. Mayjen Mursjid adalah Deputy I Menpangad yang tidak turut menjadi target saat itu padahal Deputy II dan Deputy III turut menjadi korban saat itu.

Para Antek-antek PKI yang berkedok Sukarnois mencoba memelintir peristiwa G30S dengan mengabaikan “Selamatnya” Jenderal Nasution. Padahal beliaulah yang membuat semua skenario dan rencana Sukarno menjadi berantakan. Lalu tindakan Sukarno yang justru mencopot jabatan Jenderal Nasution dari jabatannya sebagai Menko Pangap/ Kasab, semakin memperkuat kecurigaan akan keterlibatan Sukarno. Tindakan pencopotan ini seolah menunjukan kalo Sukarno Gak Suka kalo Nasution berhasil selamat.

Pasca peristiwa pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya, situasi Eskalasi politik di Indonesia semakin memanas. Rakyat mulai turun ke jalan menuntut pembubaran PKI tapi Sukarno seolah tak bergeming membela keberadaan PKI. Bahkan saat berpidato di depan Front Nasional tanggal 13 Februari 1966, di daerah Senayan, Sukarno kembali dengan lantang memuji PKI dengan mengatakan, “Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI”.

Mendengar pidato Sukarno yang keukeuh membela PKI, tuntutan mahasiswa dan rakyat semakin menguat untuk melengserkan Sukarno. Menghadapi tuntutan mahasiswa dan rakyat yang semakin meluas, akhirnya Sukarno mengeluarkan SP 11 Maret ditahun 1966, yang isinya memerintahkan Letjen Suharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat untuk segera mengendalikan situasi dan keadaan dengan mengambil tindakan yang dianggap perlu demi menjaga keamanan dan kestabilan pemerintahan. Namun Sukarno cukup cerdik dengan menyelipkan perintah untuk menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya. Sukarno menyelipkan perintah menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya dengan menyematkan berbagai gelar yang disandangnya. Berdasarkan SP 11 Maret, Letjen Suharto mulai mengadakan pembersihan atas unsur-unsur PKI di pemerintahan termasuk menangkapi beberapa menteri dan pejabat yang terlibat PKI. Tindakan Letjen Suharto mendapat kritikan dari Sukarno yang ditanggapi Suharto dengan memasang dirinya sebagai tameng untuk menjaga nama baik Sukarno.

Pasca terbitnya SP 11 Maret, situasi keamanan Negara mulai kondusif dan terkendali. Gejolak demontrasi anti pemerintah mulai mereda. Namun situasi kembali memanas saat Sukarno mengawini gadis belia, Heldy Jaffar yang berusia 18 tahun dibulan Mei 1966. Perkawinan ini menjadi puncak kemarahan rakyat dan menjadi bukti “Ketidak Pedulian” Sukarno terhadap kondisi dan situasi Negara. Rakyat melihat ternyata Sukarno lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibanding kepentingan Bangsa dan Negara. Akhirnya tuntutan rakyat dijawab oleh MPRS yang diketuai oleh Jenderal AH Nasution. Pada bulan Juni 1966, Sukarnopun diseret ke SU MPRS untuk dimintai pertanggung jawaban. Inilah awal kejatuhan Sukarno dimana 2 nota pembelaannya yang diberi judul Nawaksara I dan II ditolak oleh MPRS. Mandat Sukarno sebagai Presidenpun dicabut MPRS pada bulan Maret 1967. Selanjutnya MPRS memilih dan mengangkat Letjen Suharto sebagai Plt Presiden. Terlukis kesan ketidak relaan di wajah Sukarno atas pencopotan dirinya dari kedudukan Presiden.
Berdasarkan Tap MPRS no 33 tahun 1967, MPRS memerintahkan kepada Plt Presiden, Jenderal Suharto untuk melakukan proses hukum kepada Sukarno sesuai ketentuan hukum yang berlaku, namun Suharto hanya mengenakan status Tahanan Rumah tanpa pernah berusaha mengajukan Sukarno untuk diadili. Mikhul Dhuwur Mendhem Jero menjadi alasan Suharto agar Bangsa Indonesia tidak memperlakukan Sukarno seperti pesakitan/ pecundang. Sikap Suharto ini dipertegas degan pidatonya di depan Sidang MPRS pada tahun 1968, agar kita lebih baik mencurahkan tenaga dan pikiran dalam menghadapi masa depan bangsa Indonesia dibanding mempermasalahkan masa yang lalu.

Pada kenyataannya, Suharto memang tidak pernah mengajukan Sukarno ke depan sidang pengadilan manapun. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1986 Suharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Sukarno dan Hatta. Mendirikan Tugu Proklamasi untuk menghormatinya serta menyematkan nama Sukarno-Hatta pada nama Bandara Internasional Indonesia. Dan terakhir, Suharto menyematkan foto Sukarno-Hatta pada lembaran uang kertas Rp.100.000,-

NB : 2 Nama dari 9 nama jenderal yang menjadi target operasi berhasil selamat karena pada malam kejadian tidak berada di tempat/ di rumah. Mayjen Djamin Ginting berada di Medan saat peristiwa terjadi. Brigjen Sukendro berada di luar Jakarta saat peristiwa terjadi. Pasca peristiwa, Mayjen Djamin Ginting turut berlindung di Markas Kostrad bersama Jenderal AH Nasution.

Kronologis Kejadian G30S diatas ditulis oleh  beberapa mantan aktivis 66. Bagi Buzzer JASMEV/ PROJO dan Orang-orang yang Sok Ngaku Sukarnois, saya persilahkan untuk membantah Kronologis di atas dengan cara menulis Kronologis Kejadian sebagai pembandingnya. Saya persilahkan kalian untuk memasukan semua tuduhan kalian kepada pak Harto, tapi saya ingatkan untuk tidak melupakan situasi selamatnya jenderal Nasution yang berlindung ke Markas Kostrad waktu itu. Bila kalian masih tidak mampu untuk menuliskannya maka berarti kronologis yang ditulis para mantan aktivis 66 di atas adalah BENAR dan TIDAK TERBANTAHKAN.