Minggu, 22 Oktober 2017

FILOSOFI BILANGAN DALAM BAHASA JAWA

Dalam bahasa Indonesia ;
21 = Dua Puluh Satu
22 = Dua Puluh Dua...s/d.
29 = Dua Puluh Sembilan

Dalam bahasa Jawa tidak dinamakan Rong Puluh Siji (21), Rong Puluh Loro (22),... dst, melainkan... Selikur (21), Rolikur (22), .... s/d  Songo Likur (29).

Di sini terdapat satuan likur yang  merupakan kependekan dari Lingguh KURsi, artinya duduk di kursi. Pada usia 21-29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan tempat duduknya,  pekerjaannya, profesi yang akan  ditekuni dalam kehidupannya ...

Ada penyimpangan pada Bilangan 25, tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe.

Selawe ; (SEneng-senenge  LAnang lan WEdok). Puncak asmara laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh Pernikahan. Maka pada usia tersebut pada umumnya orang menikah (dadi manten).

Ada penyimpangan lagi pada bilangan 50, setelah Sepuluh, Rong Puluh (20), Telung Puluh (30), Patang Puluh (40), mestinya  Limang Puluh (50). Tapi 50 diucapakan menjadi Seket. Seket (SEneng KEthunan); suka memakai Kethu/ tutup kepala, Topi/ Kopiah. Tanda usia semakin lanjut. Tutup kepala bisa untuk menutup botak atau rambut yang memutih karena semirnya habis.... Di sisi lain bisa juga kopiah atau tutup kepala melambangkan orang yang seharusnya sudah lebih taat beribadah...!! Pada usia 50 tahun mestinya seseorang seharusnya lebih memperbanyak ibadahnya dan lebih berbagi untuk bekal memasuki kehidupan akherat yang kekal dan abadi...!!

Dan kemudian masih ada satu bilangan lagi, yaitu 60, yang namanya menyimpang dari pola, bukan Enem Puluh melainkan sewidak atau suwidak. Sewidak (SEjatine Wis wayahe TinDAK).
Artinya? Sesungguhnya sudah saatnya pergi, sudah matang....
Harus sudah siap dipanggil menghadap Tuhan.

Semoga  bermanfaat dan semoga kita tetap sehat dan semangat walau mendekati/ nyaris suwidak....
👍🏻👍🏻💪🏻💪🏻

Tidak ada komentar:

Posting Komentar